SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Tumpukan sampah menjulang di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bhineka Kelurahan Jatiuwung Kecamatan Cibodas Kota Tangerang. Pemandangan ini menjadi lebih memprihatinkan dengan bau busuk yang menyengat dan tercemarnya air sumur warga.
Lokasi TPST Bhineka berada di lahan milik PT Lucky Indah Keramik, sebuah perusahaan yang sejak 2017 meminjamkan tanahnya untuk fasilitas umum yang disepakati menjadi TPST. Kontrak peminjaman berlaku hingga 2027 mendatang.
Ketua RW 02 Kelurahan Jatiuwung, Gori mengaku sudah melakukan berbagai cara supaya tumpukan sampah di TPST Bhineka segera diangkut. Dia mengklaim telah menghubungi berbagai dinas terkait agar permasalahan itu selesai.
“Selama ini kita sudah berusaha bagaimana penumpukan sampah di TPS Bhineka yang berada dekat dengan PT Indah Lucky Keramik bisa selesai. Saya sudah berupaya ke mana-mana, ke dinas, ke mana pun tapi belum ada penyelesaiannya,” ujarnya, Rabu (24/9).
Menurut Gori, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang sempat berjanji akan melakukan pembersihan setiap Sabtu dengan target mengangkut hingga sepuluh truk sampah. Namun, janji itu belum terealisasi.
“Pernah sekali diangkut delapan truk, tapi setelah itu ya tidak diangkat lagi. Sekarang malah tambah menumpuk. Warga terus komplain karena air di sekitar sini sudah bau dan tikus mulai naik ke kontrakan warga,” keluhnya.
Baca Juga: Lima Pemuda Ditangkap Warga Pondok Aren, Dua Orang Bawa Celurit
Penumpukan sampah di TPST Bhineka dekat PT Indah Lucky Keramik bukan masalah seumur jagung. Menurut Gori, kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga hingga empat tahun.
“Awalnya pengangkutan lancar, tapi kemudian makin jarang. Ada kalanya dalam sebulan sampah hanya diangkat tiga atau empat kali,” ungkapnya.
Para pengurus lingkungan pun kelelahan. “Pengurusnya sudah sangat letih. Mereka setiap hari datang ke saya menyampaikan keluhan. Tapi saya juga tak bisa berbuat banyak,” tambahnya.
Ketidakpastian ini diperparah oleh fakta bahwa kontrak peminjaman lahan hanya tersisa dua tahun. “Kalau lahan ini ditutup, warga RW 02 benar-benar kebingungan,” ujarnya.
Tak hanya menimbulkan bau menyengat, tumpukan sampah telah memicu berbagai masalah kesehatan dan keselamatan. Ular peliton dan sanca kerap muncul di sekitar area permukiman. Tikus pun berkeliaran.
“Banyak kontrakan yang penghuninya memilih pindah karena tidak tahan dengan bau, air tercemar dan gangguan binatang,” tutur Gori.
Baca Juga: Ambil Motor yang Tertinggal di Cikupa, Anggota Gangster Ditangkap Warga
Ketika hujan turun, aroma busuk semakin parah. “Baunya kemana-mana. Warga yang tinggal dekat sini sampai terganggu pernapasannya,” kata Gori.
Keluhan serupa datang dari Rizal, warga yang rumah dan kontrakannya berdekatan dengan TPS. “Kalau hujan, banjir. Ular dan tikus naik ke rumah. Bau dan polusi udaranya bikin penyakit. Air tanah pun sudah bau,” ujarnya menegaskan.
Rizal mengaku, apa yang disampaikan Ketua RW bukan sekadar keluhan. “Benar kata Pak RW. Kami sudah empat tahun mengalami hal yang sama. Air tanah kami tercemar, udara bau, penyakit mulai muncul,” katanya.
Kondisi serupa dialami Tumini, pemilik rumah yang berada tepat di samping TPST. Ia bercerita bahwa keluarganya sempat terserang muntaber akibat bau sampah yang tak tertangani.
“Bulan Agustus kemarin, satu rumah kami sakit semua. Kena muntaber. Saya, bapak, anak, semuanya harus berobat,” ungkapnya.
Air di sekitar rumahnya pun sudah tidak layak pakai. “Airnya bau dan meninggalkan kerak cokelat. Kalau tidak dicuci tiga hari saja, tong air jadi cokelat semua. Itu tanda air sudah tercemar,” jelas Tumini.
