SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) terus melakukan terobosan untuk menekan angka pengangguran di wilayahnya. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan PT Wahana untuk menempatkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bekerja di Jepang.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang, Ujang Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari nota Kesepahaman (MoU) yang melibatkan 63 SMK di Kota Tangerang. Program ini menyasar para siswa SMK, seperti di SMKN 10 Kota Tangerang, sebagai calon pencari kerja potensial. “Program ini adalah solusi untuk mengantisipasi banyaknya perusahaan di Kota Tangerang yang pindah ke daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur,” ujar Ujang dalam sosialisasi di SMKN 10, Selasa (3/2/2026).
Para lulusan SMK yang berhasil lolos seleksi akan mendapatkan kontrak kerja awal selama 5 tahun yang dapat diperpanjang. Menariknya, bagi mereka yang telah menyelesaikan kontrak 10 tahun, terdapat kesempatan untuk mengajukan izin tinggal tetap (permanent resident) sehingga tidak perlu lagi mengurus visa kerja.
Tawaran gaji yang diberikan pun cukup menggiurkan, yakni berkisar antara Rp19 juta hingga Rp23 juta per bulan. Selain itu, pekerja juga diberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau mengambil sertifikasi keahlian di Jepang. Ujang menekankan bahwa persyaratan utama untuk berangkat adalah minimal berusia 18 tahun, memiliki paspor, serta sertifikasi keahlian SSW (Specified Skilled Worker) dan sertifikasi penguasaan bahasa Jepang yang diterbitkan resmi oleh pemerintah Jepang.
“Khusus di SMKN 10, siswa sudah mendapatkan pelajaran bahasa Jepang. Nantinya, PT Wahana akan memfasilitasi pendalaman materi agar siswa bisa mencapai sertifikasi bahasa hingga level N1, karena di Jepang, semakin tinggi tingkat kemampuan bahasa, maka gaji yang diterima akan semakin besar,” jelasnya.
Untuk meringankan beban calon tenaga kerja, Pemerintah Kota Tangerang saat ini tengah menggodok regulasi terkait bantuan subsidi biaya pembuatan paspor dan pemeriksaan kesehatan (Medical Check-Up). Rencananya, bantuan ini akan dialokasikan melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT) atau Anggaran Perubahan.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Perluas Peluang Kerja ke Jepang, 271 Tenaga Kerja Telah Diberangkatkan
Disnaker Kota Tangerang menargetkan dapat memberangkatkan sekitar 300 hingga 500 siswa dari 63 sekolah yang terlibat dalam tahap awal ini. Ujang berharap para lulusan yang berangkat nantinya dapat menjadi motivator bagi rekan-rekan mereka di Kota Tangerang untuk berani berkarier di kancah internasional. “Target kita minimal ada perwakilan dari setiap sekolah. Meski ini program rintisan, kami optimis bisa memberikan dampak positif bagi pengurangan pengangguran di Kota Tangerang,” pungkasnya.
Sementara Kepala SMKN 10 Kota Tangerang Edeh Kurniati mengungkapkan, meskipun para siswa saat ini baru menduduki bangku kelas 11, antusiasme untuk berkarier di luar negeri sudah terlihat sangat tinggi. Hal ini diperkuat dengan adanya sosialisasi dari mitra industri, yakni PT Wahana, yang memberikan gambaran peluang kerja di sana. “Anak-anak kelihatannya sudah banyak yang tertarik. Kebetulan di sini juga ada ekskul Bahasa Jepang dan peminatnya cukup banyak,” ujar Kepala Sekolah dalam sesi wawancara baru-baru ini.
Pemilihan Jepang sebagai negara tujuan bukan tanpa alasan. Kepala Sekolah menjelaskan bahwa jurusan Animasi yang ada di SMKN 10 memiliki kedekatan kultur karya dengan industri di Jepang. Banyak siswa yang menjadikan gaya animasi Jepang (anime) sebagai kiblat dalam berkarya, sehingga peluang untuk bekerja di sana dinilai sangat relevan. Selain penguasaan bahasa melalui kegiatan ekstrakurikuler, pihak sekolah juga fokus pada pemantapan keahlian teknis siswa. “Sementara ini kita menyiapkan kompetensi anak sesuai kebutuhan (industri),” tambahnya.
Mengingat SMKN 10 baru memasuki tahun kedua operasionalnya, sekolah memiliki waktu yang cukup panjang untuk menggembleng siswa kelas 11 sebelum mereka lulus. Persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari ini diharapkan dapat mematangkan mental dan kemampuan siswa.
Pihak sekolah juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses ini, termasuk memberikan pendampingan penuh jika nantinya ada siswa yang telah mendapatkan izin orang tua untuk berangkat ke Jepang. “Mudah-mudahan waktunya lebih panjang untuk persiapannya. Saya selalu siap untuk mendampingi anak-anak kapan pun dibutuhkan,” pungkasnya. (made)
