SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Banten, kembali menggelar kegiatan pertemuan promosi penganekaragaman konsumsi pangan Goes to Pondok Pesantren (Ponpes).
Tindak itu sengaja dilakukan, sebagai upaya memperluas edukasi pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) ke lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes).
Kepala DKP Provinsi Banten Nasir M Daud menjelaskan, melalui program Goes to Ponpes, pihaknya berkomitmen menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengkonsumsi makanan dengan berbagai macam atau beragam, dengan basis sumber pangan dan sumber daya lokal.
“Pesantren memiliki peran strategis sebagai agen perubahan perilaku konsumsi, karena karakteristik pendidikan berasrama yang memungkinkan pembiasaan pola makan sehat secara berkelanjutan,” katanya, Selasa (25/11/2025).
Nasir mengatakan, agar pesan dalam program kerja tersebut bisa tersampaikan kepada masyarakat, pihaknya menggandeng berbagai kalangan. Mulai dari instansinya sendiri, praktisi pertanian, serta praktisi pangan lokal seperti penggiat talas beneng.
“Peserta diajarkan bagaimana budidaya tanaman cabai dan sayuran, serta talas beneng dan terkait pemanfaatan pangan lokal, sebagai sumber gizi alternatif dan potensinya,” tambahnya.
“Sehingga bernilai ekonomis tinggi, serta praktek penyemaian dan pembibitan tanaman, serta strategi kolaborasi antara pesantren dan Pemerintah Daerah, dalam mewujudkan ketahanan pangan,” timpalnya.
Nasir berpesan kepada semua pihak terkait, mengenai arah pembangunan kemandirian pangan di pesantren, karena memiliki potensi yang besar. Oleh karena itu, pengalaman yang didapat bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan memanfaatkan sumber daya lokal ditempat masing-masing.
“Ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya. Kita mendorong pesantren menjadi lumbung pangan, minimal mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Dampak yang diharapkan adalah optimalisasi lahan non kawasan untuk ditanami komoditas seperti cabai, tomat kangkung,sawi,talas beneng dan lainnya, sehingga bisa ikut berkontribusi pada inflasi yang terkendali,” paparnya.
“Ujungnya, pendapatan meningkat, manfaatnya mengalir ke pesantren, dan masyarakat sekitar juga turut berdaya. Para narasumber hari ini akan mentransfer pengetahuan tentang cara bertanam agar hasilnya maksimal, bukan hanya produksi yang baik, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi,” sambungnya.
Nasir menegaskan, pihaknya akan terus berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketahanan pangan daerah sekaligus menjadikan pesantren sebagai mitra strategis dalam promosi konsumsi pangan B2SA.
“Melalui kemandirian pangan berbasis pesantren, diharapkan tercipta ekosistem pangan lokal yang lebih adaptif, produktif, dan berdaya saing,” tukasnya.
Ahmad, seorang peserta mengaku mendapatkan banyak informasi mengenai pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal, khususnya dalam menjaga ketersediaan pangan. Oleh karena itu, pengalaman yang didapat akan diimplementasikan ditempatnya.
“Kita tadi banyak menanyakan berbagai hal terkait potensi dan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal agar bisa dikelola dan menjadi sumber pangan. Banyak yang bisa kita lakukan agar apa yang kita konsumsi itu tidak hanya satu jenis, tetapi beraneka ragam,” ucapnya.
Acara tersebut diikuti oleh perwakilan dinas, yang membidangi ketahanan pangan dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang, penyuluh pertanian, perwakilan pondok pesantren, guru, santri, dan tokoh masyarakat. Kehadiran mereka mencerminkan dukungan kolektif terhadap upaya meningkatkan pemahaman gizi dan penerapan pola konsumsi pangan sehat di lingkungan pesantren.(adib)