SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Penemuan Sesar Cisadane yang membentang di wilayah Jabodetabek memicu perhatian publik. Tapi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mengaku belum menerima kajian ilmiah maupun membahas langkah mitigasi.
“Belum ada pembahasan, data dan kajian ilmiahnya juga belum kami dapat,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar, saat dihubungi SatelitNews.Com, via WhatsApps Rabu (18/2/2026).
Sesar Cisadane dikategorikan sebagai sesar potensial aktif. Artinya, patahan tersebut memotong batuan berumur Kuarter dan pernah bergerak secara geologis, tetapi belum memiliki catatan gempa besar pada periode modern. Status ini berbeda dengan Sesar Baribis Citarik yang telah terbukti aktif pada kala Holosen dan memiliki data kegempaan.
Penyelidik Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM, Sukahar Eka, menjelaskan penetapan status potensial aktif didasarkan pada bukti geologi lapangan. “Sesar potensial aktif ditandai patahan yang memotong batuan Kuarter, tetapi belum didukung data gempa terekam,” katanya sebagaimana dikutip dari Kompas.Com.
Secara morfologi, sesar mendatar ini berarah barat laut tenggara mengikuti alur Sungai Cisadane. Panjangnya diperkirakan sekitar 126 kilometer, melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Tangerang Selatan kawasan padat penduduk dan pembangunan.
Indikasi lapangan ditemukan di Gunung Panjang (Gunung Kapur–Ciseeng), Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, berupa retakan memanjang yang memotong batuan Kuarter.
Baca Juga: BPBD Tangerang Ingatkan Warga Waspada Bencana, Tak Perlu Panik
Tim juga menemukan deretan rawa alami atau sag pond di Rumpin dan Parung. Cekungan kecil ini terbentuk akibat mekanisme pergerakan patahan mendatar sejajar (pull-apart basin) dan menjadi penanda aktivitas tektonik masa lalu. Di Parung, sebagian sag pond dimanfaatkan warga sebagai pemandian air panas.
Badan Geologi melakukan pemetaan patahan skala 1:100.000 pada akhir 2025 melalui interpretasi citra DEMNAS, analisis data geologi dan kegempaan, survei lapangan, serta akuisisi data LiDAR. Kegiatan ini melibatkan Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, dan pihak swasta. Menurut Sukahar, tidak adanya catatan gempa besar bukan berarti sesar dapat diabaikan.
Pemetaan ini diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah Bogor hingga Tangerang. Ia menegaskan, Sesar Cisadane bukan sumber gempa darat megathrust. Namun masyarakat tetap diminta waspada tanpa panik, memperkuat struktur bangunan, mengikuti sosialisasi kebencanaan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. “Gempa tidak bisa dicegah dan waktunya tak dapat dipastikan. Yang bisa dilakukan adalah kesiapsiagaan,” ujarnya. (made)




















