SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Menyambut peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Siloam Hospitals Lippo Village mengadakan talkshow kesehatan bertema “Menuju Hari Ibu: Persalinan Nyaman di Setiap Langkah”. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk mendukung para ibu hamil menjalani masa kehamilan dan proses persalinan dengan aman, nyaman, serta penuh ketenangan.
Program edukatif tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan informasi medis, tetapi juga dukungan emosional dan akses terhadap tenaga profesional yang dibutuhkan. Siloam Hospitals Lippo Village menegaskan pentingnya pengalaman persalinan yang lebih baik bagi setiap ibu di Indonesia.
Dalam sesi talkshow, dr. Julita D.L. Nainggolan, Sp.OG memaparkan perkembangan metode persalinan modern, termasuk teknik ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery). Melalui metode ini, proses pemulihan pasca operasi sesar dinilai lebih cepat, manajemen nyeri lebih optimal, serta memungkinkan bonding ibu dan bayi berjalan lebih baik. Ia menekankan bahwa keamanan dan kenyamanan ibu harus menjadi prioritas utama.
Dalam kesempatan tersebut, Julita juga menyinggung mengenai frekuensi pemeriksaan USG yang kerap membingungkan para ibu hamil. Banyak yang mempertanyakan apakah USG perlu dilakukan setiap bulan, atau bahkan dua kali dalam sebulan ketika memasuki usia kehamilan 7 hingga 8 bulan.
“Jangan-jangan USG setiap bulan, terus ada juga yang nyaranin kalau udah masuk ke 7 atau ke 8 bulan, USG-nya satu bulan dua kali. Itu seperti apa sih sebenarnya?” ujar Julita di Aula Lantai 11, Rabu (10/12/2025) meniru keresahan yang sering ia dengar dari para pasien.
Ia menegaskan bahwa USG adalah pemeriksaan yang sangat penting, namun tetap harus dilakukan berdasarkan indikasi medis. “USG itu sangat aman, bisa dilakukan kapan pun. Tapi tentu harus sesuai indikasi. Bukan karena ‘saya pengen USG aja nih seminggu sekali’. Ya enggak,” tegasnya.
Baca Juga: Kecepatan Penanganan Jadi Penentu Keselamatan Pasien Aorta Kompleks
Julita juga menguatkan penjelasan yang sebelumnya disampaikan oleh Dr. Hera terkait pentingnya USG pada trimester pertama—bahkan sejak awal mengetahui kehamilan. Pemeriksaan pada fase ini membantu memastikan lokasi dan perkembangan kehamilan secara akurat.
“USG trimester 1, atau begitu tahu hamil, itu penting. Pertama, kalau kita bisa screening, apakah ini hamilnya di dalam atau di luar kandungan. Kemudian kalau hamil, apakah hamilnya bagus, berkembang dengan baik. Jangan sampai nanti hamil kosong lagi, ya kan?” jelasnya.
Menurutnya, pemeriksaan awal tersebut menjadi dasar penting agar ibu hamil memahami kondisi kandungannya sejak dini, sehingga proses pendampingan oleh tenaga kesehatan dapat lebih optimal.
Sementara itu, dr. C. Herawati Sri Ratna Dewi, Sp.OG menjelaskan pentingnya pemeriksaan NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing). Dengan teknologi Gobion, pemeriksaan ini menjadi bagian dari prenatal screening modern yang lebih akurat dan aman untuk mendeteksi risiko kelainan genetik sejak dini. Pemeriksaan tersebut diyakini dapat memberikan ketenangan bagi para calon orang tua.
Melalui kegiatan ini, Siloam Hospitals Lippo Village juga menegaskan komitmennya dalam menyediakan layanan maternal care terintegrasi, mulai dari:
-ANC (Antenatal Care)
Baca Juga: Siloam Hospitals Lippo Village Ajak Waspadai Stroke
-Pemeriksaan kehamilan rutin
-USG 4D
-Skrining prenatal seperti NIPT
-Konsultasi laktasi
Fasilitas persalinan modern dengan dukungan perawat terlatih
Siloam juga menegaskan bahwa konsep “Persalinan Nyaman di Setiap Langkah” bukan hanya slogan, melainkan kenyataan yang ingin diwujudkan untuk setiap ibu yang menjalani proses persalinan di rumah sakit tersebut.
Baca Juga: Rehabilitasi Jantung, Tahap Penting Pascaoperasi
Berbagai mitos seputar pantangan makanan bagi ibu hamil masih sering berkembang di masyarakat. Salah satunya anggapan bahwa beberapa buah seperti nanas atau durian dapat memicu kontraksi dan menyebabkan persalinan prematur. Namun, dokter kandungan dr. Herawati menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak berdasar.
Menurut dr. Herawati, hingga saat ini tidak ada makanan spesifik yang benar-benar harus dipantang selama kehamilan, termasuk buah-buahan yang kerap dianggap berbahaya. “Banyak mitos terkait pilihan makan ibu hamil, bahkan sering kali menyesatkan. Pada prinsipnya, tidak ada makanan tertentu yang dilarang secara khusus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, nanas yang sering dipercaya dapat menimbulkan kontraksi tidak memiliki efek seperti yang dikhawatirkan masyarakat. “Orang takut makan nanas karena dianggap bikin kontraksi. Padahal tidak. Tidak ada bukti ilmiah bahwa nanas bisa menyebabkan kontraksi, apalagi kelahiran prematur,” kata dr. Herawati.
Hal yang sama berlaku untuk durian dan buah lainnya. Ia memastikan tidak ada bahan makanan yang dapat memicu kontraksi, sehingga ibu hamil tidak perlu khawatir selama konsumsi dilakukan secara wajar. “Makan durian juga boleh, asal tidak berlebihan,” terangnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang selama kehamilan. Pilihan makanan sebaiknya tetap mengutamakan nutrisi yang baik bagi ibu dan perkembangan janin. “Pilih makanan bergizi, hindari makanan tak sehat seperti junk food. Apa pun makanannya, yang penting tidak berlebihan,” tutur dr. Herawati.
Ia mengingatkan bahwa kualitas gizi jauh lebih penting dibanding mengikuti mitos pantangan yang tidak terbukti kebenarannya. “Ibu hamil itu ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya. Fokus saja pada makan sehat, berimbang, dan variatif,” tambahnya. Dengan penjelasan tersebut, dr. Herawati berharap masyarakat tak lagi terjebak pada mitos seputar makanan selama kehamilan dan semakin memahami pentingnya nutrisi yang tepat bagi ibu dan janin. (made)
