SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Alamnya yang indah, serta bentang alam yang komplit dari mulai pegunungan hingga pesisir pantai, membuat Kabupaten Pandeglang menjadi salah satu tujuan favorit bagi para pecinta olahraga luar ruang, termasuk para camper atau orang orang yang gemar berkemah. Hal ini bahkan sudah terjadi sejak era kolonial Belanda, atau sekitar tahun 1930an.
Hal tersebut, terungkap dalam buku berjudul “Met De IMC Aan Het Kampeeren Op Java” atau bila diterjemahkan artinya “Berkemah dengan IMC di Jawa”.
Sebagai informasi, buku ini diterbitkan oleh Klub Motor Kerajaan Hindia Belanda atau De Koninklijke Nederlandsch Indische Motor Club (KNIMC), kantor pusat Semarang, pada tahun 1930an. Klub inilah, yang menjadi cikal bakal berdirinya organisasi IMI atau Ikatan Motor Indonesia.
Dikutip dari website IMI diketahui, pada tanggal 27 Maret 1906 terbentuklah sebuah Organisasi Olahraga Otomotif pertama di Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda dengan nama Javasche Motor Club (JMC), yang berkantor di Jalan Bojong 153 – 156, Semarang.
JMC kemudian berganti nama menjadi Het Koninklijke Nederlands Indische Motor Club (KNIMC), dan akhirnya berubah menjadi Indonesische Motor Club (IMC), pada saat penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Setelah masa peralihan kekuasaan kolonial Belanda kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1950, IMC berubah nama menjadi Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Baca Juga: Krisis Air Bersih Masih Melanda, Warga Desa Idaman Pandeglang Butuh Penanganan Serius
Walaupun menggunakan kata motor, namun orang-orang yang bergabung di organisasi ini tak hanya mengendarai motor, tapi juga mobil bahkan perahu atau kendaraan apapun yang menggunakan mesin atau disebut motor dalam bahasa Inggris.
Dalam buku tersebut, dipaparkan berbagai daerah yang layak untuk dikunjungi untuk berkemah di Pulau Jawa, setelah sebelumnya klub tersebut melakukan perjalanan panjang menggunakan kendaraan mereka atau touring menjelajahi Pulau Jawa.
Salah satu daerahnya adalah Pandeglang, Banten. Tak hanya tempat, dalam buku itu juga dipaparkan tips-tips berkemah, agar lebih nyaman dan aman.
Ada tiga tempat yang direkomendasikan KNIMC, sebagai tempat berkemah yang ciamik di Pandeglang yaitu, di Pandat Kecamatan Mandalawangi, area Sumur Tujuh di Gunung Karang, dan Pantai Carita.
Dalam keterangannya di buku itu, dituliskan bahwa, area Kampung Pandat terbilang dekat dengan Pesanggrahan milik Bupati Pandeglang, yang bisa didatangi dengan menelusuri jalan aspal yang baik dari Pandeglang melewati Mandalawangi.
Lokasi perkemahan di Pandat itu, berada di kaki Gunung Pulosari dan memiliki iklim yang sejuk serta sumber air minum yang berlimpah. Oleh karena itu, tak hanya bisa berkemah para camper atau orang yang suka berkemah di sana, juga bisa mendaki Gunung Pulosari tepatnya ke area Puncakmanik dan akan mendapatkan pemandangan Pantai Barat Pulau Jawa ketika berdiri disana.
Baca Juga: Desa Bandung Pandeglang Siap Expor Ikan Mas Sinyonya dan Udang Sawah ke Papua Nugini
Saat ini, Pandat tak lagi berstatus kampung, namun sudah berdiri sebagai Desa terpisah dari Desa induknya, yaitu Desa Cikoneng. Hingga kini, di lokasi tersebut masih ada area perkemahan yang sekaligus menjadi pintu gerbang untuk mendaki Gunung Pulosari yaitu, Area Perkemahan Tamansari, Cihunjuran.
Area perkemahan selanjutnya, yang dituliskan dalam buku tersebut adalah, area sumur tujuh yang berada di Gunung Karang.
Bagi anggota KNIMC yang menggunakan mobil, harus diparkirkan di Pesanggrahan milik Bupati di Pandeglang, dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda atau berjalan kaki.
Oleh karena itu, disarankan untuk membawa air minum agar tidak kehausan sepanjang perjalanan. menurut buku itu para camper akan disuguhkan dengan pemandangan indah dan selain ke area sumur tujuh juga bisa melihat ke kawah Gunung Karang.
Lokasi terakhir, yang dituliskan cocok serta nyaman untuk berkemah di Pandeglang tahun 1930-an adalah, Pantai Carita.
Untuk menuju ke sana, dari Pandeglang harus melanjutkan perjalanan ke lokasi yang disebut sebagai Laboean, atau saat ini adalah Kecamatan Labuan.
Dari lokasi tersebut, kemudian menuju ke arah utara dan akan sampai ke Pantai Carita. Sayang tak disebutkan dengan detail, jarak atau lamanya perjalanan yang harus ditempuh dari Pandeglang ke Labuan dan kemudian ke Carita di tahun tersebut.
Penulis buku itu juga menyebutkan, agar para camper membawa air minum sendiri dari Pandeglang, dan saat di lokasi bisa mandi di pantai yang indah namun harus seizin dari lembaga pemandian laut Carita (Vereniging Zeebaad Tjarita) di sana.
Selain Pandeglang, disebutkan juga berbagai lokasi perkemahan di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga ke area Jawa Timur seperti Tuban, Lumajang, Probolinggo, hingga terakhir di Bondowoso.(mardiana)

















