SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menggelar rapat paripurna pada Kamis (3/7), membahas sejumlah agenda penting. Diantaranya perubahan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2025, serta tiga Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) inisiatif terkait RPJMD, Fasilitas Pondok Pesantren, dan Ekonomi Kreatif.
Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Muhammad Amud, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Bupati Tangerang tengah mengkaji secara mendalam beberapa poin strategis dalam rapat tersebut. Salah satu fokus utama adalah percepatan pembahasan agar ketiga raperda dapat diselesaikan dalam dua bulan ke depan.
“Ini pembahasan yang sangat penting dan harus tuntas pada tahun 2025 ini. Insya Allah, Agustus sudah selesai pembahasan,” ujar Amud kepada Satelit News.
Amud menambahkan, pembahasan RPJMD dan Raperda Inisiatif ini sangat krusial, sejalan dengan arahan Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengenai pentingnya keseimbangan antara belanja dan pendapatan agar tidak terjadi defisit.
“Tadi disampaikan Pak Bupati bahwa APBD kita dalam kondisi aman. Alhamdulillah, Kabupaten Tangerang saat ini menempati urutan ketiga daerah terkuat secara fiskal di Indonesia, setelah Kabupaten Bandung dan Gianyar, Bali,” jelas Amud.
Amud juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat agar prestasi ini terus dipertahankan. Ia menyebut, regulasi yang diusulkan melalui Raperda Inisiatif sangat relevan, khususnya untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif dan mendukung pengembangan pondok pesantren di daerah.
Baca Juga: Proyek Hutan Bambu Dianggap Mubazir, Ini Penjelasan Pemkab Tangerang
“Raperda inisiatif ini penting karena memiliki urgensi untuk mengatur sektor-sektor strategis di tingkat daerah, terutama ekonomi kreatif dan fasilitasi ponpes,” ujarnya.
Senada dengan itu, Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan pentingnya pembahasan KUA-PPAS 2025 dan Raperda Inisiatif untuk mendorong kemajuan daerah secara menyeluruh.
“Khususnya dalam hal PSU dan ekonomi kreatif. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat serta pelayanan publik yang lebih maksimal,” kata pria yang akrab disapa Rudi Maesyal.
Ia mencontohkan keberhasilan kelompok tani di Kecamatan Mauk yang mampu meraih pendapatan Rp7,5 juta dari hasil panen semangka dalam waktu sebulan. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa ekonomi kreatif dan ketahanan pangan bisa berjalan seiring.
“Masyarakat bisa lebih kreatif dalam berwirausaha, seperti menanam buah-buahan. Pagi tadi saya ikut panen semangka di Mauk. Ini membuktikan aktivitas usaha petani berjalan baik dan memberikan kepastian ekonomi,” tutupnya. (alfian/aditya)
























