SATELITNEWS.COM, SERANG – Ditengah gencarnya program ketahanan pangan oleh Pemerintah Pusat, ternyata belum sejalan dengan kondisi masyarakat di Banten. Buktinya, Dinas Pertanian Banten mencatat, sektor pertanian belum diminati generasi muda.
Generasi muda atau generasi milenal yang menggeluti usaha pertanian, hanya sebanyak 110.446 dari 609 ribu lebih petani atau hanya 19,03 persen. Artinya, luasnya lahan pertanian di Banten belum bisa menarik generasi muda, sebagai tempat berkarya.
Persoalan itu terjadi, karena beberapa hal, bisa jadi karena tidak menjanjikan atau kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian. Oleh karena, banyak generasi muda yang lebih memilih menjadi buruh pabrik atau menggeluti bidang usaha lain diluar pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Banten Agus M Tauchid membenarkan, masih sedikitnya generasi muda yang menjadi petani atau memiliki jenis usaha di bidang pertanian. Hal itu, sebagaimana data yang ada diinstansinya.
“Kelompok petani usia milenial angkanya di Banten masih kecil, lebih banyak kelompok petani yang usianya diangka 40 tahun ke atas,” katanya, Jumat (19/7/2025) kemarin.
Agus mengatakan, maksud dari generasi muda atau generasi milenial yang menggeluti usaha pertanian, yaitu mereka yang bertani diusia dibawah 39 tahun. Hingga saat ini, baru ada 110.446 orang atau generasi muda yang berkecimpung didunia pertanian.
Baca Juga: KMP Batumandi Tenggelam, Investigasi Pascakebakaran Tidak Bisa Dilakukan
“Angka itu merupakan tantangan bagi kita agar ada regenerasi petani di Banten. Karena memang jumlah petani muda di Banten ini masih sangat minim sekali,” ujarnya.
Terkait hal itu, kata dia, Gubernur Banten Andra Soni telah membuat beberapa program unggulan disektor pertanian. Intervensi kebijakan itu harus dilakukan, selain untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan petani, juga sebagai upaya menarik minat generasi muda agar bisa melirik dunia pertanian.
“Semua bisa kita rubah dengan cara melakukan intervensi, pemerintah Provinsi Banten telah mencanangkan program Jalan Usaha Tani (JUT) untuk mempermudah distribusi hasil panen,” tukasnya.
Agus menerangkan, program JUT yang dicanangkan oleh Pemprov Banten merupakan suatu ide untuk meningkatkan infrastruktur pertanian. Tujuan utama program itu yakni agar pendistribusian atau memudahkan para petani mengangkut hasil panen, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan.
“Dengan adanya program intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan indek kepuasan para petani di Banten, serta dapat mendorong peningkatan jumlah petani milenial di Provinsi Banten,” tuturnya.
Anggota Kelompok Tani (Poktan) Desa Bojongpandan, Kecamatan Tunjungteja Jaenudin mengatakan, kurangnya minat generask muda untuk bertani cukup realistis dan masuk akal. Selain karena tidak menjanjikan karena harga gabah yang selalu rendah, tidak lengkapnya sarana dann prasarana penunjang pertanian menjadi pertimbangan.
Baca Juga: Produksi Ikan Tangkap di Banten Capai 75 Ribu Ton
Maksudnya, kata dia, beberapa fasilitas penunjang pertanian seperti traktor, mesin air, dan lainnya tidak pernah dipergunakan untuk kepentingan umum, melainkan hanya kelompok tertentu, termasuk dengan ketersediaan benih, pupuk, dan lainnya.
“Jadi masuk akal jika dunia pertanian belum dilirik generasi muda. Sebetulnya para pemuda bisa menjadi petani, asalkan semua fasilitas, sarana dan prasarana, serta hal lain yang memudahkan petani lengkap. Dalam arti, tidak ada oknum yang bermain untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.
“Intervensi pemerintah memang diperlukan dan harus dilaksanakan. Akan tetapi, pemerintah juga harus bisa mengawal sampai akhir, bukan hanya sekedar menyampaikan program, memberikan bantuan, tetapi dilapangan pengawasannya tidak berjalan,” tutupnya. (adib)

















