SATELITNEWS.COM, LEBAK—Kampung Guahguyang di Desa Cibungur, Kecamatan Cigemblong selain dikenal sebagai penghasil gula aren berkualitas terbaik di Indonesia juga memiliki produksi kerajinan lain. Di kampung yang dikelilingi perbukitan hijau ini rupanya jadi penghasil kerajinan dari bambu.
Bergama anyaman bambu seperti tampah, boboko, nyiru, sair, kipas, hingga beragam peralatan dapur lainnya untuk menambah pundi-pundi uang dihasilkan. Selain sebagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat, hal itu juga sebagai upaua mempertahankan kearifan lokal dari generasi ke generasi.
Asmawiah (24), salah satu perajin muda yang mengaku sudah sejak kecil menekuni usaha sebagai pengrajin dari anyaman bambu. Berbagai peralatan dapur pun sudah ia bikin, di antaranya boboko. Dari tangan terampilnya, hasil karyanya untuk membantu keluarganya dalam meningkatkan ekonomi. “Ini (boboko) bahan dasarnya terbuat dari bambu tali,” ujar Asmawiah, Minggu (21/9/2025).
Meski usianya masih terbilang muda, namun jemari tangan Asmawiah terlihat terampil dan cekatan saat merangkai potongan bambu. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan tujuh hingga belasan alat rumah tangga yang kemudian dijual kepada pengepul di sekitar wilayahnya.
“Yang kecil bisa dapat 10, yang besar lima sehari. Selain boboko, saya juga bikin nyiru, haseupan, kipas, dan sair. Saya sudah terbiasa seperti ini dari kecil, karena anak-anak kecil di sini selalu diajari sama orang tuanya,” tutur Asmawiah.
Untuk pemasaran, keluarga Asmawiah mengaku tidak mengalami kesulitan karena sudah memiliki langganan tetap. Harga produk yang dijual pun tergolong terjangkau, mulai dari Rp7.000 untuk ukuran kecil hingga Rp15.000 untuk ukuran besar. “Dijualnya ada yang langsung datang ke sini, ada juga lewat pengepul,” ungkapnya.
Menurut Asmawiah, hampir seluruh warga Kampung Guahguyang terlibat dalam kerajinan ini. Aktivitas membuat peralatan tradisional dari bambu tersebut bukan hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan warisan budaya lokal di tengah modernisasi di wilayah Banten Selatan.
“Untuk kesulitannya tentu dari anyaman ya. Jadi memang harus benar-benar tekun agar bisa menganyam bambu yang sudah di buat tipis-tipis,” katanya saat disinggung kesulitan dalam menganyam bambu agar menjadi boboko.
Untuk bahannya sendiri, kata dia didapat dari kebun pribadi atau jika lagi kosong orang tuanya membeli dari kebun warga lainnya. Namun, sejauh ini kata dia lebih banyak memanfaatkan hasil tanam bambu sendiri. “Ya karena di sini penghasil kerajinan tradisional maka hampir semua warga punya kebun bambu. Ya ada juga yang tidak bisa membuatnya,” tandasnya. (mulyana)