SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Tidak banyak yang tahu di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ada bangunan saksi bisu sejarah perkeretaapian yang masih berdiri kokoh yaitu, bangunan eks Stasiun Labuan lengkap dengan jalur rel dan jembatan kereta api atau sering disebut Viaduk.
Berdasarkan informasi dan hasil penelusuran wartawan satelitnews.com, viaduk yang terletak di Kampung Baleker, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Untuk diketahui, secara etimologis kata viaduk berasal dari bahasa Latin. Viadauct yang artinya melalui jalan atau menuju sesuatu arah. Sedangkan dari maknanya, merupakan sebuah jembatan atau jalan di atas jalan raya, jalan kereta api, di atas lembah atau sungai yang lebar.
Nah Viaduk Baleker ini, berada tepat di bawah jembatan yang membentang di Jalan Raya Labuan – Carita, Kabupaten Pandeglang. Tak ada penanda apapun di sana, sehingga pengendara yang melewatinya seringkali tidak sadar kalau di bawah jembatan yang mereka lintasi ada viaduk kereta api.
Dikutip dari buku kereta api di Pandeglang terbitan Balai Arkeologi Jawa Barat, jembatan ini melintas pada jalur rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Labuan dengan Stopplaast Kalumpang.
Panjang jembatan sekitar 18 meter, dengan lebar 6 meter. Tiang penopang jembatan berbentuk persegi, dengan lebar 1,50 m dan panjang 5,50 m, sehingga di bawah jembatan membentuk tiga lorong memanjang dengan langit-langit berbentuk setengah lingkaran.
Menurut keterangan Johani (70), warga setempat, Viaduk Baleker sering disebut sebagai jembatan Gunggurung oleh warga lokal. Kata dia, nama itu berasal dari kata Gunggurung yang dalam dialek Sunda Banten artinya adalah selokan besar yang ada jembatannya. Bisa disimpulkan, Gunggurung adalah sebutan lokal untuk kata Viaduk.
Kata Johani atau dikenal dengan panggilan Enjoh, dulu di bagian atas struktur lengkungan pada Viaduk Baleker ada semacam plakat yang tertulis 1905. Ia menduga, itu adalah keterangan waktu awal pembangunan struktur jembatan Viaduk tersebut.
Keterangan Enjoh itu, kami kroscek dan kemungkinan benar karena dari buku Kisah Peninggalan Kereta Api Banten terbitan Pusat Data Informasi, dan Kepustakaan Kereta Anak Bangsa diketahui, jalur kereta api Rangkasbitung – Labuan sepanjang 56 km mulai dibuka dan beroperasi pada 18 Juni 1906. Artinya, butuh waktu satu tahun pembangunan Viaduk tersebut, sampai dapat digunakan.
Dari buku itu diketahui, jalur dari Rangkasbitung menuju Labuan melalui beberapa stasiun dan halte sebagai berikut: Warunggunung, Tjibuah, Pasirtangkil, Pandeglang, Tjibiuk, Tjimenjan, Kadukatjang, Sekong, Tjipeutjang, Tjikaduwen, Saketi, Sodong, Kenanga, Menes, Babakanlor, Kalumpang dan Labuan. Stasiun yang utama di jalur ini adalah Stasiun Rangkasbitung, Pandeglang, Saketi, Menes dan Labuan.
Stasiun KA Rangkasbitung tergolong stasiun besar, stasiun ini menjadi
persimpangan jalur menuju Merak, Jakarta dan Labuan. Pada masa lalu, di area stasiun ini juga berdiri Dipo Lokomotif Uap.
“Waktu saya masih remaja, saya sekolah ke Rangkasbitung naik kereta. Biasanya barengan dengan kami anak sekolah, penumpang kereta api saat itu adalah para pedagang sayuran genjer, jantung pisang serta para pedagang ikan asin dan ikan pindang, yang mau menjajakan dagangannya ke Rangkasbitung atau bahkan ke Tangerang dan Jakarta”, tutur Enjoh, menceritakan situasi di dalam kereta api rute Labuan – Rangkasbitung, pada masanya.
Ia mengaku, tak ingat persis berapa harga tiket namun besarannya tidak sampai 100 perak.
“Maklum, kami anak sekolah kadang digratiskan sama bapak kepala stasiun yaitu, Bapak Senen dan bapak kondektur kereta api Mas Sugalimin,” ujar Enjoh, sambil menambahkan kedua petugas kereta api itu adalah para perantau asal Jawa Tengah.
Enjoh juga mengingat, di era dia, kereta api dari Labuan ada dua keberangkatan. Yaitu subuh dan setelah dzuhur.
Dari pantauan kami di lokasi, baleker kondisinya saat ini tidak terawat karena area yang dahulu merupakan rel, sudah tertimbun oleh tanah. Di sepanjang area rel itu, dari Kampung Baleker hingga Stasiun Labuan yang berada di Kampung Listrik, sudah berjajar rumah-rumah penduduk sehingga sebagian besar besi relnya sudah tidak tampak.
Area lengkungan viaduk juga, sudah dipenuhi oleh semak-semak belukar sehingga keindahan struktur bangunannya hampir tidak terlihat. Tidak ada papan penanda atau keterangan, yang dipasang di lokasi tersebut walaupun bangunan itu bisa dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya.
Barang siapa yang ingin mengunjunginya, juga akan kesulitan karena di bagian atas jembatan atau di Jalan Raya Labuan tidak ada penanda lokasi. Hanya ada tulisan, berlambang dinas pekerjaan umum di badan jembatan dengan tulisan jembatan viadauct, Km 155 Jakarta, yang menandakan bahwa lokasi tersebut letaknya 155 km dari ibukota Jakarta.
Paling, untuk yang mau mengunjunginya, maka bisa berpatokan bahwa lokasi tersebut berada di sebelum SPBU pertama ketika kita memasuki perkotaan Kecamatan Labuan. Lokasi tepatnya berada di RT 11 RW 04, Kampung Baleker, Desa Sukamaju,Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Berdasarkan pengakuan beberapa warga dan sumber yang ditemui, jalur rel Kereta Api Labuan – Rangkasbitung ditutup pada tahun 1984, karena kalah bersaing dengan angkutan daratainnya di jalan raya.
“Kami harap, masyarakat dan pemerintah masih dapat terus memelihara keberadaan bekas jalur Kereta Api (KA) Labuan -: Rangkasbitung, sebelum nantinya akan direaktivasi oleh PT KAI bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, dengan membuka jalur baru,” tutur Oni, seorang warga.
Diakuinya, selain besi jalur. Masih banyak lagi benda – benda penanda atau bukti keberadaan jalur KA Labuan – Rangkasbitung kala itu. Seperti eks bangunan rumah kepala stasiun, water torn alias menara air untuk kereta uap sama keran spoor, untuk alirin airnya dari menara ke kuali uap di lokomotif, serta benda lainnya. (mardiana)