Sabtu, 12 September 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Warga Periuk Merasa Tak Diperhatikan Pemprov Banten; “Kami Ingin Situ Bulakan Dikeruk”

Oleh Made Nusantara
Minggu, 25 Jan 2026 19:57 WIB
Rubrik Headline, Kota Tangerang, Metro Tangerang, Pemprov Banten
Warga Periuk Merasa Tak Diperhatikan Pemprov Banten; "Kami Ingin Situ Bulakan Dikeruk"

MASIH TERGENANG: Salah satu sudut di Periuk Damai, Kecamatan Periuk yang masih tergenang. ISTIMEWA

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Di pelataran Masjid Jami Al-Jihad, Perumahan Periuk Damai, RW 08, Kecamatan Periuk, puluhan keluarga masih bertahan di pengungsian, Minggu (25/1/2026). Sejak banjir besar merendam kawasan itu pertengahan pekan lalu, masjid menjadi ruang aman sementara bagi warga yang rumahnya terendam air hingga nyaris menyentuh plafon.

Namun, kekecewaan muncul ketika Gubernur Banten Andra Soni tidak datang ke lokasinya meski menyambangi wilayah Periuk. “Kemarin (Sabtu, 24/1/2026) informasinya Pak Gubernur akan datang. Jam sembilan katanya sudah di sini. Saya sudah siapkan pertanyaan, siapkan usulan. Tapi batal. Alasannya kami juga tidak tahu,” ujarnya.

Kondisi ini membuat warga merasa terombang-ambing. Setiap banjir datang, bantuan darurat mengalir. Namun solusi permanen tak kunjung diwujudkan. Menurut Heribertus, warga Periuk selama ini merasa kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi, meski persoalan banjir terus berulang lintas kepemimpinan. “Dari zaman Pak Wahidin Halim sampai sekarang, belum ada realisasi nyata. Padahal ini bukan soal janji, kami cuma minta solusi,” tegasnya.

“Jujur saya kecewa,” kata Heribertus, tanpa berusaha menutupi nada getir dalam suaranya. “Saya sudah menyiapkan pertanyaan, menyiapkan usulan. Katanya jam sembilan datang. Tapi batal. Alasannya apa, kami juga tidak tahu,” Ulangnya.

Kekecewaan itu bukan semata soal seremoni kehadiran pejabat. Bagi Heribertus dan ratusan warga RW 08, kunjungan gubernur dinilai penting karena akar persoalan banjir Periuk berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi—mulai dari pengelolaan Danau Situ Bulakan hingga peninggian akses jalan yang saban tahun terendam.

“Kami tidak minta muluk-muluk,” kata Heribertus. “Kami cuma ingin pemerintah, terutama provinsi, benar-benar hadir. Bukan cuma datang saat banjir, tapi menyelesaikan supaya banjir itu tidak datang lagi.”

Baca Juga: Terancam Ditertibkan, Pedagang di Situ Bulakan Periuk Cuma Bisa Pasrah

Karpet masjid digelar rapat. Tikar, selimut, dan tas-tas plastik berisi pakaian tersusun di sudut ruangan. Lansia duduk bersandar di tiang masjid, sementara anak-anak bermain ada yang di jalan yang banjir dan di sela antrean bantuan makanan. Meski genangan mulai surut, sebagian besar warga belum berani kembali.

“Alhamdulillah hari ini air sudah turun sekitar satu meter,” ujar Heribertus Supantara, Ketua RW 08 Periuk Damai, saat ditemui di lokasi pengungsian. “Kemarin sempat 4,5 meter, sekarang tinggal 3,5 meter. Mudah-mudahan mesin pompa lancar terus supaya air bisa dibuang ke danau.”

BeritaTerbaru

MELAKUKAN PENCARIAN : Di hari keempat, tim SAR gabungan, melakukan pencarian rombongan wartawan yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. (ADIB FAHRI/SATELITNEWS.COM)

Hari Keempat, Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di GAK Masih Nihil

Jumat, 11 Sep 2026 19:57 WIB
Pemkab Tangerang Bentuk Satgas Anti Rentenir, Perluas Akses Permodalan Masyarakat

Pemkab Tangerang Bentuk Satgas Anti Rentenir, Perluas Akses Permodalan Masyarakat

Jumat, 11 Sep 2026 19:41 WIB

Polisi Tangkap 2 Tersangka Curanmor di Kontrakan, 7 Motor Dicuri

Jumat, 11 Sep 2026 18:59 WIB
MENUNJUKKAN LIFE JACKET : Pemilik Kapal Arupadatu 1, Sandi menunjukkan life jacket yang sempat ditemukan tim SAR gabungan. (ISTIMEWA)

Temuan Jaket Pelampung Dipastikan Bukan dari Kapal Pembawa Rombongan Jurnalis

Jumat, 11 Sep 2026 18:49 WIB

Namun, bagi Heribertus, surutnya air bukan akhir persoalan. Ia menyebut, banjir besar di Periuk Damai adalah siklus berulang yang selalu datang saat curah hujan tinggi, terutama ketika debit air dari kali meluap dan tak tertampung. “Kami berharap dalam minggu-minggu ke depan air benar-benar kering, warga bisa bebersih, bebenah rumah, lalu kembali. Tapi setelah itu, persoalan besarnya tetap sama,” katanya.

