SATELITNEWS.COM, LEBAK — Tetua dan warga adat Baduy melalui Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menyatakan tengah mempertimbangkan untuk tidak lagi menerima kunjungan pihak kepolisian ke wilayah Baduy. Sikap ini muncul karena mereka menilai penanganan kasus pembegalan terhadap Repan (16), warga Baduy Dalam, berjalan lamban.
Kasus pembegalan itu terjadi pada 26 Oktober 2024 sekitar pukul 03.00 WIB di Jalan Paramuka Rawasari, wilayah hukum Polsek Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Saat itu Repan sedang berjualan dan melintas di lokasi kejadian. Ia mengalami luka di wajah dan tangan akibat menangkis serangan pelaku, sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari pengendara yang melintas dan dibawa ke rumah sakit.
Hingga lebih dari satu bulan berlalu, keluarga korban dan masyarakat adat Baduy belum menerima kejelasan perkembangan penyelidikan maupun penangkapan pelaku. Menurut Jaro Oom, lambannya progres kasus membuat tetua adat Baduy merasa kecewa dan gelisah. Mereka menilai aparat penegak hukum belum menunjukkan keseriusan dalam mengungkap pelaku.
“Jika kasus ini tidak terungkap dan tidak ada informasi penangkapan pelaku, pihak adat kemungkinan akan mengabaikan kunjungan kepolisian ke Baduy. Itu bentuk kekecewaan kami,” tegas Oom, Minggu (30/11/2025).
Ia menjelaskan, kepolisian menyampaikan bahwa penyelidikan terkendala minimnya bukti karena tidak ada saksi mata, tidak terdapat rekaman CCTV, dan korban tidak mampu mengingat ciri wajah pelaku. Meski demikian, warga Baduy tetap berharap kasus ini dapat diusut tuntas. Rencananya, pihak Desa Kanekes akan melakukan audiensi ke Polda Banten untuk meminta kejelasan dan percepatan penanganan kasus.
“Selasa nanti kami berencana audiensi ke Polda Banten untuk meminta bantuan meneruskan kasus ini ke Polda Metro. Selama ini baru ditangani Polres,” ujar Oom.
Baca Juga: Warga Baduy Siap Sambut Wisatawan Akhir Tahun dengan Durian Lokal
Oom juga menyampaikan keberatan masyarakat adat atas maraknya unggahan media sosial yang menggunakan video prosesi Seba Baduy dan mengaitkannya dengan kasus pembegalan Repan. “Banyak konten kreator yang mengunggah video Seba seolah terkait kasus Repan. Itu tidak benar. Videonya lama dan bersifat sakral, tidak boleh disalahgunakan,” tegasnya.
Ia sekaligus membantah isu yang menyebut warga Baduy akan turun ke Jakarta untuk berdemo. “Itu hoaks. Orang Baduy tidak pernah melakukan aksi anarkis atau demonstrasi. Kami hanya berharap pelaku segera ditangkap,” katanya.
Oom mengaku komunikasi dengan kepolisian, baik Polres maupun Polsek di Jakarta Pusat, sangat minim. Hampir sepekan terakhir tidak ada kabar perkembangan penyelidikan. “Seolah-olah tidak ada tindak lanjut. Padahal polisi punya alat untuk melacak telepon genggam korban yang ikut dirampas,” ujarnya. Pemerintah Desa Kanekes mengimbau warga Baduy yang berdagang ke Jakarta agar tidak beraktivitas terlalu malam, berjualan secara berkelompok, dan menghindari membawa anak kecil. “Tidak ada larangan berdagang ke Jakarta, hanya pembatasan demi keamanan,” pungkas Oom. (mulyana)

















