SATELITNEWS.COM, LEBAK – Setelah hampir dua dekade tinggal di gubuk reyot yang nyaris ambruk, pasangan lansia asal Lebak, Saniti (56) dan Juned (65), akhirnya bisa bernapas lega. Rumah mereka segera dibangun ulang oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Provinsi Banten.
Tak hanya rumah, pasangan warga Kampung Pasir Ipis, Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, itu juga menerima bantuan sembako dari Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Galih Pakuan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bantuan tersebut datang setelah kisah hidup Saniti dan Juned viral di media sosial. Pasangan lansia ini selama 20 tahun bertahan hidup di gubuk lapuk yang bahkan sudah ambruk beberapa hari terakhir, hingga akhirnya pemerintah turun tangan memberikan bantuan rumah layak huni.
Kepala Bidang Perumahan DPRKP Provinsi Banten, Suhadi, menjelaskan rumah yang akan dibangun menggunakan konsep Rumah Instan Sederhana Sehat (RISA), teknologi bangunan pracetak yang cepat, kuat, dan ramah lingkungan.
“RISA ini bukan nama orang, tapi singkatan dari Rumah Instan Sederhana Sehat. Komponennya dibuat di pabrik dan tinggal dirakit di lokasi oleh tenaga ahli,” ujar Suhadi saat meninjau langsung rumah Saniti dan Juned, Kamis (9/10/2025).
Rumah tipe 36 meter persegi tersebut akan dilengkapi dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang serbaguna. Struktur bangunannya juga dirancang tahan gempa hingga 7 skala Richter, sesuai hasil uji dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman (Puskim). “Lebak termasuk wilayah rawan gempa, jadi rumah ini kami pastikan aman dan kuat. Lengkap juga dengan instalasi listrik dan kamar mandi yang siap pakai,” tambahnya.
Baca Juga: Bedah 260 Rumah Tidak Layak Huni, Pemkab Lebak Gelontorkan Rp 5,2 Miliar di Tahun 2026
Suhadi mengungkapkan, masih ada sekitar 4.000 rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Lebak yang diusulkan untuk diperbaiki. “Secara total, di Provinsi Banten ada sekitar 8.000 usulan RTLH. Tahun ini kami targetkan membangun 160 unit, dan tahun depan semoga bisa lebih banyak,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kemensos. Petugas pekerja sosial Sentra Galih Pakuan, Lutfi Rahman, mengatakan pihaknya memberikan bantuan kebutuhan dasar bagi pasangan lansia tersebut. “Kami menyalurkan bantuan intervensi krisis berupa perlengkapan rumah tangga, kasur, pakaian, dan sembako. Tujuannya agar mereka bisa hidup lebih layak sebelum rumahnya rampung dibangun,” kata Lutfi.
Ia menambahkan, keluarga Juned telah terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan menerima sejumlah bantuan seperti BPJS PBI dan BPNT. “Untuk bantuan PKH sementara dihentikan karena anaknya sudah tidak sekolah, tapi bisa diperbarui nanti,” jelasnya.
Sementar, Nuriyah (25), anak kandung pasangan lansia itu, tak kuasa menahan air mata saat melihat para petugas datang membawa bantuan. “Saya terharu dan bahagia. Ternyata pemerintah peduli dengan nasib keluarga kami,” ujarnya lirih
Nuriyah menceritakan, rumah orang tuanya sudah lama tak layak huni dan tiga hari terakhir ambruk hingga rata dengan tanah. “Rumah ibu saya itu gubuk reot, dindingnya bolong-bolong, atapnya bocor. Kalau hujan, air masuk semua. Kadang kami sampai ngungsi ke rumah tetangga,” tuturnya.
Kini, keluarga itu bisa bernapas lega. “Alhamdulillah, sekarang kami bisa tenang. Terima kasih kepada Dinas Perkim, Kemensos, dan semua pihak yang peduli. Semoga Allah membalas kebaikan mereka,” ungkapnya haru.
Baca Juga: Korwil BGN Lebak Apresiasi Sinergi Elemen Masyarakat Kawal Program MBG
Selama 20 tahun, Saniti dan Juned hidup dalam keterbatasan di rumah berdinding bambu lapuk dan beratap bocor. Saat hujan, air mengalir ke dalam rumah dan membasahi kasur tua tempat mereka tidur. Kini, di tengah kepasrahan, secercah harapan baru hadir melalui kepedulian pemerintah. (mulyana)