Perumahan Periuk Damai, khususnya RW 08, dikenal sebagai kawasan cekungan. Warga menyebut, setiap lima tahun sekali banjir besar datang dengan ketinggian ekstrem. Tahun ini menjadi salah satu yang terparah. “Kalau dibandingkan banjir 2020–2021, ini lebih parah,” ujar Heribertus. “Dulu rumah saya airnya belum sampai plafon. Sekarang sudah lewat.”

Menurut catatan warga, banjir terdalam sebelumnya terjadi pada periode 2017–2019, ketika ketinggian air menembus hampir 5,5 meter. Tahun ini, air mencapai sekitar 4,5 meter—cukup untuk melumpuhkan aktivitas dan memaksa ratusan keluarga mengungsi.

Di RW 08 sendiri, terdapat 286 kepala keluarga dengan sekitar 860 jiwa, terdiri atas 136 lansia dan sekitar 40 balita. Dari jumlah itu, sekitar 85 persen warga mengungsi, sementara sisanya menumpang di rumah kerabat atau lokasi pengungsian lain di RW 09 dan fasilitas umum. “Kasihan itu lansia. Kalau banjir besar begini, yang paling terdampak ya mereka,” kata Heribertus.

Baca Juga: Normalisasi Situ Bulakan, Gubernur Banten Berharap Daya Tampung Jadi 600 Ribu Meter Kubik

Banjir kali ini diperparah oleh jebolnya tembok pembatas—yang kerap disebut warga sebagai tanggul—di beberapa titik. Tembok tersebut memisahkan RW 08 dengan RW 11 dan RW 13. “Sudah jebol sampai empat kali,” ujar Heribertus. “Awalnya itu bukan tanggul, cuma pembatas. Karena sering direhab, dibesarkan, tapi kualitasnya kurang kuat. Pernah swadaya juga, tapi ya hasilnya tidak maksimal.”

Debit air yang tinggi dan arus balik dari saluran lain membuat pembatas itu kembali roboh. Upaya perbaikan parsial, menurut warga, justru menimbulkan pemborosan karena tak menyentuh akar masalah.

Kastia (60), salah satu pengungsi, menyebut ada tiga titik tembok pembatas yang roboh pada banjir kali ini. “Bangunan itu sudah lama. Yang baru dibangun tahun 2021 aman. Tapi yang lama ini akhirnya jatuh, pembangunanya tidak menyeluruh” katanya. Ia menyebut, banjir kali ini sedikit lebih rendah dibandingkan 2021, namun dampaknya hampir sama. “Sebelas-dua belas. Tetap saja menyiksa,” ujarnya.

Di balik keluhan warga, satu nama selalu muncul yaitu Danau Situ Bulakan. Warga meyakini, pendangkalan danau dan rendahnya kapasitas tampung menjadi penyebab utama meluasnya banjir ke permukiman. “Intinya kami cuma minta satu: Situ Bulakan dikeruk dan jalannya ditinggikan,” kata Heribertus. “Supaya saat musim hujan, debit air yang over bisa tertampung dan tidak meluber ke perumahan.”

Masalahnya, kata dia, kewenangan danau berada di tangan Pemerintah Provinsi Banten. Usulan pengerukan dan peninggian jalan telah berulang kali diajukan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), baik di tingkat RW, kelurahan, hingga kecamatan. “Setiap tahun di musrenbang selalu ada. Tapi sampai awal 2026 ini, belum ada realisasi yang benar-benar kelihatan dan bisa dinikmati warga,” ujarnya.

Kondisi jalan di sekitar danau juga menjadi sorotan. Setiap hujan deras, akses warga ke wilayah sekitar, termasuk ke arah kabupaten, kerap terputus karena genangan. “Baru hujan kecil saja sudah tidak bisa nyebrang,” kata Heribertus. “Warga selalu resah. Hujan sedikit saja sudah waswas.”

Pasca banjir, Pemerintah Kota Tangerang bergerak cepat. Wali Kota Tangerang, Kapolres, BPBD, PMI, dan aparat lainnya turun ke lokasi. Bantuan logistik berupa makanan, selimut, mi instan, minyak, air minum, hingga layanan kesehatan disalurkan ke pengungsian. “Untuk makan, alhamdulillah tidak kekurangan,” kata Heribertus. “Bantuan dari Pemkot, kepolisian, dan lainnya ada.”

Di pengungsian, bantuan makanan datang silih berganti. Namun Ibu Kastia mengingatkan, persoalan justru muncul setelah air surut. “Waktu banjir, bantuan makan berlimpah. Tapi setelah surut, saat warga bersih-bersih rumah, itulah yang paling butuh makanan,” katanya. “Sering kali justru sepi bantuan.”

