SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Berawal dari diskusi kecil di warung kopi, para pemuda-pemudi Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan, yang tergabung dalam Kelompok Muda 17, mencetuskan pengelolaan sampah ramah lingkungan yang menggunakan insinerator mandiri. Pembuatannya menghabiskan dana Rp35 juta.
Ketua Relawan Muda 17, Kosim mengatakan, bahwa awal mula terlahirnya ide pengelolaan sampah menggunakan alat insinerator, adalah ketika dirinya bersama teman-teman atau muda-mudi yang tergabung dalam Relawan Muda 17 berdiskusi di warung kopi.
Lanjut Kosim, diskusi yang berlangsung, menyoroti permasalah sampah yang ada di Kabupaten Tangerang, dimana pengelolaannya masih dalam open dumping. Kemudian, banyaknya masyarakat yang masih membuang sampah secara sembarangan. Maka dari itu, pihaknya ingin sekali membuat aksi nyata dalam mengatasi permasalahan sampah diwilayahnya.
“Jadi awalnya, kami hanya diskusi kecil di warung kopi biasa. Sambil.minum kopi, kita diskusi, kalau bahasa Tangerang kongkow. Melihat, permasalahan sampah ini kan, tidak akan selesai kalau hanya komentar. Maka kita ingin melakukan aksi nyata,” kata Kosim kepada Satelit News, Kamis (12/6).
Setelah berkali-kali diskusi, akhirnya lahirlah ide tentang pengelolaan sampah, yang menggunakan teknik pembakaran yang menggunakan suhu tinggi, dengan menggunakan insinerator. Dimana sampah tersebut akan dibakar sampai habis. Adapun sisa dari pembakaran itu, dapat digunakan langsung sebagai pupuk organik, yang dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman.
“Insinerator ini merupakan alat atau fasilitas yang digunakan untuk membakar sampah atau limbah dengan suhu tinggi, sehingga mengurangi volume dan beratnya,” jelas Kosim.
Baca Juga: Kasus RT Jadi tersangka Usai Tegur Warga Bakar Sampah, Benyamin Minta Proses Hukum Dijalani
Menurut Kosim, insinerator sering digunakan dalam pengelolaan limbah. Terutama untuk limbah medis, industri, atau sampah kota. Adapun manfaat yang didapat, adalah dapat mengurangi volume sampah, menghasilkan energi ataupun pupuk, dan dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit.
“Setelah lahir ide dan gagasan itu, kita coba usulkan ke Ketua Pembina Kawan Muda, dan diteruskan kembali kepada Bupati Tangerang. Alhamdulillah, kita didukung. Bahkan kita pun berkolaborasi dengan Universitas Islam Syech Yusuf (Unis) Kota Tangerang,” katanya.
Lanjut Kosim, pengelolaan sampah menggunakan insinerator di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan, memang belumlah terlalu besar. Saat ini pihaknya hanya dapat menampung kurang lebih sekitar 1 ton sampah saja per harinya, dan menghasilkan pupuk sekitar 300 hingga 500 Kg.
“Untuk kapasitas insinerator di Mekar Jaya, memang belum terlalu besar. Karena hanya mampu mengelola kurang lebih sekitar 1 ton sampah saja,” katanya.
Ketua Inovasi Kelompok Muda 17, Herdi, yang akrab disapa Abil mengatakan, bahwa mesin insinerator ini dibuat sendiri dengan berkolaborasi dengan Universitas Islam Syech Yusuf Kota Tangerang. Adapun untuk anggaran yang dikeluarkan kurang lebih sebesar Rp35 juta.
“Alhamdulillah, kita buat sendiri dengan berkolaborasi bersama Universitas Islam Syech Yusuf. Untuk anggaran yang digelontorkan, kurang lebih sekitar Rp 35 hingga Rp 40 jutaan,” katanya.
Baca Juga: Empat Ton Sampah Diangkut dari Situ Pamulang
Saat disinggung apakah insinerator mandiri milik Kelompok Muda, Desa Mekar Jaya akan ikut pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Provinsi Banten, Abil mengaku, saat ini pihaknya masih fokus dalam pengelolaan sampah, untuk membantu Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam pengelolaan sampah.
“Tidak dulu, kita fokus untuk membantu Pemerintah Daerah dulu dalam mengelola sampah,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menambahkan, bahwa dirinya sangat mendukung dan mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh para anak-anak muda, yang tergabung dalam Relawan Muda 17 itu. Bahkan dirinya secara langsung melakukan kunjungan, untuk melihat pengelolaan sampah yang menggunakan insinerator di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan.
Menurut pria yang akrab disapa Rudi Maesyal, pengelolaan sampah menggunakan teknologi insinerator ini memiliki potensi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Dari sampah, bisa menjadi pupuk yang dapat menghasilkan ekonomi bagi masyarakat. Tentu, ini inovasi yang sangat luar biasa. Memang seharusnya anak-anak muda seperti ini, memberikan inovasi dan bergerak nyata dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan diwilayahnya,” ujar Rudi.
Rudi juga mengatakan, kedepan setiap desa ataupun kelurahan di Kabupaten Tangerang, harus memiliki pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Sehingga, permasalahan sampah di Kabupaten Tangerang bisa teratasi dengan baik.
“Kolaborasi antara Desa Mekar Jaya bersama kelompok pemuda, dan pihak universitas ini menjadi contoh yang bisa ditiru oleh desa dan kelurahan lainnya di Kabupaten Tangerang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Mekar Jaya, Ali Gozali mengatakan, bahwa proyek ini merupakan langkah nyata dalam mendukung program lingkungan hidup sehat, seperti yang telah dicanangkan Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Selain itu, pengelolaan sampah yang menggunakan teknologi insinerator ini, merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan desa yang bersih, sehat, dan berdaya saing secara ekonomi.
Ali juga mengatakan, bahwa pihaknya telah memulai untuk mengembangkan bank sampah dan produk pertanian berbasis organik, seperti bayam dan jamur tiram, yang dapat dijadikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan.
“Kami berharap melalui insinerator ini, masyarakat lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan dan aktif dalam pengelolaan sampah secara mandiri,” pungkasnya. (alfian)
























