SATELITNEWS.COM, JAKARTA–Tujuh jemaah haji Indonesia dilaporkan wafat hingga Minggu (3/5/2026), di tengah tingginya arus kedatangan jemaah ke Tanah Suci yang telah mencapai 74.646 orang. Besarnya proporsi jemaah lanjut usia menjadi perhatian utama, seiring meningkatnya risiko kesehatan dan kompleksitas pengelolaan ibadah haji tahun ini.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, menyampaikan mayoritas kematian disebabkan oleh penyakit jantung dan infeksi pernapasan. “Sebagian besar disebabkan oleh serangan jantung dan radang paru-paru,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (3/5/2026).
Ke-7 jemaah yang wafat itu berasal dariKabupaten Pekalongan, Kota Samarinda, Kabupaten Gowa, Surabaya, Solo, Bengkulu dan Batam. “Kita doakan semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujra Maria.
Pemerintah memastikan hak ibadah para jemaah tetap terpenuhi melalui mekanisme badal haji. “Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjamin badal haji bagi seluruh jemaah yang wafat,” jelas Maria.
Tekanan pada layanan kesehatan juga mulai terlihat. Hingga saat ini, 6.823 jemaah tercatat menjalani rawat jalan, 117 dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 141 lainnya dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 59 jemaah masih menjalani perawatan intensif.
“Secara umum kondisi kesehatan jemaah masih terus terpantau dan mendapatkan pelayanan medis yang optimal,” JELAS Maria.
Baca Juga: 9 Jamaah Haji Banten Meninggal Dunia di Tanah Suci
Di sisi lain, arus kedatangan jemaah terus meningkat. Hingga pukul 06.00 waktu Arab Saudi, Minggu (3/5/2026), sebanyak 74.646 calon jemaah yang tergabung dalam 192 kelompok terbang telah tiba di Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdulaziz, Madinah.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, mengungkapkan bahwa 16.177 di antaranya merupakan jemaah lanjut usia. “Jumlah jemaah yang sudah tiba hingga pagi ini sebanyak 192 kloter dengan total 74.646 jemaah, termasuk 16.177 lansia,” ujarnya.
Komposisi ini membuat aspek perlindungan jemaah menjadi krusial, terutama dalam pelaksanaan ibadah yang menuntut mobilitas tinggi seperti tawaf dan sai. Petugas pun mengimbau agar jemaah lansia dan disabilitas memanfaatkan fasilitas resmi yang telah disediakan.
“Kami mendorong jemaah lansia dan disabilitas untuk menggunakan layanan resmi, termasuk fasilitas mobil golf untuk paket tawaf dan sai di Masjidil Haram,” jelas Abdul Basir.
Ia juga mengingatkan agar jemaah tidak menggunakan jasa tidak resmi atau joki karena berisiko terhadap keselamatan. “Tidak direkomendasikan menggunakan pihak-pihak yang tidak resmi. Demi keselamatan dan kenyamanan, sebaiknya gunakan layanan yang sudah disediakan secara resmi,” tegasnya.
Pemerintah Indonesia menetapkan kuota haji tahun 2026 sebanyak 221.000 jemaah. Jumlah ini terdiri dari 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah haji khusus.
Baca Juga: Satgas Haji Tangani 59 Kasus Penipuan, 550 Calon Jemaah Jadi Korban
Sebanyak 452 bus Salawat siap mengakomodir transportasi jemaah haji Indonesia. Sebagian bus ini dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan jemaah lansia dan disabilitas.
Seiring meningkatnya jumlah jemaah dan potensi kepadatan di titik-titik krusial seperti Mina, otoritas Arab Saudi mulai mengandalkan teknologi untuk mengendalikan pergerakan massa. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memperkenalkan sistem sensor pintar yang terintegrasi dengan kartu Nusuk, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency, Sabtu (2/5).
Sistem ini memungkinkan pemantauan pergerakan jemaah secara real-time sekaligus membantu pengaturan arus di area padat. Kartu Nusuk—dalam format digital maupun fisik—berfungsi sebagai identitas sekaligus akses masuk ke lokasi suci seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Integrasi dengan platform perizinan terpadu memungkinkan petugas mengidentifikasi data jemaah secara cepat dan akurat, mengurangi risiko jemaah tersesat, serta memastikan akses yang lebih tertib ke tenda dan transportasi di Mina—salah satu titik dengan konsentrasi jemaah tertinggi selama puncak haji.
Sebagai bagian dari sistem, membawa dan mengaktifkan kartu Nusuk kini menjadi syarat wajib untuk memasuki Makkah, area ibadah, hingga Al-Rawdah Al-Sharifah. Kartu ini telah didistribusikan sejak di negara asal jemaah sebagai bagian dari persiapan awal.
Penerapan teknologi ini melanjutkan kebijakan musim haji sebelumnya, di mana lebih dari 1,6 juta kartu Nusuk dibagikan kepada jemaah dan sekitar 90.000 kepada petugas. (rmg/xan)
