SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Jembatan penghubung yang berada di Jalan Villa Tomang Baru Selatan, tepat di perbatasan Kota dan Kabupaten Tangerang, dikeluhan warga dan pengguna jalan. Jembatan yang menghubungkan dua wilayah administrasi tersebut, dinilai menjadi salah satu titik kemacetan, khususnya saat jam sibuk dan musim hujan.
Zainal, warga asal Serang yang sudah berjualan di sekitar lokasi sejak tahun 2013 silam, menyampaikan kemacetan sering terjadi pada pagi dan sore hari, terutama saat buruh pabrik berangkat dan pulang kerja.
“Kalau hujan, macet. Terutama, pas jam berangkat atau pulang kerja, buruh-buruh itu bikin padat,” ujar Zainal, saat ditemui di warung kelontong miliknya, Sabtu (24/5/2025).
Zainal juga bercerita, ia mulai membuka usaha pada 2013 setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari sebuah pabrik kompor, pada tahun 2008. Ia menyoroti, perubahan ketinggian jembatan dalam beberapa tahun terakhir justru memperburuk kondisi lalu lintas.
“Dulu mah enggak setinggi itu. Sekarang tanjakannya curam, mobil-mobil suka enggak kuat nanjak. Kayak kemarin tuh, ada aja mobil yang mundur sendiri, mobil losbak lagi bawa angkutan barang,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Budi, seorang pengendara yang rutin melintasi jembatan kedua di Jalan Jawa, yang biasa disebut warga sebagai Jembatan Sunrise Sunset.
Baca Juga: DPRD Kota Tangerang Minta Jalan Raya Perancis Diperbaiki
“Iya, saya biasa lewat situ. Tajam banget jembatannya,” ucapnya.
“Kalau lagi kencang, kaget juga. Bahaya. Kadang mobil-mobil pendek sampai nyangkut,” sambungnya.
Budi juga menyoroti minimnya lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di malam hari, yang memperparah risiko kecelakaan.
“Kalau malam kurang terang. Cekungan jembatannya tajam. Karena sepi, orang-orang sering ngebut. Yang belum tahu bisa bahaya, bisa kebablasan,” kritiknya.
Kekhawatiran juga disampaikan oleh Anshor, warga asli Periuk yang sering melintas menggunakan sepeda motor. Ia mengaku, khawatir saat harus menanjak jembatan dengan motor.
“Takut banget sih, kalau motor enggak kuat nanjak, bisa bahaya buat pengendara yang di belakang,” ujarnya.
Baca Juga: 529 KK di Kabupaten Tangerang Protes Ketidaksesuaian Desil DTSEN
Ansor juga menyebutkan, banjir dari luapan danau di sekitar lokasi turut menjadi penyebab jembatan tersebut dibangun lebih tinggi. Namun, menurutnya, kenaikan tinggi jembatan belum dibarengi dengan perbaikan akses dan keselamatan yang memadai.
Warga berharap pemerintah daerah, segera melakukan evaluasi terhadap kondisi jembatan ini. Selain perbaikan struktur, peningkatan fasilitas pendukung seperti penerangan jalan dan rambu keselamatan, dianggap penting untuk mengurangi risiko kecelakaan dan kemacetan. (mg01)
























