SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Diabetes melitus (DM), atau yang lebih dikenal sebagai kencing manis, bukan hanya soal lonjakan kadar gula darah. Penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi serius, salah satunya adalah Diabetic Foot atau kaki diabetik. Kondisi ini menjadi salah satu masalah umum yang dialami oleh penderita diabetes dan bisa berdampak fatal jika tidak segera ditangani.
Menurut Dokter Spesialis Bedah vaskular & Endovaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Sendi Kurnia Tantinius, Diabetic foot adalah komplikasi serius yang sering muncul pada penderita diabetes melitus. Kondisi ini ditandai dengan luka, infeksi, atau kerusakan jaringan di kaki akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol.
“Diabetic foot terjadi karena kombinasi faktor neuropati (kerusakan saraf), gangguan aliran darah, dan infeksi. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangren dan berisiko amputasi,” ujar dr. Sendi Kurnia dalam keterangan tertulis kepada satelitnews.com, Jumat (16/5/2025).
Menurut dr. Sendi, diabetic foot terjadi akibat kombinasi beberapa faktor. Pertama, neuropati diabetik yaitu menyebabkan hilangnya sensasi di kaki, sehingga luka kecil tidak terasa.
Kedua, gangguan sirkulasi darah, diabetes menyebabkan penyempitan pembuluh darah, memperlambat penyembuhan luka.
Ketiga, infeksi, yaitu luka kecil yang tidak segera ditangani bisa berkembang menjadi infeksi berat.
Keempat, tekanan berlebih pada kaki, yakni sepatu yang tidak nyaman atau posisi berjalan yang salah dapat memperburuk kondisi luka.
Lanjut dr. Sendi Kurnia, beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain kesemutan dan mati rasa pada kaki, nyeri yang tidak biasa, pembengkakan pada area kaki, dan perubahan warna kulit menjadi lebih gelap di area yang terinfeksi.
“Gejala seperti kesemutan dan mati rasa sering kali diabaikan oleh penderita diabetes. Padahal, ini bisa menjadi tanda awal adanya kerusakan saraf yang berpotensi berkembang menjadi Diabetic Foot,” jelasnya.
Pihaknya juga mengungkapkan bahwa diabetic foot memiliki 5 tahapan. Pertama, derajat 0: kaki normal tanpa faktor risiko. Kedua, derajat 1 dan 2: pasien dengan ulkus superfisial (luka dangkal). Ketiga, derajat 3: terdapat infeksi dengan abses jaringan lunak dan osteomyelitis (infeksi tulang). Keempat, derajat 4 dan 5: kerusakan jaringan yang ireversibel, sehingga pasien membutuhkan amputasi parsial atau seluruh kaki.
Menurutnya, semakin tinggi derajatnya, semakin serius kondisi yang dialami. Oleh karena itu, deteksi dini dan perawatan yang tepat sangat penting untuk mencegah kondisi semakin parah.
Perawatan diabetic foot melibatkan pendekatan multidisiplin, mulai dari pemeriksaan kaki secara rutin, menggunakan sepatu yang nyaman dan sesuai ukuran, menjaga kebersihan kaki secara menyeluruh dan mengontrol gula darah secara ketat.
Berikut ini beberapa metode yang dilakukan untuk menangani diabetic foot. Pertama, debridemen luka yakni membersihkan jaringan mati atau terinfeksi untuk mencegah penyebaran infeksi. Kedua, terapi oksigen hiperbarik yakni membantu mempercepat penyembuhan luka dengan meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Ketiga, penggunaan sepatu khusus yakni, untuk mengurangi tekanan pada luka. Serta, keempat, intervensi vaskular, yakni jika terjadi penyumbatan pembuluh darah, diperlukan tindakan seperti angioplasti atau operasi bypass untuk melancarkan aliran darah.
Direktur Bethsaida Hospital, dr. Pitono, menjelaskan bahwa Klinik Bedah Vaskular dan Endovaskular di Bethsaida Hospital, telah dilengkapi dengan fasilitas dan layanan yang memadai, untuk menangani berbagai kasus vaskular.
Baca Juga: Sambut HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, EcoSuLe Siap Tebar 10.000 Liter Eco Enzyme di Sungai
“Kami memiliki tim dokter spesialis yang berpengalaman, dan peralatan medis yang diperlukan untuk memberikan penanganan yang sesuai dengan standar medis. Layanan kami dirancang untuk membantu pasien dengan gangguan vaskular mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif,” ujarnya. (aditya)





















