SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Harga minyak goreng bersubsidi merek MinyaKita di Pasar Bukit Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terpantau mengalami kenaikan dan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini dikeluhkan warga yang merasakan langsung dampaknya di tingkat pasar tradisional.
Salah seorang warga, Intan Aprilia (33), menyebutkan bahwa harga MinyaKita kemasan 1 kilogram saat ini mencapai Rp23.000. Sementara itu, untuk kemasan 2 liter, harganya menyentuh Rp45.000. Harga tersebut nyaris mendekati minyak goreng premium seperti Sunco dan sejenisnya, yang dijual sekitar Rp25.000 untuk 1 kilogram dan Rp47.000 hingga Rp48.000 untuk kemasan 2 liter.
“Mahal banget minyak sekarang. Mau beli yang biasa bukan Minyakita tapi melambung tinggi banget harganya seliter aja udah 25 ribuan. Dulu beli yang 2 liter masih ada aja yg di bawah 40, eh sekarang udah 48 ribu 2 liter. Mau beli yg Minyakita malah harganya sama mahal banget, yang seliter biasanya cuma 15-17 ribu, eh ini malah 23 ribu,” ungkapnya, Senin (27/4/2026).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, Mochamad Hardi menjelaskan bahwa kenaikan harga MinyaKita tidak hanya terjadi di wilayahnya, melainkan hampir di seluruh Indonesia. Tercatat, fenomena ini terjadi di sekitar 225 kabupaten/kota, termasuk di Provinsi Banten dan Kota Tangerang Selatan.
“Saat ini terjadi harga minyakkita terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia di 225 kabupaten kota termasuk di Provinsi Banten dan Kota Tangerang Selatan,” ujarnya.
Kata dia, jika mengacu pada keterangan Kementerian Perdagangan dalam rapat pengendalian inflasi pada Senin, 27 April 2026, terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga tersebut.
Baca Juga: Belasan Warga Sesak Nafas Akibat Kebakaran Sampah di Tangsel, Sekolah Diliburkan
Pertama, adanya penurunan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), yaitu kewajiban perusahaan pengekspor minyak kelapa sawit untuk memproduksi MinyaKita sebagai syarat ekspor.
“Akibatnya prooduksi Minyakkita dan ketersediaan stok berkurang di pasaran,” katanya.
Selain itu, kenaikan harga minyak goreng premium juga turut memengaruhi harga MinyaKita. Secara mekanisme pasar, harga minyak bersubsidi ini ikut terdorong naik mengikuti tren harga minyak premium.
Pria yang baru menjabat itu menyampaikan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan saat ini tengah berupaya menambah pasokan MinyaKita dengan melibatkan Perum Bulog dan ID Food, termasuk distribusi melalui Bulog DPC Tangerang.
“Kemendag sedang mengupayakan pemenuhan stok minyak kita melalui perum bulog dan Id food termasuk di bulog DPC Tangerang,” sebutnya.
Berdasarkan data yang diterima, di wilayah Tangerang Selatan sendiri, harga MinyaKita di sejumlah pasar tradisional menunjukkan variasi. Untuk kemasan 1 liter, harga di Pasar Serpong tercatat Rp21.100, Pasar Cimanggis Rp21.000, Pasar Ceger Rp21.600, Pasar Ciputat Rp15.700, Pasar Jengkol Rp15.700, dan Pasar Jombang Rp19.500. Secara rata-rata, harga berada di kisaran Rp19.117.
Baca Juga: Dindikbud Tangsel Buka Ruang Kompromi, Dishub Kaji Amdal Lalin SMPN 25
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah memperpendek rantai distribusi dengan mendorong pedagang menjadi mitra Bulog dan ID Food agar pasokan minyak dapat lebih mudah diakses.
“Memperpendek supply chain, pemenuhan stok dipasaran dengan mendorong dan memfasilitasi pedagang untuk menjadi mitra bulog dan ID FOOD agar bisa mendapatkan pasokan minyak kita,” jelasnya.
Selain itu, pengawasan dan pemantauan harga di pasar tradisional maupun ritel terus dilakukan secara intensif. Pemerintah daerah juga berencana menggelar operasi pasar khusus MinyaKita bekerja sama dengan Bulog dan ID Food guna menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan barang di masyarakat.
Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan harga MinyaKita dapat kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat luas. (eko)
























