SATELITNEWS.COM, LEBAK–Penyegelan rumah aspirasi milik Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya oleh Mulyadi Jayabaya yang juga ayah kandung sang bupati memunculkan bermacam spekulasi. Salah satunya adanya ketidakharmonisan hubungan ayah dan anak. Jika dugaan itu benar, kondisi itu dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pemerintahan daerah.
Pegiat demokrasi Banten yang juga warga Kabupaten Lebak, Nana Subana, menilai adanya dugaan konflik yang mencuat antara dua tokoh politik tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat jika tidak segera dijelaskan secara terbuka.
Menurut Nana, polemik yang berkembang sebenarnya berawal dari persoalan internal keluarga, namun menjadi perhatian publik karena keduanya merupakan figur yang memiliki pengaruh besar di Kabupaten Lebak.
“Ini sebenarnya persoalan keluarga yang kemudian menjadi konsumsi publik. Kebetulan JB adalah mantan bupati dan tokoh publik, sementara anaknya, Hasbi, adalah bupati yang sedang menjabat. Maka setiap pernyataan tentu akan mendapat perhatian masyarakat,” ujarnya, saat dihubungi melalui sambungan teleponnya, Rabu (11/3/2026).
Rumah aspirasi yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Desa Kaduagung Timur, Kecamatan Cibadak itu selama ini dikenal sebagai tempat yang digunakan Hasbi untuk menerima aspirasi masyarakat sejak menjabat anggota DPR RI. Penyegelan bangunan tersebut dilakukan pada Selasa (10/3/2026). Peristiwa itu memicu berbagai dugaan di tengah masyarakat, termasuk munculnya tudingan mengenai dugaan praktik jual beli jabatan.
Nana menilai tuduhan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka agar tidak berkembang menjadi isu liar di tengah masyarakat. “Kalau memang pernyataan itu benar, tentu harus dibuktikan. Sebagai tokoh publik, pernyataan yang disampaikan seharusnya disertai fakta yang jelas,” katanya.
Ia menambahkan, apabila pihak yang menyampaikan tuduhan memiliki data atau informasi yang kuat, hal tersebut sebaiknya disampaikan kepada aparat penegak hukum agar dapat ditindaklanjuti secara transparan.
Di sisi lain, Nana juga menilai Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya perlu memberikan klarifikasi kepada masyarakat mengenai fungsi rumah aspirasi tersebut, mengingat tempat itu selama ini dikenal sebagai fasilitas yang digunakan dalam aktivitas politiknya.
Menurutnya, konflik yang melibatkan hubungan ayah dan anak tersebut juga berpotensi berdampak pada jalannya pemerintahan daerah apabila tidak segera diselesaikan secara terbuka. “Pertarungan internal keluarga yang kebetulan mereka adalah pejabat publik pasti akan berpengaruh terhadap masyarakat. Jika konflik ini terus berlanjut, tentu bisa berdampak pada pembangunan daerah,” ujarnya.
Sebelumnya, Mulyadi Jayabaya membenarkan bahwa rumah aspirasi tersebut ditutup setelah dirinya menerima sejumlah laporan terkait aktivitas yang dinilai tidak semestinya. “Betul, rumah aspirasi itu saya tutup karena sering dipakai hal-hal yang tidak benar,” tegas JB melalui sambungan telepon kepada wartawan.(mulyana)