SATELITNEWS.COM, TANGERANG— Bau menyengat tercium tajam di Perumahan Korpri, RT 01/RW 05, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang pada Jumat pagi (23/1/2025).
Genangan air keruh kecokelatan tampak mengalir di belakang rumah warga. Air tersebut merupakan air lindi, cairan limbah hasil pembusukan sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.
Hujan deras sejak dini hari menyebabkan debit air limbah meningkat hingga meluap ke lingkungan permukiman. Warga mengeluhkan bau tak sedap, serbuan lalat, serta kekhawatiran terhadap potensi penyakit.
“Untuk saat ini, khususnya di Perumahan Korpri, air lindi sudah masuk ke lingkungan dan rumah warga,” ujar Gilang, pengurus RT setempat.
Genangan air menutup sebagian lahan kosong di belakang rumah, disertai lumpur dan sampah kecil yang terbawa arus. Sejumlah warga terpaksa menutup pintu dan jendela untuk mengurangi bau.
Menurut Gilang, luapan air lindi tidak terjadi setiap hari, namun kerap muncul saat hujan deras karena saluran pembuangan tak mampu menampung debit air. Kondisi ini, kata dia, berulang hampir setiap musim hujan.
Baca Juga: Tiga Proyek Peningkatan Fasilitas TPA Rawa Kucing Mulai Direalisasikan
“Kalau hujan deras, debit air dari pembuangan sampah meninggi. Volume sudah tinggi, ditambah air lindi, akhirnya meluap,” ujarnya.
Dampak paling dirasakan warga adalah bau menyengat dan meningkatnya populasi lalat. Warga khawatir kondisi tersebut dapat memicu penyakit jika dibiarkan berlarut.
“Saya minta aparat berwenang bisa menangani air lindi ini dengan baik, supaya tidak masuk ke permukiman dan menimbulkan masalah kesehatan,” tegas Gilang.
Tak hanya permukiman, luapan air lindi juga merembes ke kebun warga. Mimi, petani kecil di sekitar aliran limbah, mengaku beberapa kali mengalami gagal panen akibat kebunnya terendam air limbah. “Hujan besar, air limbah naik ke sini. Setiap hujan selalu penuh,” katanya.
Ia menunjukkan bagian kebun yang tanahnya becek dan tanaman yang layu hingga mati. Menurut Mimi, air limbah terasa panas dan merusak akar tanaman.
“Kalau kena kebun, panas. Tanaman nggak jadi tumbuh. Akhirnya gagal panen dan dibuang,” ujarnya.
Mimi meyakini air limbah berasal dari area TPA. Saat hujan, penampungan tidak mampu menahan volume air sehingga meluap ke kebun dan saluran sekitar. Meski kondisi itu sudah berlangsung lama, ia mengaku belum pernah menyampaikan keluhan resmi. “Komplain ke siapa? Tidak pernah ada yang datang atau memantau,” tuturnya.
Baca Juga: DLH Kota Tangerang Bangun Pusat Daur Ulang Sampah di TPA Rawa Kucing
Air lindi merupakan cairan hasil pembusukan sampah yang mengandung zat kimia, bakteri, dan logam berat. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini berpotensi mencemari tanah, air tanah, dan udara, serta menimbulkan gangguan kesehatan.
Warga berharap pemerintah kota segera mengevaluasi sistem pengelolaan limbah di TPA Rawa Kucing, termasuk perbaikan drainase dan pengolahan air lindi.
“Kami tidak menuntut berlebihan, hanya ingin lingkungan yang aman dan sehat,” kata Gilang.
Sementara Mimi berharap kebunnya dapat kembali produktif tanpa terpapar limbah. “Kalau kebon nggak kena air itu, bisa panen,” ujarnya.
Musim hujan yang masih panjang membuat warga khawatir luapan air lindi akan terus berulang dan membawa dampak lingkungan, kesehatan, serta kerugian ekonomi. Hingga berita ini diturunkan, SatelitNews.Com belum mendapat konfirmasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang. (ari)

















