SATELITNEWS.COM, LEBAK – Kabar baik bagi masyarakat yang akan melakukan mudik maupun pengguna jalan tol Serang Panimbang (Serpan). Pasalnya, pada arus mudik Lebaran Idulditri 2026, Seksi 2 yang menghubungkan Rangkasbitung–Cileles direncanakan difungsionalkan secara gratis. Namun, rencana tersebut masih menunggu keputusan dan verifikasi dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Manajer Bidang Pengembangan Sistem dan Usaha PT Wika Serang-Panimbang, Muhammad Albagir, mengungkapkan progres konstruksi Seksi 2 dengan panjang 24,17 kilomter saat ini telah mencapai 96,78 persen. “Untuk Seksi 2 progresnya sudah mencapai 96,78 persen,” ujar Albagir, kepada SatelitNews.Com, melalui sambungan teleponnya, Kamis (5/2/2026)
Sementara, untuk Seksi 3 terbagi dalam dua paket besar, yakni 3A dan 3B. Ia merinci, progres Seksi 3A telah menyentuh 99,71 persen. Sedangkan Seksi 3B terbagi dalam empat paket pekerjaan.
“Di 3B dari empat paket, ada dua yang sudah tahap konstruksi, yakni paket 3B2 dan 3B3. Untuk B3 per 1 Desember sudah groundbreaking, sedangkan B4 masih dalam tahap pendanaan,” jelasnya.
Terkait rencana operasional saat mudik, Albagir menyebut ruas Rangkasbitung–Cileles diproyeksikan dibuka fungsional guna mendukung kelancaran arus Lebaran 2026.
“Ya, memang kita rencanakan untuk arus mudik 2026 dibuka secara fungsional gratis. Namun hal tersebut masih menunggu instruksi dari Kementerian PU. Rencananya dalam satu dua minggu ke depan kementerian akan melakukan visit untuk memverifikasi kesiapan Seksi 2 difungsionalkan,” katanya.
Baca Juga: Jelang Arus Mudik Lebaran, Kelaikan Bus Dicek di Terminal Mandala Lebak
Dari sisi pelayanan, pengelola tol mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah menghadapi lonjakan kendaraan saat Ramadan dan Idulfitri.
“Untuk kesiapan menyambut puasa dan Lebaran, kami sudah melakukan peningkatan jalan di beberapa titik yang bergelombang atau kurang maksimal. Dari sisi operasional, kami juga menyiapkan posko keamanan dan keselamatan serta menambah personel untuk pelayanan 24 jam selama tujuh hari penuh,” paparnya.
Menanggapi keluhan masyarakat terkait tarif Tol Serang–Panimbang yang dianggap mahal, Albagir menjelaskan bahwa penetapan tarif memiliki sejumlah komponen perhitungan.
“Ada tiga komponen pembentuk tarif, yakni biaya konstruksi atau investasi, biaya operasional kendaraan (BOK), serta ability to pay dan willingness to pay. Tarif juga ditentukan melalui kajian dan ditetapkan oleh Kementerian PU,” terangnya.
Ia membandingkan dengan tol lama seperti Jagorawi yang kerap dijadikan acuan masyarakat.
“Kalau dibandingkan dengan Jagorawi tentu berbeda. Tol Jagorawi dibangun tahun 1980-an, sedangkan Tol Serang–Panimbang mulai dibangun 2017. Dari sisi biaya konstruksi dan inflasi jelas berbeda. Ini yang perlu dipahami masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Satlantas Polresta Serang Gelar Ramp Check di Terminal Pakupatan
Dari sisi trafik, volume kendaraan yang melintas Tol Serang–Panimbang saat ini berkisar 5.000 hingga 6.000 kendaraan per hari. Namun terjadi lonjakan signifikan pada momen libur panjang.
“Pengguna meningkat saat Lebaran, libur sekolah, Nataru, atau long weekend. Data kami menunjukkan mayoritas pengguna tol ini untuk kepentingan wisata, sehingga saat libur panjang trafik bisa naik hingga belasan ribu kendaraan,” pungkasnya.
Sementara, rencana pembukaan fungsional saat mudik disambut positif sejumlah pengguna jalan. Faris (38), mengaku keberadaan ruas baru akan memangkas waktu tempuh.
“Kalau benar dibuka gratis tentu sangat membantu. Biasanya macet di jalur arteri, apalagi pas mudik bisa berjam-jam,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rina (31), pengguna tol yang kerap bepergian ke kawasan wisata di Lebak Selatan dan Pandeglang. Ia berharap pembukaan Seksi 2 tak hanya sementara.
“Harapannya bukan cuma mudik saja, tapi bisa segera dioperasikan penuh. Soalnya akses ke selatan jadi lebih cepat,” katanya.
Pembukaan fungsional ruas baru saat mudik diharapkan tak hanya memecah kepadatan arus, tetapi juga menjadi penanda percepatan konektivitas wilayah selatan Banten yang selama ini dinanti.(mulyana)

















