SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pemerintah mengklaim ketahanan pangan nasional berada dalam posisi aman setelah cadangan beras menembus 4,6 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah. Neraca pangan nasional juga diproyeksikan tetap surplus hingga Mei 2026, meski dibayangi ancaman El Nino dan tekanan global.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menyebut lonjakan stok itu sebagai bantalan penting bagi stabilitas pasokan. “Cadangan beras per pagi hari tanggal 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton. Kemarin 4,5, sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Secara keseluruhan, stok pangan nasional diperkirakan mencapai 28 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 2,6 juta ton per bulan, cadangan tersebut secara hitungan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10–11 bulan ke depan.
Gambaran ini sejalan dengan proyeksi neraca pangan yang menunjukkan surplus pada sejumlah komoditas utama. Hingga Mei 2026, beras diperkirakan surplus 16,39 juta ton dan jagung 4,3 juta ton. Gula konsumsi, daging ayam, dan telur juga berada dalam kondisi mencukupi.
Dalam skenario cuaca ekstrem, pemerintah tetap optimistis produksi bisa bertahan. “Kalau terjadi El Nino, produksi kita masih ada sekitar 2 juta ton per bulan. El Nino diperkirakan enam bulan, sementara persiapan kita mencapai 10–11 bulan. Artinya aman,” kata Amran.
Di tengah proyeksi pasokan tersebut, kondisi harga juga diklaim relatif terkendali. Inflasi pangan turun dari 2,5 persen menjadi 1,58 persen pada Maret 2026. Selama Ramadan, harga sempat melampaui harga eceran tertinggi (HET) pada beberapa komoditas, namun dinilai masih dalam batas wajar.
Baca Juga: Realisasi Pajak Daerah Lampaui Target, Pundi-pundi Pemkab Tangerang Makin Tebal
Berbagai intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas, mulai dari penyaluran bantuan pangan kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat, operasi pasar melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), hingga Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Namun di lapangan, tantangan distribusi masih menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi daerah yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Selain itu, tidak seluruh cadangan berada dalam bentuk yang siap digunakan dalam waktu singkat. Sebagian stok masih tersimpan di tingkat rumah tangga dan sektor usaha, serta dalam bentuk tanaman yang belum dipanen (standing crop), sehingga ketersediaannya bergantung pada kelancaran panen.
Ancaman El Nino turut menjadi variabel penting. Pemerintah memperkirakan fenomena ini berlangsung sekitar enam bulan dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti perbaikan jaringan irigasi, penyebaran sekitar 80.000 pompa air, serta optimalisasi lahan rawa seluas 800.000 hektare guna menjaga produksi.
Di tengah tekanan global, pemerintah juga melihat adanya peluang di sektor pertanian. Pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) untuk program biofuel B50 disebut dapat mengurangi impor solar hingga 5,3 juta ton.
Menurut Amran, pengalihan CPO untuk kebutuhan energi dalam negeri justru memberikan dampak positif terhadap ekspor komoditas perkebunan. Awalnya, ekspor CPO direncanakan turun dari 26 juta ton menjadi 21 juta ton. Namun, kenaikan harga komoditas akibat dinamika geopolitik global mendorong ekspor meningkat hingga 32 juta ton.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus
“Petani kita memanfaatkan kondisi geopolitik yang memanas karena harga komoditas perkebunan naik cukup tinggi,” ujar dia.
Amran juga menyebut nilai ekspor sektor pertanian meningkat sekitar Rp160 triliun, sementara impor turun sekitar Rp41 triliun. Kondisi ini dinilai menjadi berkah bagi sektor pertanian nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, tekanan terhadap pangan juga terjadi secara global. Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan ratusan juta penduduk dunia masih menghadapi krisis pangan akibat konflik dan perubahan iklim, menjadikan isu pangan semakin strategis.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah disebut memperbesar risiko krisis kemanusiaan, dengan potensi 40 juta orang menghadapi kelaparan serius. “Pangan juga semakin dipandang sebagai aset strategis yang berperan penting dalam stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia,” kata Amran.
Kendati demikian, pemerintah mengakui tantangan ke depan tidak ringan. Ketergantungan pada faktor cuaca dan dinamika global tetap menjadi variabel krusial yang berpotensi menguji klaim ketahanan stok dalam beberapa bulan mendatang. (rmg/xan)
