SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Musim dingin di Moscow tak menyurutkan semangat Athari Farhani, mahasiswa doktoral asal Tangerang Selatan, Banten, yang tengah menempuh pendidikan di “Negeri Beruang Merah”. Dari perjalanannya menjemput ilmu dan mimpi, Athari kini kembali menerbitkan sebuah karya inspiratif.
Buku terbarunya berjudul “Dari Nusantara ke Kosmodrom: Senandung Pena dari Orbit Moscow”, yang dikemas dalam bentuk season dan memiliki total lebih dari 120 halaman.
Kepada wartawan pada Kamis (2/10/2025), Athari menjelaskan, buku ini bukanlah sekadar catatan perjalanan fisik. Namun, lebih dalam, merupakan refleksi batin, pertemuan lintas budaya, dan upaya untuk memberikan cara pandang yang berbeda tentang Rusia kepada pembaca di Indonesia.
“Buku ini bukan sekadar buku perjalanannya, namun mengajak pembaca untuk melihat dunia dari ketinggian berbeda, seperti seorang kosmonot yang memandang bumi dari luar angkasa,” ujar Athari.
“Dari sana kita menyadari betapa kecil kita di tengah semesta, namun betapa berharganya setiap langkah yang kita ambil,” imbuhnya.
Athari menjelaskan pemilihan judul “Dari Nusantara ke Kosmodrom” merepresentasikan akarnya di Indonesia (Nusantara), sementara Kosmodrom, pusat peluncuran roket luar angkasa Rusia—menjadi simbol perjalanan menuju cita-cita dan cakrawala baru. Subjudul
“Senandung Pena dari Orbit Moscow” menegaskan, bahwa setiap kata lahir dari perspektif barunya saat menjalani hidup di Moskow.
Baca Juga: Penataan Kabel Semrawut di Tangsel Terbentur Anggaran Provider dan Status Jalan
Menariknya, buku ini secara tegas mematahkan stereotip bahwa Rusia adalah negeri yang dingin dan kaku.
Dalam pengalamannya, Athari justru menemukan perjalanan yang penuh kehangatan, perhatian tulus, dan dukungan yang menumbuhkan keberanian, terutama di masa-masa awal yang sempat terkendala bahasa. Ia merasakan dukungan tak hanya dari rekan sejawat, tetapi juga dari para pengajar.
“Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga pertama gerbang Rusia bagi kami, para perantau,” kenangnya.
“Mereka mengajar bukan hanya dengan buku dan papan tulis, tetapi juga dengan ketelatenan, ketegasan, dan dukungan di masa-masa sulit kami sebagai pelajar. Hal itu membuat saya bersyukur bertemu dengan guru-guru seperti Dudakova Taisia Olegovna dan Cekalina Anastasia Sergeevna,” tandasnya.
Athari berharap buku ini dapat menginspirasi generasi muda di Indonesia, khususnya yang tengah atau berencana menempuh pendidikan di luar negeri. Tujuan dari setiap bab adalah menceritakan perjuangan dan momen yang dilalui guna memotivasi pembaca untuk meraih impian.
Athari berpesan bahwa perjalanan sejati bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan juga perjalanan hati dan pikiran yang menumbuhkan kedewasaan.
Baca Juga: Buntut Kasus Pelecehan di Sekolah ICM, Keluarga Korban Soroti Tanggung Jawab Institusi
“Saya ingin buku ini menjadi jembatan, bukan hanya antara Indonesia dan Rusia, tapi juga antara manusia dengan dirinya sendiri. Perjalanan membuat kita sadar bahwa kita kecil, namun justru di situlah kita menemukan makna besar dalam hidup,” tutup penerima beasiswa doktoral Rusia ini. (rs/aditya)





















