SATELITNEWS COM, PANDEGLANG – Keberadaan peternakan sapi di Kampung Sempur, Desa Cimanis, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, ternyata memberi dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Bagaimana tidak, belasan ibu – ibu dan sejumlah bapak – bapak yang tak memiliki pekerjaan tetap, di kampung tersebut dipekerjakan untuk membuat pakan sapi, berupa gaplek.
Diketahui, gaplek adalah singkong yang telah dikupas dan dikeringkan di bawah sinar matahari, atau melalui mesin pengering (di open). Nah, untuk membuatnya ini membutuhkan tenaga, sehingga kaum emak-emak (ibu-ibu) di sekitar pertenakan sapi itu telah diberdayakan untuk membuat geplek tersebut.
Dengan begitu, kaum emak-emak bukan hanya sebatas menjadi ibu rumah tangga biasa, namun telah memiliki penghasilan dari keberadaan pertenakan sapi yang dikelola CV. Gary Setiawan Makmur (GSM).
Salah satunya pengrajin gaplek milik Tatang, telah mempekerjakan puluhan emak-emak untuk mengupas sikong, sebelum dijadikan gaplek untuk pakan sapi impor.
Puluhan emak-emak itu, terlihat sangat ulet mengupas singkong, karena dari hasil mengupas akan mendapatkan upah setimpal setiap harinya.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
Selain emak-emak, sejumlah bapak-bapak juga telah dipekerjakan dalam pembuatan gaplek tersebut. Namun tugasnya berbeda, yakni ada yang bagian mencacah singkong, dan ada juga yang khusus bagian menjemur singkong, sampai menjadi gaplek.
Adapun upah ngupas singkong yang didapatkan oleh emak-emak itu, mencapai sekitar Rp 85 ribu/hari. Begitupun pekerja laki-laki, mendapatkan upah Rp 100 ribu berikut makan dan cemilan, karena kerjanya lebih ekstra, yakni mencacah dan menjemur singkong tersebut.
Pengelola tempat kerajinan gaplek, Tatang mengungkapkan, pembuatan gaplek yang diolahnya setiap bulan kurang lebih mencapai 20 ton. Dia memprodukisi gaplek, dilakukan rutin setiap hari.
“Gaplek ini bahanya dari singkong, untuk pakan sapi di kirim ke CV. GSM. Kalau saya sih tergantung jemuran, kapasitasnya kan sehari 4 ton. Jadi sekitar 20 ton setiap bulannya,” kata Tatang, saat di temui langsung di tempat olahan gaplek miliknya, Sabtu (13/9).
Sebelum dia menjalankan usaha gaplek tersebut, awalnya sama sekali dirinya tidak berminat. Namun, karena ada desakan dari kaum emak-emak ingin ada pekerjaan selain menjadi ibu rumah tangga, akhirnya dia diberi solusi oleh pihak pengelola peternakan sapi.
“Alhamdulillah, walau kecil-kecilan, manfaatnya sangat luas dan banyak untuk masyarakat. Baik ibu-ibu, bapak-bapaknya, serta pemudanya,” pungkasnya.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
Gaplek yang dibuatnya itu, tambahnya tidak dijual ke peternakan sapi lain, selain milik CV. GSM. Sebab, modal pembuatan gaplek telah diberikan oleh peternak sapi tersebut, tanpa ada embel-embel suku bunga. Malah katanya, pihaknya diberi bantuan mesin pengering yang digunakan kalau cuaca hujan.
“Ini khusus mensuplai CV. GSM. Apalagi, awal modalnya diberi oleh CV. GSM, lalu saya kembangkan untuk kebutuhan beli bahan baku, upah dan beli mesin cacah. Tidak ada bunga, dari modal yang dipinjamkan, malah dibantu juga mesin pengering,” ungkapnya.
Adapun jumlah pekerja katanya lagi, pekerja ibu-ibu ada sekitar 15 orang, dan laki-laki ada 3 orang. Jadi jumlah total pekerja 18 orang, semuanya warga Kampung Sempur.
“Awalnya, dikupas dulu sama ibu-ibu, dengan biaya Rp 17 per Kg, jadi kalau 1 kwintal itu Rp 17 ribu. Sehari, ibu-ibu dapat 5 kwintal, jadi total upah Rp 85 ribu/hari. Kalau laki-laki Rp 100 ribu berikut makan/hari, karena mencacah dan menjemur,” jelasnya lagi.
Adapun harga gaplek yang dijual ke pihak peternakan sapi itu berpariatif, karena ada dua jenis gaplek. “Satu kilo gram yang kering kupas (tidak ada kulit singkong,red), dijualnya Rp 3.500, dan kalau yang tidak kupas Rp 3.000,” pungkasnya.
Dia mengaku, sangat bersyukur dengan adanya pertenakan sapi di wilayahnya. Karena sangat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, dan ada CSR (Corporate Social Responsibility) yang di terima masyarakat.
“Dengan adanya CV. GSM, Alhamdulillah bagi masyarakat di sini sangat terbantu. Bahkan ada CSR yang diberikan untuk kas RT, sebesar Rp 500 ribu,” tuturnya.
Seorang perajin gaplek, Warini mengaku, sangat senang punya kegiatan yang menghasilkan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Alhamdulillah, kami dari awal tahun 2025 ngupasin singkong untuk gaplek. Lumayan, punya penghasilan tiap harinya,” imbuhnya singkat.
Pantauan di lokasi, lokasi pembuatan gaplek hanya berjarak sekitar 500 meter persegi dari CV GSM. Sehingga, saat mengirim pakan sapi biaya operasional yang dikeluarkan tidak terlalu tinggi. (mardiana)
























