SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Untuk meningkatkan adab dan potensi kecakapan hidup anak-anak, Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang akan launching ekstrakurikuler keputrian khusus anak-anak SDN di kelas V hingga VI di seluruh Kabupaten Tangerang pada Senin (21/4) mendatang.
Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah mengatakan, bahwa ekstrakurikuler keputrian merupakan ekstrakurikuler pertama ada di Provinsi Banten. Dimana, kegiatan program ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas adab kecakapan anak sejak dini di tingkat SD kelas V dan VI.
“Ini perdana di Provinsi Banten. Bahkan, untuk di tingkat sekolah negeri menjadi perdana di Indonesia. Dan, ini akan dilaunching bertepatan dalam memperingati hari Kartini besok (Senin, 21/4) di GSG Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang,” kata Intan Nuril Hikmah kepada Satelit News, Minggu (20/4).
Lanjut Intan, kegiatan ekstrakurikuler ini akan menanamkan beberapa nilai adab dan kecakapan hidup kepada anak-anak, khususnya perempuan. Diantaranya, etika adab, kecakapan hidup, kewirausahaan, perilaku hidup bersih sehat, psikologi remaja, dan memahami manajemen kebersihan menstruasi.
“Jadi ada enam point yang akan ditanamkan dalam ekstrakurikuler ini. Kegiatan ekstra kulikuler ini, agendanya akan direalisasikan oleh pihak sekolah setiap Hari Jum’at, dimana ketika anak laki-laki sedang melakukan ibadah sholat Jum’at bagi sekola IT, dan untuk sekolah negeri anak laki-laki sudah pulang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang SD, pada Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Dily Windu menambahkan, untuk point pertama yaitu etika dan adab, tentunya anak-anak akan diajari caranya menjadi manusia yang beretika dan beradab. Tentunya ini sangat diperlukan untuk meminimalisir terjadinya bulying di sekolah-sekolah.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Dorong UMKM Segera Urus Sertifikasi Halal
“Jadi si anak diberi pemahaman untuk saling menghargai sesama manusia. Cara berbicara yang baik dan sopan, cara menghargai temannya, orang tua, dan manusia lainnya,” kata Dily.
Lanjut Dily, untuk point kedua yaitu kecakapan hidup. Anak-anak akan dibekali ilmu-ilmu penting non akademik, untuk meningkatkan kedisiplinan, dan kepekaan terdahap lingkungan sekitar. Sehingga, dapat menjadi anak menjadi lebih mandiri dan dapat membantu orang tuanya di rumah.
“Anak sekarang kan kebanyakan lebih pandai memegang handphone dibanding pegang sapu. Maka, nanti diajarkan bagaimana cara bersihkan rumah, bersihkan tempat tidur, nyetrika atau beresin baju,” katanya.
Ketiga, tentang kewirausahaan, tetapi bukan berarti anak diajari berjualan. Namun, lebih tepatnya diajari untuk membuat karya yang berpotensi untuk memiliki nilai ekonomi. Seperti, merajut atau menyulam, mempelajari IT atau AI, dan sebagainya. Sehingga hasil karyanya bisa menjadi nilai ekonomi juga.
“Bukan disuruh jualan kewirausahaan, itu artinya anak-anak disuruh berkolaborasi. Zaman dulu waktu pelajaran PKK kita ingat, bahwa belajar menyulam di sekolah, kalau anak zaman sekarang kan tidak ada kurikulum itu dari pusat,” katanya.
Keempat, terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Tentunya, ini sangat bermanfaat sekali, efeknya bisa meminimalisir sampah, karena si anak diajari sejak dini untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi lingkungan kotor yang berakibat terhadap banyaknya nyamuk demam berdarah.
Baca Juga: 200 PKL Jalan Kiasnawi Tangerang Direlokasi Mulai 14 Oktober 2026
“Dan ini tentunya membuat si anak menjadi lebih disiplin dan menghargai lingkungan. Dengan begitu, Insya Allah akan tercipta anak-anak yang sehat dan mandiri juga,” katanya.
Untuk point kelima dan enam, yaitu psikologi remaja dan memahami manajemen kebersihan menstruasi. Hal ini dinilai penting diajarkan sejak kelas V dan VI SD.
Pasalnya, anak-saat ini di usia itu sudah menjadi remaja, akibat banyaknya yang sudah mengalami menstruasi. Dily menilai, hal itu disebabkan pola makan anak saat ini berbeda dengan zaman dahulu, khususnya anak-anak 80 atau 90-an.
“Karena kelas 5 dan 6 hitungannya sudah remaja. Dulu kita remaja putri mendapatkan menstruasi pertama tuh SMP kelas 2, tetapi saat ini banyak anak SD kelas 5 dan 6 sudah menstruasi, mungkin karena efek makanan,” katanya.
Hal ini perlu diajarkan kepada mereka, karena banyak anak-anak SD kelas 5 dan 6 yang menstruasi ini, belum memahami cara pemakaian tampon, cara pencuciannya bagaimana, efek menstruasi itu apa, dan sebagainya. Kata Dily, pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, DP3A, Unicef Indonesia, dan BPMP Provinsi Banten, dari Balai Guru Penggerak selaku supervisor dalam penyusunan buku ekstrakurikuler tersebut.
“Nah anak-anak nanti diajarin pakai tampon seperti ini, cara pencucian seperti ini, untuk anak-anak yang baru puber begini, jadi ceritanya kan belum ada yang bahas, jadi ini inovasi dari bupati dan wakil bupati,” katanya.
Menurut Dily, ekstrakurikuler keputrian ini wajib bagi Sekolah Dasar (SD) se Kabupaten Tangerang. Baik negeri maupun swasta, untuk pelaksanaan, tidak diharuskan setiap hari Jum’at, tetapi dapat lebih fleksibel, bisa di hari apapun yang terpenting harus direalisasikan di seluruh SD di Kabupaten Tangerang.
“Tentunya bisa dilaksanakan di hari-hari lain terserah mereka sebetulnya. Yang penting, dalam satu minggu harus dilakukan satu hari itu,” tegasnya. (alfian)





















