SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Sampah di kawasan Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, seolah menjadi rumah produksi. Bagaimana tidak, hampir setiap momen atau kegiatan seremonial dilakukan di kawasan tersebut.
Tagline pada setiap momen atau kegiatan seremonial itu tidak jauh dari kebersihan, kesadaran membuang sampah, dan sejenisnya. Tetapi, ending dari setiap kegiatan itu tidak jelas dan tidak menyelesaikan persoalan sampah.
Lokasi wisata di Kecamatan Labuan itu kini berubah fungsi menjadi rumah produksi publikasi setiap kegiatan. Tidak jauh berbeda dengan produksi film, sinetron, atau konten di media sosial. Persoalan sampah di kawasan Teluk, Kecamatan Labuan telah merubah jati dirinya sebagai alat ketenaran.
Mulai dari kalangan pejabat, profesional, politisi, dan lainnya berdatangan ke lokasi Teluk, Kecamatan Labuan untuk membahas penanganan sampah, tetapi hasilnya jalan ditempat, karena sampah kembali menumpuk.
Seolah hanya dijadikan sebagai tempat mengisi acara diwaktu senggang, kegiatan-kegiatan seremonial semacam itu sering dilakukan dengan tema jualan ‘sampah’. Tapi pada akhirnya, sampah kembali menumpuk dan menjadi persoalan busuk yang tak pernah terselesaikan.
Bukan menghakimi secara sepihak, tetapi kenyataan mengatakan demikian. Sejak awal dilakukan bersih-bersih sampah, pasti ada kaitannya dengan momen tertentu atau hari besar. Padahal, penanganan secara simultan dan terjadwal bisa menjadi upaya alternatif.
Baca Juga: LIPP Banten: Pejabat Hasil Lelang Terbuka Pemkab Pandeglang Harus Berintegritas
Namun sayang, hal itu tidak pernah terjadi, karena pada dasarnya selalu dikaitkan dengan kondisi anggaran. Padahal, dana penanganan sampah bisa dilakukan melalui uang Coorporate Social Responsibility (CSR), mengingat ada perusahaan negara disekitar lokasi.
Kali ini, bersih-bersih sampah dikawasan Teluk, Kecamatan Labuan dikaitkan dengan momen hari Lingkungan Hidup. Jika diterjemahkan melalui pikiran jernih, sampah dikawasan teluk merupakan kegagalan memelihara lingkungan hidup, karena menggambarkan kekumuhan, kotor, tidak bersih, kegagalan berprilaku sehat, dan sejenisnya.
Vise President Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3KL) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Energi Primer Indonesia (EPI), Imam Putra Prasetya mengatakan, kegiatan yang dilakukan pihaknya sebagai upaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan, termasuk aksi bersih-bersih, dan kampanye lingkungan.
“Di sini kami melakukan sinergi dengan teman-teman dari PLTU Labuan, tahun lalu dengan PLTU lontar di kabupaten Serang, 2023 kami bekerja sama dengan PLTU Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Jadi kami melakukan sinergi dengan beberapa PLTU dari Sabang sampai Merauke,” katanya, Rabu (4/6/2025).
Dia berharap, melalui kegiatan itu bisa menjadi salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, karena hal itu bisa meencari lingkungan. Salah satu bukti pencemaran itu, yakni adanya penumpukan sampah dikawasan Teluk, Kecamatan Labuan.
“Sebagai upaya hari lingkungan hidup dunia yang diperingati tanggal 5 Juni. Mudah-mudahan apa yang sudah kita usahakan ini bisa membantu walaupun mungkin tidak bisa menyelesaikan minimal mengurangi dampak dari lingkungan,” katanya.
Baca Juga: UDD PMI Pandeglang Peringati Hari Donor Darah Sedunia
Personel Pandawara Group, Rifki Sa’dullah mengatakan, penanganan sampah di Teluk harus dimulai dari sungai-sungai, mengingat sumbernya merupakan sampah kiriman. Menurut dia, kebiasaaan membuang sampah ke sembarangan tempat harus dihilangkan.
“Mungkin solusinya jadi di sungai itu kaya di kasih pagar. Sebenarnya yang paling penting itu dari kesadaran masyarakatnya sih. Kalau misalkan persoalan sampah itu cuma satu. Sampah selesai dari rumah, udah semua. Pasti itu bakal beres, gak akan ada sampah yang di sini,” ujarnya.
Dia mengaku, sering berpartisipasi dalam kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kelompok pemuda yang aktif dalam kegiatan kebersihan lingkungan ini berpesan, agar seluruh pihak berkolaborasi dalam masalah lingkungan.
“Dengan kita kolaborasi dengan pemerintah setempat, warga masyarakat setempat dan mungkin swasta yang terdekat. Harus seperti apa agar lingkungan ini tidak terjadi seperti ini lagi,” tutupnya. (adib)
