SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Sebuah fenomena alam unik menjadi sorotan warganet setelah viral di media sosial Instagram. Sebuah pohon beringin di Kampung Tapos Wetan, RT15/RW05, Desa Tapos, Kecamatan Tigaraksa, diketahui mengeluarkan air dari akarnya secara terus-menerus. Bahkan tak pernah surut, meskipun memasuki musim kemarau, Selasa (24/6).
Air yang keluar dari pohon beringin ini tak hanya menjadi sumber kebutuhan warga sekitar, tetapi juga dipercaya memiliki nilai spiritual. Lokasi tersebut diyakini warga sebagai tempat keramat yang dijaga secara turun-temurun.
Kuncen pohon beringin yang akrab disapa Abah Ohim, mengatakan bahwa fenomena keluarnya air dari akar pohon tersebut, sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Namun, baru kali ini menjadi viral seiring perkembangan era digital.
“Sebetulnya ini sudah lama. Warga sini sudah puluhan tahun memanfaatkan air dari akar pohon ini, meskipun di musim kemarau airnya tidak pernah berhenti,” ujar Abah Ohim kepada Satelit News, Selasa (24/6).
Ia menjelaskan, air yang mengalir dari pohon tersebut tetap jernih dan terus keluar, karena kondisi lingkungan di sekitar pohon masih terjaga keasriannya. Kawasan tersebut masih dipenuhi pepohonan rindang yang tumbuh subur.
“Airnya sangat jernih dan terus mengalir, tak pernah berhenti,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Abah Ohim menyebut bahwa lokasi tersebut juga merupakan patilasan (tempat bersejarah) dari sosok yang dikenal sebagai Ki Buyut Gamparan, tokoh spiritual yang diyakini pernah bertapa di lokasi sumber mata air tersebut. Ia menceritakan, konon sumber mata air itu sempat tertutup karena ada seekor kerbau yang mati setelah meminum airnya.
“Sempat hilang dulu mata airnya, karena tertutup oleh bangkai kerbau yang mati setelah minum air dari sini. Tapi bukan karena airnya berbahaya, melainkan karena dipercaya air ini memang hanya diperuntukkan bagi manusia,” jelasnya.
Meskipun tempat ini kini dikenal luas, Abah Ohim bersama rekan-rekannya yang merawat area tersebut, memilih untuk tidak melakukan banyak perubahan. Mereka tetap menjaga keaslian tempat dan menolak memberikan pencahayaan buatan di malam hari.
“Biarlah tempat ini tetap seperti apa adanya. Kami hanya merawat dan menjaga kealamiannya,” pungkasnya. (alfian/aditya)