Ia berharap pemerintah dan para wakil rakyat dari daerah pemilihan setempat mengawal aspirasi warga agar perbaikan infrastruktur dilakukan secara menyeluruh, bukan tambal sulam. “Kami minta dikawal lewat anggota dewan. Supaya ada perhatian serius ke depannya,” ujarnya.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mencatat banjir akibat hujan deras sejak Kamis (22/1/2026) pukul 05.20 WIB merendam sedikitnya 15 titik jalan dan permukiman, terutama di Kecamatan Periuk. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan ketinggian air bervariasi, dengan genangan terdalam mencapai 450 sentimeter di Periuk Damai RW 08. “Periuk menjadi wilayah dengan genangan terdalam. Kami terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat,” ujarnya, Minggu (25/1/2026).

Jumlah pengungsi sempat mencapai 5.030 jiwa pada 23 Januari, turun menjadi 4.195 jiwa pada 24 Januari, dan 2.206 jiwa per 25 Januari seiring surutnya genangan. BPBD bersama dinas terkait menyiagakan posko pengungsian, dapur umum, layanan kesehatan, serta perahu karet untuk evakuasi. Petugas juga melakukan penyedotan genangan dan pembersihan fasilitas umum. Meski debit air mulai menurun, BPBD tetap mengimbau warga waspada terhadap potensi hujan susulan. (ari)

Tags: Kami Ingin Situ Bulakan Dikeruksitu bulakanWarga Periuk Merasa Tak Diperhatikan Pemprov Banten
ShareTweetKirimShareShareKirim

BeritaTerkait

Buruh berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Tangerang. (ALFIAN/SATELIT NEWS)
Headline

Buruh Tangerang Kantongi Rekomendasi DPRD, Dorong Pengesahan RUU Perlindungan Tenaga Kerja

Jumat, 11 Sep 2026 15:47 WIB
Headline

Doa Bersama untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Digelar di Islamic Center Tangsel

Jumat, 11 Sep 2026 15:42 WIB
MELAKUKAN PENCARIAN: Gubernur Banten Andra Soni, ikut bergabung melakukan pencarian rombongan wartawan yang dikabarkan hilang.. (ADIB FAHRI/SATELITNEWS.COM)
Banten Region

Gubernur Banten Ikut Langsung Dalam Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di GAK

Jumat, 11 Sep 2026 13:28 WIB
MELAKUKAN PENCARIAN : Tim SAR gabungan melakukan pencarian rombongan wartawan di perairan Selat Sunda. (ADIB FAHRI/SATELITNEWS.COM)
Banten Region

Ini Detail Lokasi Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di Hari ke Empat

Jumat, 11 Sep 2026 10:26 WIB
APEL : Tim gabungan melakukan apel sebelum kembali melakukan pencarian di perairan Selat Sunda. (ADIB FAHRI/SATELITNEWS.COM)
Banten Region

Hari Keempat, Tim SAR Perluas Pencarian di 4 Sektor Utama dan 1 Sektor Khusus

Jumat, 11 Sep 2026 10:19 WIB
MENYAMPAIKAN KETERANGAN : Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan keterangan kepada wartawan. (ADIB FAHRI/SATELITNEWS.COM)
Banten Region

Dukung Penuh Pencarian Rombongan Wartawan, Pemprov Banten Siapkan Fasilitas Ini

Jumat, 11 Sep 2026 10:11 WIB
Turut Berduka Cita Atas Wafatnya H. Desri Arwen
Pendaftaran Obyek Subyek Pajak Daerah Bapenda Tangsel
HUT RI Ke 81 Dinas perpustakaan dan arsip Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 PT LKM Artha Kerta Raharja
HUT RI Ke 81 Dinsos Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 Bapenda Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Berita Pilihan

Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring Tangerang, DLH Turun Tangan dan Larang Warga Konsumsi

Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring Tangerang, DLH Turun Tangan dan Larang Warga Konsumsi

Kamis, 10 Sep 2026 17:23 WIB
Disnaker Kabupaten Tangerang Matangkan Pembentukan Tim Deteksi Dini Kerawanan Ketenagakerjaan

Disnaker Kabupaten Tangerang Matangkan Pembentukan Tim Deteksi Dini Kerawanan Ketenagakerjaan

Selasa, 8 Sep 2026 08:09 WIB
Pasar Tigaraksa Sepi, DPRD Kabupaten Tangerang Soroti Kinerja Perumda Pasar NKR

Pasar Tigaraksa Sepi, DPRD Kabupaten Tangerang Soroti Kinerja Perumda Pasar NKR

Senin, 7 Sep 2026 20:23 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, 14 Letusan Tercatat Sejak 4 September

Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, 14 Letusan Tercatat Sejak 4 September

Minggu, 6 Sep 2026 16:39 WIB
Ditengah Aktivitas Erupsi GAK, Anggota DPC Partai Demokrat Pandeglang Bagikan Masker

Ditengah Aktivitas Erupsi GAK, Anggota DPC Partai Demokrat Pandeglang Bagikan Masker

Senin, 7 Sep 2026 19:54 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.