SATELITNEWS.COM, TANGSEL—KONI Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menegaskan keputusan final mengenai cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026 belum ditetapkan. Lima cabor yang belum masuk daftar cabor porprov yakni kickboxing, wushu, sepak takraw, gulat, dan angkat berat masih berpeluang untuk dipertandingkan.
Ketua KONI Tangsel, Hamka Handaru menepis anggapan bahwa kelima cabor tersebut sudah dicoret dari daftar pertandingan. Menurutnya, informasi tersebut belum valid karena masih dalam proses pembahasan internal panitia besar (PB) Porprov Banten 2026.
“Kata siapa nggak dipertandingkan? Soalnya kemarin banyak yang demen goreng-goreng berita nih. Kita tuh yang sudah masuk pun masih ada pertimbangan karena ini kan yang godok harusnya Panitia Besar Porprov bukannya KONI. Jadi PB nanti yang akan melihat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (28/9).
Hamka menjelaskan, ada sejumlah pertimbangan yang menjadi dasar pemilihan cabor. Di antaranya ketersediaan venue, efisiensi anggaran dan potensi perolehan medali untuk tuan rumah yakni Tangsel.
Hamka mengungkapkan bahwa cabor-cabor yang menggunakan venue bersama atau tidak membutuhkan pembangunan baru, memiliki peluang lebih besar untuk dipertandingkan.
“Cabor-cabor kalau venue-nya itu tidak mengganggu cabor lain kita pertimbangkan untuk masuk. Angkat berat kan sama dengan angkat besi, jadi venue-nya gak perlu bikin lagi. Hanya ada perubahan aturan pengangkatan nomornya saja yang mereka berbeda. Sehingga nggak ada alasan nggak kita pertandingkan,” paparnya.
Begitu juga dengan kickboxing, yang menurut Hamka bisa bergantian menggunakan venue muaythai atau tinju, selama jadwalnya memungkinkan.
“Kickboxing itu kan sama persis sama muay thay kan bisa gantian venuenya,” ujar dia.
KONI Tangsel juga menyoroti pentingnya potensi perolehan medali dari setiap cabor. Hamka menekankan bahwa tidak masuk akal jika Tangsel menyelenggarakan pertandingan yang medali-nya justru didominasi daerah lain.
“Kayak angkat berat itu kan kita punya atlet yang sudah di Kejurnas. Juara 1 ya ada Marsha. Itu di putri dia medali emas. Masa nggak kita pertandingkan, rugi, kasihan. Karena dia harus juara Porprov dulu baru bisa bertanding di PON,” terangnya.
Terkait sepak takraw, Hamka menegaskan pihaknya masih mencari venue yang layak. Menurut Hamka, cabor tersebut juga sudah memiliki atlet berprestasi.
“Termasuk kayak sepak takraw kan lagi kita cari (venue) ini. Sanggup bikin venue, sendiri ayo silakan. Yang penting kualitas tempatnya dulu. Ada juga faktor atletnya yang sudah berprestasi, kasihan juga kalau tidak dipertandingkan,” ungkap Hamka.
Menurut Hamka, tidak semua cabang olahraga dapat dipertandingkan. Dia membandingkan dengan Porprov sebelumnya dimana Kota Tangerang menjadi tuan rumah hanya mempertandingkan 45 cabor. Padahal, kata dia, fasilitas venue di Kota Tangerang jauh lebih lengkap.
“Jadi kita nggak harus ngotot semua dipertandingkan. Dari KONI pusat sebenarnya Porprov itu yang harus dipertandingkan cabang olahraga yang dipertandingkan di PON saja. Nah ini banyak lagi yang hilang kalau seperti itu,” jelasnya.
Yang pasti, lanjut Hamka, belum ada finalisasi untuk cabor yang dipertandingkan. Nantinya, KONI akan menimbang masing-masing cabor yang ada untuk mengetahui sejauh mana atlet Tangsel dapat menyabet medali sebagai gengsi sebagai tuan rumah.
“Semuanya belum final termasuk lima itu. Yang sudah masuk pun masih ada pertimbangan karena yang godok harusnya PB bukannya KONI. Jadi PB nanti yang akan melihat dan akan nanya ke kita, apa benar cabor ini patut kita perjuangkan untuk dipertandingkan,” sebutnya.
