SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Libur Lebaran yang biasanya menjadi momentum lonjakan wisatawan justru tak sepenuhnya dirasakan sejumlah destinasi di Kabupaten Tangerang. Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) mencatat angka kunjungan yang tergolong rendah, bahkan memunculkan dugaan maraknya pungutan liar (pungli) sebagai salah satu penyebabnya.
Dari delapan destinasi wisata yang tersebar di wilayah tersebut—mulai dari Makam Keramat Solear, Pulau Cangkir, Alun-alun Tigaraksa, Water World, Hutan Mangrove Desa Muara Teluk Naga, hingga Taman Mangrove Ketapang—jumlah wisatawan pasca Hari Raya Idulfitri 1447 H hanya mencapai 25.870 orang.
Kepala Seksi Pariwisata Disporabudpar Kabupaten Tangerang, Aci Sulastriyana, mengungkapkan bahwa data tersebut dihimpun pada periode H+3 dan H+4 Lebaran 2026.
“Pasca Idulfitri 1447 H/2026 M, hanya 25.870 wisatawan yang berkunjung ke delapan destinasi wisata di Kabupaten Tangerang,” ujar Aci kepada Satelit News, Kamis (2/4).
Ia menjelaskan, jumlah tersebut mencakup sejumlah destinasi unggulan seperti Telaga Biru Cigaru, Tebing Koja, Makam Keramat Solear, Pulau Cangkir, Alun-alun Tigaraksa, Water World, Hutan Mangrove Desa Muara Teluk Naga, serta Taman Mangrove Ketapang Mauk.
“Jumlah wisatawan pada H+3 dan H+4 Lebaran tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Itu merupakan akumulasi dari delapan destinasi wisata yang kerap dikunjungi masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Kapolresta Tangerang Dorong Generasi Muda Jadi Pelopor Kamtibmas
Namun demikian, angka 25.870 pengunjung dinilai masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang yang mencapai sekitar 3,4 juta jiwa. Aci menduga, salah satu faktor yang memengaruhi minimnya kunjungan adalah maraknya praktik pungutan liar di sejumlah lokasi wisata.
“Pasti memengaruhi sedikitnya wisatawan. Yang tadinya berniat berlibur, malah terbebani pungli,” terangnya.
Selain pungli, faktor lain yang disorot adalah kurangnya perawatan dan pengelolaan di beberapa destinasi wisata. Kondisi ini membuat daya tarik wisata menurun dan membuat pengunjung enggan kembali.
Contohnya terlihat di Telaga Biru Cigaru dan Tebing Koja. Kedua destinasi ini sempat viral dan ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar daerah. Bahkan, salah satu artis ternama Indonesia pernah melakukan sesi prapernikahan di Tebing Koja. Namun kini, kondisinya berbanding terbalik—cenderung sepi pengunjung, bahkan setelah momen Lebaran.
“Ditambah kondisi lokasi yang kurang menarik, sehingga minat pengunjung berkurang,” ujarnya.
Aci juga mengakui, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki keterbatasan dalam melakukan intervensi terhadap sejumlah destinasi wisata tersebut. Pasalnya, sebagian lokasi dikelola oleh pihak swasta maupun perorangan.
Baca Juga: Curanmor Diduga Bersenjata Api Gegerkan Citra Raya, Polresta Tangerang Lakukan Penyelidikan
“Pemerintah tidak bisa mengintervensi secara langsung karena sejumlah tempat wisata dikelola oleh swasta dan pribadi,” tutupnya.
Sementara itu, keluhan serupa datang dari warga. Muhammad Iksan, warga Kampung Guradog, Desa Pete, Kecamatan Tigaraksa, menilai pungutan liar di lokasi wisata Kabupaten Tangerang sudah terlalu banyak dan cenderung mahal.
Ia mengaku sebelumnya kerap mengunjungi Telaga Biru dan Tebing Koja. Namun, banyaknya pungli di sepanjang akses menuju lokasi membuatnya kapok untuk kembali. “Setiap tikungan ada pungutan. Padahal tempatnya biasa saja,” katanya.
Menurutnya, kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Pantai Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo. Meski memiliki potensi yang cukup baik, banyaknya pungli membuat kenyamanan pengunjung terganggu.
“Sebetulnya Tebing Koja dan Telaga Biru cukup bagus untuk melepas penat. Kabupaten Tangerang juga punya pantai yang indah, tapi punglinya tidak ketulungan. Saya kapok ke sana lagi,” ujarnya. (alfian/aditya)

















