SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Di balik deru mesin pesawat yang membelah belantara Kalimantan Utara (Kaltara), ada denyut nadi pembangunan yang sedang diantarkan. Namun, pada Kamis (19/2/2026), deru itu terhenti di Pa’ Betung, Krayan Timur.
Capt. Hendrick Lodewyck Adam, seorang pilot yang mendedikasikan hidupnya sebagai jembatan udara bagi energi nasional, gugur dalam tugasnya.
Bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Capt. Hendrick bukan sekadar penerbang kargo.
Ia adalah sosok di balik kemudi pesawat Air Tractor AT-802 yang memastikan api di dapur warga tetap menyala dan roda kendaraan di perbatasan tetap berputar melalui program BBM Satu Harga.
Dedikasinya sebagai “pejuang energi” dibuktikan hingga detik terakhir. Pesawat yang dioperasikan PT Pelita Air Service tersebut jatuh justru setelah misi penyaluran BBM ke Long Bawan dinyatakan tuntas.
Sang kapten gugur dalam perjalanan kembali menuju Bandara Juwata, Tarakan, membawa pulang kehormatan sebagai pahlawan yang memastikan keadilan energi merata hingga ke beranda republik.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyampaikan duka yang mendalam atas hilangnya salah satu putra terbaik yang mendukung misi kemanusiaan dan kedaulatan energi tersebut.
“Kami turut berduka cita. Sesaat setelah menerima kabar kecelakaan, saya selaku Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), langsung melakukan koordinasi intensif dengan jajaran Kepolisian dalam hal ini Kapolda Kaltara hingga Kapolres Nunukan untuk memastikan proses evakuasi berjalan cepat, aman, dan sesuai prosedur,” tutur Iriawan, Jumat (20/2/2026).
Iriawan menekankan bahwa proses evakuasi di medan yang sulit tersebut dilakukan dengan perhitungan matang sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi almarhum.
“Keselamatan dalam seluruh proses menjadi prioritas utama, sehingga setiap tahapan dilakukan dengan perhitungan matang melalui koordinasi lintas instansi,” tambahnya.
Jejak Pengabdian di Langit 3T
Misi yang diemban Capt. Hendrick bukanlah pekerjaan ringan. Menerbangkan pesawat kargo khusus di atas topografi ekstrem Kalimantan menuntut kemahiran sekaligus keteguhan hati.
Kehadirannya merupakan perpanjangan tangan negara dalam memastikan masyarakat di perbatasan tidak merasa ditinggalkan. Kini, sang pejuang energi itu telah menyelesaikan penerbangan terakhirnya.
Meski jasadnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jumat (20/2/2026) WIB dan disemayamkan di Bogor, jejak dedikasinya akan tetap hidup.
Setiap tetes BBM yang kini tersalurkan di pelosok Krayan menjadi saksi bisu atas perjuangan seorang penerbang yang melampaui tugas sekadar profesi, demi tegaknya kedaulatan energi di seluruh pelosok negeri. Selamat jalan, Capt. Hendrick. (rm)