SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Tahukah anda di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, ada satu kesenian kuno yang sudah berusia lebih dari satu abad yaitu, Kuda Kepang. Kesenian ini, mengkombinasikan gerakan trengginas jurus pencak silat dengan musik, serta keunikan properti berupa kuda yang terbuat dari bambu yang dilapisi ijuk.
Namun, jangan samakan kuda kepang ini dengan kuda lumping dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena dari bentuk kudanya saja sudah jauh berbeda. Kuda kepang khas Menes, bentuk kudanya lebih realistis seperti bentuk asli hewan kuda, sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur kudanya berbentuk pipih dan dijepit mengggunakan kaki.
Dari pengamatan wartawan satelitnews.com, untuk membuat kuda kepang khas Menes harus menggunakan bambu sebagai rangka. Bambu tersebut dibentuk menjadi kepala, serta badan kuda tanpa ada bagian kaki. Di bagian punggung kuda dibentuk semacam lubang, untuk tempat masuk badan pemain kuda kepang.
Setelah rangkanya jadi, badan dan kepala kuda akan dilapis dengan ijuk yang sudah dianyam atau disebut dengan ijuk kepang, agar menyerupai bulu badan kuda lengkap dengan surainya.
Bagian mulut serta mata kuda, juga dipasangi hiasan dari kertas agar menyerupai mulut dan mata kuda yang asli.
Setelah itu, bagian badannya akan dihias dengan kertas krep atau kain sebagai lis, yang berfungsi sebagai hiasan.
Baca Juga: Erupsi GAK Terus Meningkat, Sekolah di Pandeglang Berlakukan BDR
Agar lebih mirip kuda betulan, dipasang juga seperangkat tali kekang agar saat dipentaskan, pemain kuda kepang bisa memegangnya seolah sedang menunggangi hewan kuda asli.
Sementara itu, bagian kaki kuda akan dihiasi dengan janur atau daun kelapa yang masih muda yang disuwir suwir. Terkadang hiasan janur itu, diganti dengan rafia warna kuning atau hijau yang disuwir suwir, sehingga saat pemain kuda kepang bergerak maka hiasan itu akan bergerak gerak menambah keindahan gerakan pemain kuda kepang.
Namun, Janur ini rupanya bukan sembarangan hiasan. Warnanya yang kuning kehijauan, melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Karena, kesenian ini biasa ditampilkan dalam acara-acara hajat seperti khitanan, perkawinan atau penyambutan tamu agung.
Tak lupa di bagian punggung kuda yang bolong tersebut, dipasangi tali yang nantinya digantungkan di leher pemain kuda kepang sehingga tidak mudah lepas saat pemain tersebut beraksi.
Jadi pada intinya, berbeda dengan kuda lumping di Jawa Tengah atau di Jawa Timur, pemain kuda kepang khas Menes akan masuk ke bagian rongga atau lubang pada bagian punggung kuda dan kaki si pemain, seolah-olah menjadi kaki kuda tersebut.
Surya Galung, guru besar padepokan pencak silat Maung Pande, yang menjadi pionir untuk memprakarsai pengusulan kesenian kuda kepang menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) khas dari Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.
Baca Juga: Abu Vulkanik Erupsi GAK Hujani Pandeglang, Bupati Dewi: Gunakan Masker dan Kacamata
Kata dia, dari penelusuran pihaknya sebagaimana diceritakan oleh para tetua kampung, kesenian ini sudah berusia ratusan tahun.
“Yang menciptakan kesenian ini, pertama kalinya Ki Durachman. Beliau adalah, ulama sekaligus tokoh jawara dan guru pencak silat dari Kampung Kadu Cukang, Desa Alas Wangi, Kecamatan Menes. Dari cerita orang tua kami, kuda kepang diciptakan beliau antara tahun 1839 hingga 1840 atau sekitar 10 tahun, setelah Gunung Krakatau meletus” paparnya.
Surya melanjutkan, kesenian ini diciptakan oleh beliau selain untuk hiburan bagi masyarakat saat ada hajatan, juga berfungsi sebagai penolak bala, agar acara-acara adat serta hajatan bisa berlangsung dengan lancar dan meriah.
Kesenian ini, makin dikenal luas saat dipentaskan pada pesta rakyat menyambut perkawinan Ratu Juliana, dari Kerajaan Belanda pada tahun 1937 di Alun-Alun Menes, tepat di depan gedung Kawedanaan Menes.
Saat itu Indonesia, termasuk Banten, masih berada di bawah cengkraman pemerintahan kolonial Belanda sehingga perkawinan Ratu Belanda tersebut, dirayakan dengan meriah di seantero tanah air dengan menanggap berbagai kesenian khas daerah masing-masing. Arak arakan Kuda Kepang di Menes itu, disambut meriah oleh masyarakat atau para pejabat yang saat itu hadir dalam perayaan.
Oh ya, kembali lagi ke bahasan tentang perbedaan kuda kepang khas Menes dengan kuda lumping dari Jawa Tengah atau Jawa Timur, maka yang paling mencolok adalah kesenian kuda kepang khas Menes ini juga memiliki irama atau musik yang berbeda dengan kesenian kuda lumping khas Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kesenian kuda kepang khas Menes ini diiringi dengan musik yang sangat khas, dengan instrumen utamanya adalah semacam terompet yang biasa dibunyikan dalam pertunjukan pencak silat. Soalnya, kuda kepang khas Menes ini memang seolah sudah satu paket dengan atraksi pencak silat.
Jadi ketika dimainkan suara terompet yang melengking, hentakan kendang pencak, akan mendominasi irama pada kesenian kuda kepang khas Menes ini. Alat musik lainnya yang dimainkan dalam kesenian kuda kepang khas Menes ini, adalah terbang rudat sehingga sangat berbeda dengan Jawa Timur yang menggunakan instrumen atau alat musik gamelan.
Rancaknya irama musik pada kesenian kuda kepang khas Menes tersebut, seolah menghipnotis para penari hingga secara otomatis bergerak, berjoget, serta beratraksi atau biasa disebut dengan ngalagé.
Saat ngalagé, terkadang pemain kuda kepang menjadi setengah sadar atau dalam kondisi “trance”. Maka peran pawang atau pimpinan grup, untuk membuat pemain kuda kepang sadar kembali sangatlah penting.
“ Saat ini, ada sekitar 42 grup kuda kepang yang menginduk ke perguruan kami, Maung Pande. Dan kami bersyukur, karena kuda kepang khas Menes ini diterima dengan baik di berbagai wilayah, karena selain pentas di dalam Provinsi Banten, kami juga sering diundang ke luar Provinsi Banten. Terakhir, kami pentas di Mataram dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk memeriahkan acara sosialisasi kesehatan yang diadakan oleh IDI” tutur Surya.
Oleh karena itu, ia berharap agar kuda kepang segera ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, karena kesenian tersebut terbukti sudah ratusan tahun dipentaskan di Banten. Sehingga, sangat layak untuk ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia. (mardiana)
























