SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sebanyak 8,2 juta orang telah memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak program ini diluncurkan pada 10 Februari 2025. Selain itu, sebanyak 8,7 juta orang tercatat mendaftar untuk mengikuti fasilitas pemeriksaan kesehatan ini yang tersebar di hampir seluruh Indonesia.
Budi menyatakan cakupan program CKG sudah menjangkau sekitar 9.552 puskesmas, atau sekitar 93 persen dari total puskesmas di seluruh Tanah Air. Tiga provinsi dengan jumlah peserta CKG terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Data juga menunjukkan jumlah peserta perempuan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. “Dari data tersebut, saya sebagai laki-laki merasa terpanggil untuk memberikan contoh agar kaum pria juga rajin memeriksakan kesehatannya. Ini penting untuk menjaga kualitas hidup,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (12/6).
Menurut Budi, masalah kesehatan yang paling sering ditemukan dalam pemeriksaan CKG adalah gangguan pada gigi, seperti gigi berlubang, gigi hilang, hingga gusi melorot yang cenderung meningkat seiring bertambahnya usia peserta. Selain itu, tiga penyakit tidak menular utama yang ditemukan dalam CKG adalah hipertensi, diabetes, dan obesitas.
Ketiga penyakit tersebut merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke, yang menjadi penyebab kematian nomor satu dan dua di Indonesia. “Penyakit-penyakit tersebut harus segera diketahui sejak dini agar dapat dilakukan penanganan yang tepat. Jangan sampai terlambat, karena jantung dan stroke adalah pembunuh nomor satu dan dua di Indonesia,” tegas Budi.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lansia, agar aktif memeriksakan kesehatan secara rutin di fasilitas kesehatan, khususnya puskesmas. Masyarakat tidak perlu khawatir jika hasil pemeriksaan menunjukkan risiko penyakit serius seperti stroke, penyakit jantung, atau gangguan ginjal.
“Asalkan kepesertaan BPJS Kesehatan aktif, masyarakat bisa langsung mendapatkan layanan medis lanjutan,” ujarnya.
Selain program Cek Kesehatan Gratis, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti potensi besar sektor pariwisata kesehatan di Indonesia. Dalam International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta, Kamis (12/6), ia memaparkan bahwa pariwisata kesehatan berpotensi menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 84 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.362 triliun.
Menurut Budi, rata-rata usia penduduk Indonesia saat ini sekitar 70 tahun dengan pengeluaran kesehatan 140 dolar AS per tahun per orang, sehingga total pengeluaran kesehatan nasional mencapai 40 miliar dolar AS.
Jika standar pengeluaran kesehatan meningkat seperti di Malaysia yang rata-rata 400 dolar AS per tahun, dan usia harapan hidup naik menjadi 76 tahun, potensi pendapatan sektor kesehatan bisa mencapai 84 miliar dolar AS. “Nilai tersebut setara hampir 6 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional hanya dari sektor layanan kesehatan,” jelasnya.
Budi mengungkapkan saat ini sekitar 1 hingga 2 juta warga Indonesia, terutama yang berpendapatan tinggi, melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berobat, dengan pengeluaran mencapai 10 miliar dolar AS (Rp 162 triliun). Negara tujuan utama meliputi Malaysia, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat.
“Ini kebocoran besar yang harus kita cegah. Kita harus mulai menarik minat masyarakat berpendapatan tinggi berobat di dalam negeri, khususnya di destinasi wisata seperti Bali, Labuan Bajo, dan Batam,” katanya.
Pengembangan pariwisata kesehatan domestik tidak hanya menahan aliran devisa keluar, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan sektor industri kesehatan nasional. Kenaikan usia harapan hidup dan kebutuhan layanan kesehatan yang meningkat akan mendorong beban biaya kesehatan nasional naik dari 40 miliar dolar AS menjadi sekitar 124 miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan. (rmg/san)