SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Dalam upaya menjangkau generasi muda khususnya Gen Z, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Unit Donor Darah (UDD) mengambil langkah kreatif dengan merambah ke komunitas-komunitas di kalangan anak muda.
Tak hanya sekadar menyelenggarakan kegiatan donor darah, PMI juga memanfaatkan ruang-ruang kreatif seperti kafe dan komunitas untuk mengedukasi sekaligus mengajak mereka terlibat langsung dalam gerakan kemanusiaan seperti yang berlangsung pada, Minggu (13/7).
Kegiatan yang berlangsung di Munii Coffee, Jalan Tekukur, Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputat Timur ini mengusung tema ‘kenali darahmu sehatkan sesama’. Kepala UDD PMI Tangsel, Suhara Manulang menjelaskan bahwa ruang seperti ini sebagai bentuk kepedulian antar sesama.
“Ya jadi, sekali dayung dua pulau terlampau isi. Jadi dengan kemarin program BD2K di Serpong, nyatanya komunitas di sini murni ya pengusaha, dan juga arsitek. Mungkin melihat dari sosial media apa, itu yang membuat mereka tertarik gitu,” ujarnya dalam keterangan yang diterima.
Menurut Suhara, pendekatan ini menjadi bagian dari desain strategis PMI Tangsel untuk masuk ke dalam “dunia” Gen Z. “Saya ingin merancang pendekatan yang mampu menyentuh gaya hidup mereka. Bahasa kita harus bisa diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Kalau itu bisa, luar biasa dampaknya,” tambahnya.
Salah satu momen menarik terjadi saat komunitas arsitek yang aktif dalam kegiatan BD2K mengusulkan agar salah satu coffee shop di kawasan tersebut digunakan juga sebagai tempat donor darah. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa semangat kolaborasi dan kemanusiaan bisa menyatu dalam ruang-ruang yang tidak biasa.
Baca Juga: Tak Cuma Kejar Medali, Atlet KONI Kabupaten Tangerang Donor Darah Sambut Haornas 2026
“Salah satu arsiteknya justru ingin membangun spot donor di sebelah kafe yang mereka desain. Karena mereka melihat bahwa selama ini coffee shop itu lebih ke arah literasi, diskusi. Kenapa nggak sekalian untuk kemanusiaan?” ucap Suhara.
PMI pun menyambut baik usulan tersebut. Menurut Suhara, PMI akan tetap menyediakan tenaga medis dan peralatan donor, sementara komunitas atau pihak kafe menyediakan tempat dan fasilitas pendukung lainnya seperti WiFi dan ruang nyaman. “Jadi sambil ngopi, ngerjain skripsi, bisa donor. Kita siapkan fasilitasnya, mereka siapkan tempatnya,” katanya.
Salah satu misi besar PMI Tangsel tahun ini adalah mengubah persepsi bahwa donor darah bukan sekadar kewajiban kemanusiaan, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan mengadakan talkshow bertema ringan namun bermakna.
“Kita ingin kartu donor itu jadi kebanggaan. Saat anak muda menunjukkan kartu donor mereka, ada rasa bangga. Itu kan cara berpikir yang ingin kita bangun,” jelasnya.
Hingga pertengahan tahun 2025, PMI Tangsel telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 50 komunitas. Mulai dari komunitas motor, ojek online, hingga pengusaha muda. Meski tidak semua aktif secara reguler, Suhara menyebut setidaknya ada langkah awal menuju sistem yang lebih terorganisir.
“Target kami bukan jumlah. Tapi kami ingin membentuk Bank Donor Darah Komunitas dan nantinya Bank Donor Darah Kelurahan. Jadi ketika ada kebutuhan darah, ketua komunitas tinggal koordinasi. PMI tinggal jemput bola,” katanya.
Baca Juga: Ratusan Siswa Baru SMK Kesehatan Riksa Indrya, Ikuti Rangkaian MPLS 2026 Bersama PMI Tangsel
Kata Suhara, pihaknya juga sudah mulai memetakan golongan darah dari para anggota komunitas ini. Suhara meyakini bahwa dengan menggandeng komunitas dan memahami kultur anak muda, PMI tidak hanya menyelamatkan nyawa lewat donor, tapi juga membangun budaya gotong royong yang lebih kuat di kalangan generasi muda.
“Ini bukan tentang PMI saja. Ini tentang kita semua. Kalau komunitas sudah bergerak bersama, maka gerakan kemanusiaan akan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (eko)
























