SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Adanya penumpukan sampah di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang hingga hampir memakan setengah badan jalan beberapa waktu lalu bukan disebabkan ketiadaan tempat sampah maupun kurangnya armada pengangkut. Namun persoalan ini lebih diakibatkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak buang sampah secara sembarangan.
Seorang pedagang di Pasar Rubuh Cipondoh Mursalih, menuturkan, minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah secara tertib serta lemahnya sistem pengelolaan sampah membuat tumpukan sampah seolah kembali terulang.
“Sebenarnya bukannya enggak tertampung. Di dalam itu masih kosong. Tapi orang-orang malah buangnya di depan. Kadang-kadang habis dibersihin sama petugas, mobil udah angkut, bersih. Tapi yang buang itu enggak ke dalam, langsung ditaruh di pinggir. Lama-lama numpuk lagi dan nutup jalan buat masuk ke dalam tempat sampah,” ujar Mursalih saat ditemui SatelitNews.Com di kios dagangannya, Senin (19/5/2025).
Menurutnya penumpukan ini terjadi karena pola yang salah terus terulang. Ketika satu orang membuang di pinggir, orang lain pun mengikuti. “Jadi bukannya tempatnya enggak cukup, tapi tertutup di depan. Jadinya yang di dalam kosong, tapi enggak bisa dimasukin karena udah ketutup sama sampah,” ujarnya.
Sampah yang menumpuk itu kerap menyebabkan gangguan lalu lintas. Badan jalan yang seharusnya bisa digunakan untuk kendaraan justru tertutup oleh tumpukan kantong plastik dan berbagai jenis limbah lainnya. Terlebih saat hujan turun, kondisi menjadi semakin membahayakan. “Kalau sudah hujan, sampah itu kan isinya macem-macem. Plastik, sisa makanan, barang-barang licin. Jadi waktu kena air, licin banget. Banyak pengendara motor yang jatuh gara-gara lewat sini,” keluh Mursalih.
Ia juga menyayangkan tidak adanya petugas yang mengatur proses pembuangan sampah seperti yang pernah dijalankan sebelumnya. Dulu menurutnya ada petugas inisiatif, warga yang bertugas memastikan sampah dibuang secara teratur ke dalam lokasi penampungan, dengan gaji yang dibayarkan secara kolektif oleh warga per-RW. Namun sekarang, sistem itu sudah tidak berfungsi lagi.
Baca Juga: Musim Kemarau, Masyarakat Kota Tangerang Diminta Tak Bakar Sampah
“Dulu pernah dibentuk tim buat ngatur pembuangan, jadi orang-orang buangnya diatur sampai ke dalam. Itu dibayar kolektif sama warga. Tapi sekarang udah enggak jalan. Jadi enggak ada yang ngatur, orang bebas buang di mana aja,” jelasnya.
Ia mengapresiasi keberadaan truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang yang menurutnya datang setiap hari. Namun, jumlah truk yang tersedia sering kali tidak cukup untuk mengangkut volume sampah yang datang, terutama karena banyaknya pihak luar yang juga membuang sampah di sana. “Truk dari pemerintah sih tiap hari ada. Tapi misalnya sampah yang datang ada buat tiga truk, yang diangkut cuma dua. Sisanya tetap numpuk. Nanti besok datang lagi, tambah lagi. Jadi tiap hari numpuk terus,” kata dia.
Lebih lanjut, Mursalih menyebut bahwa sebagian besar sampah bahkan bukan berasal dari warga setempat, melainkan dari orang-orang luar yang kerap membuang secara sembarangan, terutama pada malam hari. “Banyak yang buang itu bukan warga sini. Kalau malam suka ada yang datang dari mana-mana, bawa plastik, terus langsung dilempar ke sini. Kita juga enggak tau mereka dari mana,” ujarnya.
Kondisi ini sangat meresahkan, terlebih bagi para pedagang yang berada di sekitar lokasi. Selain menimbulkan bau yang menyengat, penumpukan sampah juga berdampak pada kenyamanan pengunjung pasar dan menurunkan minat pembeli untuk datang. Dalam jangka panjang, hal ini tentu merugikan pendapatan pedagang.
“Kadang-kadang tiga sampai empat hari enggak diangkut, apalagi pas musim hujan. Bau banget, karena nguap. Kita yang dagang di sini kan ngerasain langsung. Harusnya setiap hari diangkut. Kalau rutin, ya enggak numpuk kayak gini,” ujarnya.
Mursalih berharap ada langkah konkret dari pemerintah maupun masyarakat untuk menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh. Ia menyarankan agar sistem pengawasan pembuangan sampah dihidupkan kembali, serta warga diberikan edukasi agar tertib membuang sampah ke tempat yang benar.
Baca Juga: Giliran TPS Ilegal di Benda Ditertibkan DLH Kota Tangerang
“Harapannya sih ya jangan numpuk terus tiap hari. Harusnya bisa dibenahi. Kalau masyarakat juga tertib, kan enggak begini. Dan kalau sistem pengangkutannya lebih maksimal, mungkin enggak bakal ganggu jalan dan bikin kecelakaan,” ujarnya.
Untuk saat ini, ia hanya bisa berharap bahwa setiap tumpukan yang ada segera diangkat agar tidak terus-menerus mengganggu aktivitas warga dan membahayakan para pengguna jalan. “Kalau bersih kayak gini kan enak ya. Kita kerja juga nyaman, pembeli datang juga tenang. Tapi ya itu, baru sehari bersih, besok udah numpuk lagi. Itu aja terus yang terjadi,” pungkasnya. (mg01)
























