SATELITNEWS.COM, LEBAK—Setelah hampir satu dekade menjadi sumber keluhan, amarah, dan tekanan sosial warga, jalan desa di Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, akhirnya dibangun. Penantian panjang itu ditutup dengan aksi sujud syukur Kepala Desa Karyajaya, Jaeni, tepat di atas ruas jalan yang dulu menjadi simbol kegagalan infrastruktur desa.
Sujud syukur tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penunaian nazar pribadi yang diucapkan Jaeni di tengah tekanan berat akibat kondisi jalan rusak parah selama delapan hingga sepuluh tahun. Jalan sepanjang lebih dari enam kilometer itu merupakan satu-satunya akses utama warga menuju sekolah, lahan pertanian, dan pusat aktivitas ekonomi.
“Di tempat ini dulu saya pernah diprotes warga dan saya menangis. Dalam hati saya bernazar, kalau jalan ini benar-benar dibangun, saya akan sujud syukur di sini. Alhamdulillah, nazar itu saya tunaikan,” ujar Jaeni saat dihubungi, Senin (5/1/2026).
Selama bertahun-tahun, kerusakan jalan tak kunjung tertangani. Lintasan kendaraan berat memperparah kondisi, sementara kemampuan desa terbatas oleh regulasi dan minimnya anggaran dana desa. Pemerintah desa bahkan sempat meminjam material batu sekadar menambal jalan agar masih bisa dilalui warga.
Perubahan baru terjadi setelah jalan tersebut dibangun melalui Program Bang Andra (Bangun Desa Sejahtera). Sekitar tiga kilometer ruas paling vital kini telah dibeton. Ruas itu menjadi akses utama warga menuju sekolah dan lahan pertanian. “Yang paling tengah dan paling krusial sudah dibangun. Memang masih ada titik rusak, tapi akses utama sekarang sudah terbuka,” katanya.
Dampak pembangunan langsung dirasakan masyarakat. Di sejumlah kampung, warga menggelar syukuran spontan dengan makan bersama atau ngeliwet di atas badan jalan baru, menggunakan daun pisang yang dibentangkan hingga puluhan meter. “Bagi warga, ini seperti mimpi. Selama ini kami belum pernah punya jalan beton sebagus ini,” ujar Jaeni.
Baca Juga: Calon Jemaah Haji Asal Lebak Diminta Menjaga Kesehatan
Ia menuturkan, upaya pembangunan jalan telah diperjuangkan sejak 2022, ketika ruas tersebut ditetapkan sebagai jalan poros kabupaten melalui surat keputusan (SK). Usulan sempat diajukan ke tingkat provinsi, namun tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran. “Bukan ditolak, tapi tertunda. Alhamdulillah akhirnya dialihkan ke Program Bang Andra pada 2025. Program ini sangat cocok untuk desa terpencil seperti kami,” jelasnya.
Jaeni pun mengajak masyarakat menjaga dan merawat jalan yang telah dibangun, serta menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Banten. Ia berharap Program Bang Andra terus berlanjut dan menjadi bukti kehadiran negara di desa-desa yang selama ini terpinggirkan.
Aksi sujud syukur tersebut menjadi potret bahwa pembangunan infrastruktur desa bukan sekadar proyek fisik, melainkan menyangkut harapan, martabat, dan rasa keadilan masyarakat. (mulyana)





















