SATELITNEWS.COM, LEBAK–Perjuangan menuntut ilmu bagi para pelajar SMAN 4 Rangkasbitung tak hanya soal belajar di ruang kelas. Setiap pagi, ratusan siswa harus lebih dulu “bergelut” dengan jalan berlumpur sepanjang 300 meter yang menjadi akses utama menuju sekolah di Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Kondisi jalan yang rusak parah itu berubah bak kubangan kerbau setiap kali hujan turun. Lumpur tebal menutup hampir seluruh badan jalan, mulai dari bagian tengah hingga ke pinggir. Permukaannya licin, bergelombang, dan dipenuhi jejak roda yang menganga dalam.
Tak sedikit siswa yang harus menahan laju kendaraan, bahkan menuntun sepeda motor agar tidak tergelincir. Sementara yang berjalan kaki harus melangkah perlahan mencari pijakan yang lebih keras, meski sering kali tetap berakhir dengan sepatu dan seragam kotor.
Kartika, siswi SMAN 4 Rangkasbitung, menuturkan jalan tersebut merupakan jalur tercepat yang setiap hari mereka lalui agar tidak terlambat masuk sekolah. Namun di musim hujan, akses itu justru menjadi sumber kekhawatiran. “Setiap hari kami berangkat sekolah lewat jalan ini karena ini akses utama dan lebih cepat. Tapi kalau hujan, jalannya becek dan licin. Biasanya hari Senin masih becek karena lumpurnya lama kering,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, kondisi terparah terjadi saat hujan turun pada malam hari. Keesokan paginya, jalan berubah seperti ladang lumpur yang belum tersentuh perbaikan. Ia menyebut, bukan hanya pengendara motor yang kesulitan. Siswa yang berjalan kaki pun kerap harus menerima nasib seragamnya kotor sebelum pelajaran dimulai. “Yang jalan kaki juga sering kotor karena bukan cuma di tengah, di pinggir jalan juga becek,” tambahnya.
Pemandangan siswa terpeleset, sepatu dipenuhi lumpur, hingga menuntun motor perlahan sudah menjadi hal biasa setiap musim hujan tiba. Kondisi itu membuat perjalanan ke sekolah terasa seperti mempertaruhkan keselamatan.
Baca Juga: Awal Agustus, Pemkot Tangerang Mulai Perbaiki Empat Ruas Jalan Rusak
Kekhawatiran juga dirasakan para orang tua. Nurhayati, salah satu wali murid, mengaku setiap hari diliputi rasa cemas saat anaknya berangkat sekolah. Ia takut jalan licin tersebut memicu kecelakaan, terlebih saat anak-anak berangkat di pagi hari ketika jalan masih sangat becek. “Kalau hujan saya selalu khawatir. Takut anak jatuh atau kenapa-kenapa di jalan. Soalnya memang licin sekali,” katanya.
Menurutnya, kerusakan jalan itu sudah berlangsung cukup lama, namun belum juga ada perbaikan berarti. Padahal, akses tersebut dilalui ratusan pelajar setiap hari. Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret sebelum jatuh korban. “Harapannya jalan ini segera diperbaiki, kalau bisa secepatnya, supaya anak-anak lebih aman dan nyaman saat berangkat sekolah,” pintanya.
Warga sekitar pun menyuarakan harapan serupa. Jalan sepanjang 300 meter itu dinilai sebagai akses vital, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru dan masyarakat sekitar. Mereka berharap, perjuangan pelajar menuju sekolah tak lagi diwarnai lumpur dan rasa waswas, karena perjalanan meraih masa depan seharusnya dimulai dari jalan yang aman, bukan dari kubangan yang membahayakan. (mulyana)
