Hamka memastikan kelima cabor tersebut belum dicoret secara resmi dan masih berpeluang dipertandingkan tergantung kesiapan masing-masing pengurus cabor. Dirinya menyarankan agar pengurus cabor proaktif dalam menunjukkan kesiapan mereka, terutama dalam hal venue dan potensi prestasi.
“Satu, secara kita sandarannya venue dulu karena kita keterbatasan. Kita sangat-sangat terbatas. Kemudian masalah ya perolehan medali ini. Kansnya bagaimana kalau kansnya besar jadi juara umum ya kita pertimbangkan untuk kita lombakan,” ungkapnya.
Hamka menegaskan bahwa Tangsel sebagai tuan rumah akan selektif, karena keterbatasan anggaran dan fasilitas.
“Ya tapi kemungkinan besar beberapa dari lima cabor itu masuk. Pokoknya cabang olahraga yang dipertandingkan memang hak preogratifnya tuan rumah. Srtinya tuan rumah tuh bisa adjust mana yang boleh dipertandingkan mana yang tidak? Intinya kita harus juara umum itu harga mati,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Pengurus Provinsi (Pengprov) Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Provinsi Banten melayangkan surat resmi ke KONI Kota Tangerang Selatan. Mereka mendesak agar cabang olahraga angkat berat dipertandingkan pada Porprov VII Banten di Kota Tangsel tahun depan.
Surat yang ditandatangani Ketua Pabersi Banten Hadisa Masyhur itu dibuat pada 22 September 2025. Dalam suratnya, Hadisa menyatakan angkat berat belum masuk dalam daftar cabang olahraga yang dipertandingkan pada event olahraga terbesar di Banten tersebut. Untuk itu, dia meminta agar KONI Kota Tangerang Selatan dapat merekomendasikan angkat berat masuk ke dalam Porprov dengan sejumlah alasan.
“Cabang olahraga angkat berat telah dipertandingkan sejak adanya pekan olahraga daerah I Banten di Serang sampai dengan Porprov VI di Kota Tangerang,” ungkap Hadisa, Selasa (23/9).
Alasan kedua, kata Hadisa, cabang olahraga angkat berat ikut serta dan aktif di tingkat nasional. Termasuk mengikuti PON XXI tahun 2024 di Aceh-Sumatera Utara. Sedangkan alasan ketiga adalah Pabersi sudah tersebar di seluruh kabupaten/kota di Banten.
“Pengurus cabang olahraga angkat berat ada di 8 kabupaten/kota,” ungkap Hadisa.
Ketua Pengprov PSTI Banten Ahmad Yusuf mengaku sudah mendatangi KONI Tangsel untuk memperjuangkan agar sepak takraw dapat dipertandingkan di Kota Tangerang Selatan. Namun, mereka tidak bertemu dengan Ketua KONI Tangsel Hamka Hamdaru.
Yusuf juga sudah menjalin komunikasi dengan Plt Ketua KONI Banten Roni Alfanto. Menurut dia, Roni sudah menyetujui agar sepak takraw dapat dipertandingkan pada ajang porprov. Tapi, PSTI Banten diminta berkomunikasi dengan panitia penyelenggara.
“Sekarang kami sedang menunggu jadwal untuk bertemu dengan Ketua KONI Kota Tangerang Selatan,” ujar Yusuf, Jumat (26/9).
Dia menegaskan tak ada alasan sepak takraw tidak dipertandingkan di ajang porprov. Dari segi venue, PSTI Banten memastikan ketersediaan venue di wilayah Bintaro.
Dari sisi prestasi, kata dia, tuan rumah Kota Tangerang Selatan sudah memiliki kepengurusan PSTI. Mereka juga mempunyai atlet yang dapat diandalkan untuk meraih prestasi.
“Tangsel sudah punya atlet yang beberapa waktu lalu melakukan tur ke Sumatera dan mendapatkan medali. Atlet Tangsel itu punya kemampuan lebih baik dibandingkan sejumlah atlet sepak takraw dari daerah lain,” ujar dia.
Selanjutnya, kata Yusuf, sepak takraw adalah salah satu olahraga yang dapat menyumbang prestasi. Dalam perhelatan PON Aceh-Sumut, atlet Banten ada di posisi empat besar.
“Sepak takraw ini cabang olahraga yang mampu menyumbang prestasi. Bukan cabang olahraga pelengkap. Kota Tangerang Selatan sendiri akan mengalami kerugian apabila tidak menyelenggarakan sepak takraw. Mereka punya peluang untuk merebut medali emas,” pungkasnya. (eko)