SATELITNEWS.COM, LEBAK – Aksi mogok belajar yang dilakukan ratusan siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, berakhir setelah Kepala Sekolah Dini Fitria dan siswa berinisial ILP mencapai kesepakatan damai. Sebanyak 630 siswa pun kembali bersekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
Sebelumnya, seluruh siswa melakukan aksi mogok sebagai buntut dari dugaan kekerasan yang dilakukan Dini Fitria terhadap ILP. Peristiwa itu bermula saat sang kepala sekolah menegur siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Namun, insiden tersebut berkembang hingga memicu polemik di masyarakat.
Dini sempat dinonaktifkan dari jabatannya oleh Gubernur dan Sekda Banten, sementara kasusnya dilaporkan ke pihak berwenang oleh orang tua ILP. Situasi di sekolah pun sempat tidak kondusif.
Puncaknya, Rabu (15/10/2025), Gubernur Banten Andra Soni memanggil kedua pihak untuk dimediasi. Hasilnya, Dini dan ILP sepakat berdamai.
“Alhamdulillah, hari ini kegiatan belajar mengajar sudah kembali berjalan normal,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Cimarga, Dhea Najmilayali, Kamis (16/10/2025).
Menurut Dhea, aksi mogok para siswa bukan bentuk pembelaan terhadap pelanggaran, tetapi ekspresi penolakan terhadap segala bentuk kekerasan di sekolah.
Baca Juga: Siswa SMAN 1 Cimarga Lebak Dapat Pemulihan Psikologis dari Komnas PA Banten
“Selama mogok, kami para guru tetap mengupayakan pembelajaran daring. Anak-anak hanya ingin menunjukkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dari kekerasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan Provinsi Banten telah melakukan mediasi untuk mencari solusi terbaik.
“Saya sedih melihat komentar warganet yang salah memahami situasi. Anak-anak tidak membela pelanggaran, mereka hanya menolak kekerasan,” katanya.
Untuk sementara, posisi kepala sekolah kini dijabat oleh Pelaksana Harian (Plh) Ahmad Subakir.
“Dengan berakhirnya aksi mogok ini, kami berharap suasana di SMAN 1 Cimarga kembali kondusif. Semua pihak harus menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas kekerasan,” tandas Dhea. (mulyana)
