Dia menjelaskan warga tetap membayar retribusi sampah setiap bulan sebesar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. “Kami tetap bayar, tapi kalau tidak rutin diangkut, ya percuma. Kalau memang sampah tetap mau di sini, tolong diangkat rutin supaya tidak bau dan mencemari lingkungan,” pintanya.
Tak hanya warga yang mengeluh, pengelola TPST Bhineka, Purnomo, juga angkat bicara. Ia mengungkap bahwa dalam sebulan terakhir, pengangkutan sampah hanya dilakukan tiga kali. Padahal, kontrak menyebut pengangkutan seharusnya dilakukan setiap hari.
“Kalau memang tidak bisa setiap hari, minimal dua hari sekali. Tapi nyatanya kocar-kacir,” kata Purnomo.
Lebih mengejutkan, Purnomo mengungkap adanya dugaan permintaan uang dari pihak tertentu. “Kami sempat diminta uang bulanan, katanya untuk jasa angkut. Tapi itu tidak jelas. Kami sudah bayar retribusi, bahkan sempat diminta Rp800 ribu per bulan untuk sepuluh RT, lalu ditawar menjadi Rp500 ribu,” jelasnya.
Meski pembayaran dilakukan, pengangkutan sampah tetap tidak lancar. “Retribusi sudah dibayar, tapi sampah tetap tidak diangkut. Sopir bilang ikut perintah mandor. Mandor bilang itu instruksi. Kami bingung,” tambahnya.
Ironisnya, TPST Bhineka sejatinya adalah Tempat Pembuangan Sampah Terpadu yang dirancang untuk mengelola sampah sementara di hulu. Di awal pendiriannya, pengelola sempat menjalankan program pengolahan menggunakan maggot dan memilah sampah organik serta anorganik.
“Dulu sempat ada pengelolaan. Kami bahkan membeli mesin untuk mengolah sampah. Tapi tidak lama, pengurusnya bubar dan alat pun terbatas. Sekarang tidak ada lagi pengelolaan. Semua sampah hanya menumpuk,” kata Gori.
Ketidakberlanjutan program ini menunjukkan lemahnya dukungan dari pemerintah. “Kami sudah berkoordinasi dengan kelurahan dan DPRD, tapi hasilnya nihil. Kami hanya bisa berharap pemerintah kota, bahkan pemerintah pusat, mau turun tangan,” ujarnya.
Warga Jatiuwung kini berharap pada perhatian Pemerintah Kota Tangerang. Mereka meminta Wali Kota Tangerang Sachrudin segera mengambil langkah konkret.
“Kami memohon agar masalah ini diselesaikan sebelum kontrak lahan habis. Jangan sampai warga terus menjadi korban,” kata Gori.
Menurutnya, penyelesaian masalah sampah bukan hanya tentang mengangkut sampah lama, tetapi juga memastikan keberlanjutan pengelolaan ke depan.
“Kalau hanya diangkut sekali-dua kali, ini akan menumpuk lagi. Harus ada solusi permanen,” tegasnya.
Kontrak peminjaman lahan dari PT Lucky Indah Keramik yang akan berakhir pada 2027 menjadi ancaman serius. Jika kontrak tidak diperpanjang, RW 02 kehilangan satu-satunya TPST yang menampung sampah dari berbagai RT.
“Kalau TPS ini ditutup, kami tidak tahu harus buang sampah ke mana. Ini bukan hanya masalah RW 02, tapi juga kelurahan,” jelas Gori.
Di tengah keputusasaan, Gori tetap berharap. “Saya mohon perhatian pemerintah setempat. Tolong selesaikan masalah ini sebelum warga jatuh sakit semua. Kami sudah tidak kuat dengan bau dan tikus.” ujarnya dengan suara bergetar.
Senada, Rizal dan Tumini berharap sampah segera diangkat rutin agar lingkungan kembali sehat. “Kami hanya minta sampah diangkut setiap hari. Itu saja,” kata Rizal.
Purnomo, sang pengelola, menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak membayar retribusi. “Kami hanya ingin pengangkutan dilakukan sesuai kesepakatan. Jangan sampai warga bayar tapi sampah tetap menumpuk,” tegasnya. (mg01)
























