SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Truk tangki air itu merayap pelan di jalan berlumpur. Roda-rodanya beberapa kali tergelincir, sementara di sisi kanan terbentang jurang dan di depan, jembatan kayu tampak nyaris roboh. Dari balik kemudi, Ari Kurniawan tak melepaskan genggaman dari setir. Keringat dingin bercampur lumpur menempel di wajahnya.
Bukan sekadar puluhan ribu liter air bersih yang ia bawa hari itu. Di dalam tangki besi itu, Ari mengangkut harapan ratusan warga Desa Lhok Dalam, Kabupaten Aceh Timur—warga yang selama berhari-hari terpaksa menenggak air hujan untuk bertahan hidup.
Ari adalah relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangerang. Awal Desember 2025, ia mendapat penugasan dari PMI Provinsi Banten untuk bergabung dalam misi distribusi air bersih pascabencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bersama PMI Provinsi Banten, Ari difokuskan membantu Aceh—wilayah yang terdampak paling parah dan krisis air bersih.
Perjalanan dimulai pada 6 Desember 2025. Ari meninggalkan rumah dan keluarganya di Kota Tangerang, lalu berkumpul dengan puluhan relawan lain di Markas PMI Pusat. Dari Pelabuhan Tanjung Priok, sekitar 35 truk tangki air dikapalkan menuju Aceh. Secara keseluruhan, PMI Pusat mengerahkan sekitar 60 truk tangki air untuk tiga wilayah bencana.
Enam hari kemudian, kelelahan perjalanan panjang terbayar. Pada 12 Desember 2025, Ari menginjakkan kaki di Pelabuhan Lhokseumawe. Malam itu, tubuh-tubuh lelah para relawan merebah di Markas PMI Kota Lhokseumawe. Esok paginya, perjalanan kembali dilanjutkan—tiga jam menuju PMI Kabupaten Aceh Timur, sebelum akhirnya menyusuri jalan desa menuju lokasi distribusi air bersih.
Sesampainya di Desa Lhok Dalam, pemandangan memilukan langsung menyergap. Lumpur sisa banjir bandang setinggi hampir dua meter masih melekat di dinding rumah. Perabot rusak berserakan. Aktivitas warga belum pulih, dan kebutuhan paling mendasar—air bersih—menjadi barang langka.
Baca Juga: PMI Kota Tangerang Gelar Cek Kesehatan dan Golongan Darah Gratis pada Hari Donor Darah Sedunia
“Warga cerita ke saya, sekitar empat hari mereka minum air hujan. Ada juga yang sampai dua belas hari terpaksa beli air karena memang nggak ada pilihan,” kata Ari, suaranya pelan saat mengenang cerita itu.
Sebagian warga menampung air hujan dengan ember dan jeriken—air yang sama dipakai untuk mandi, mencuci, bahkan minum. Sumber air bersih berbayar letaknya jauh, sementara harga air mencapai Rp20.000 hingga Rp30.000 per toren. Jumlah yang terasa berat bagi warga yang baru saja kehilangan rumah, harta benda, dan rasa aman.
Saat truk tangki PMI akhirnya berhenti dan kran air dibuka, suasana berubah. Warga berkerumun membawa wadah seadanya. Senyum dan ucapan syukur mengalir bersama derasnya air.
“Mereka bilang, ‘Terima kasih sudah bantu air bersihnya. Sekarang kami nggak minum air hujan lagi,’” tutur Ari. Kalimat sederhana itu, katanya, langsung menutup lelah sepanjang perjalanan.
Misi ini jauh dari kata mudah. Ari dan tim harus melewati jembatan rapuh serta jalan ekstrem di Desa Cet Mbon, Kecamatan Peureulak—jalur sempit di tepi tebing yang rawan longsor, terlebih saat hujan turun. Lumpur membuat ban truk mudah selip, dan setiap meter perjalanan menuntut kewaspadaan penuh.
Namun tak satu pun dari itu menyurutkan langkah mereka. Bersama dua truk tangki air PMI Provinsi Banten, Ari terlibat menyalurkan air bersih ke tiga desa. Total sekitar 90 ribu liter air bersih berhasil didistribusikan, dengan pasokan air diambil dari PDAM Peureulak.
Baca Juga: PMI Kota Tangerang dan Yayasan Amway Peduli Salurkan Bantuan Sekolah
“Capek itu pasti. Tapi lihat warga jauh lebih capek menghadapi kondisi mereka sekarang, itu yang bikin kita tambah semangat,” ujarnya.
Di balik tugas kemanusiaan, ada rindu yang ia pendam. Ari yang telah berkeluarga mengaku kerap teringat anak dan keluarganya di Kota Tangerang, terutama saat malam tiba. Untungnya, sinyal komunikasi perlahan membaik.
“Kalau kangen, ya pasti. Tapi sekarang sudah bisa video call, lumayan buat ngobatin rindu,” katanya, tersenyum kecil.
Rencananya, Ari akan kembali ke Kota Tangerang pada 31 Desember 2025. Namun sebelum itu, masih ada tugas yang harus dituntaskan dan masih banyak warga yang menanti bantuan.
Dari semua pengalaman di lapangan, satu pesan warga paling membekas di hati Ari. Bukan permintaan bantuan tambahan, melainkan doa yang tulus dan sederhana.
“Mereka bilang ke kita, jaga kesehatan, supaya bisa terus bantu warga,” ucapnya lirih.
Di tengah lumpur, jalan rusak, dan keterbatasan pascabencana, Ari Kurniawan bersama PMI menghadirkan secercah asa. Dari balik kemudi truk tangki air, ia menjaga kehidupan—setetes demi setetes—untuk mereka yang paling membutuhkan.
