SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) Kabupaten Serang mencatat selama tiga bulan terakhir telah menerima laporan sebanyak 133 kasus kekerasan seksual pada anak. Kasus tersebut paling banyak ditemukan di Kecamatan WaringinKurung.
Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang, Haerofiatna mengatakan, bahwa belakangan ini kasus kekerasan seksual pada anak memang cukup banyak, bahkan tidak menutup kemungkinan terus bertambah. Karena sekarang ini masyarakat sudah mulai berani melapor.
“Selama tiga bulan terakhir, ada sebanyak 133 kasus kekerasan seksual pada anak, tidak menutup kemungkinan pasti bertambah,” katanya, Selasa (5/5/2026).
Mantan Kepala Dinas Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik (Diskominfosatik) Kabupaten Serang ini menuturkan, dengan banyaknya masyarakat yang angkat bicara terkait dengan kasus kekerasan seksual pada anak, maka pihaknya dengan mudah memberikan bantuan terhadap korban.
“Semakin banyak orang yang Speakup semakin banyak ketahun, tinggal tindaklanjuti action pemerintah daerah memberi bantuan, contoh seperti di Waringinkurung sudah diberikan pendampingan hukum sama pengacara pak Cecep Azhar,” tuturnya.
Haerofiatna mengungkapkan, rata rata korban kasus kekerasan ini merupakan anak anak di bawah usia 18 tahun. Dominasi sebaran kasus tersebut ditemukan di Kecamatan WaringinKurung.
Baca Juga: DKBPPPA Kabupaten Serang Catat Ada 68 Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak
“Faktor utamanya adalah ekonomi, apalagi kondisinya seperti sekarang ini, kemudian gadget juga mempengaruhi, karena mindset yang melakukan atau pelaku berubah ketika main gadget, sedangkan korban kadang kadang tidak peka terhadap hal hal seperti itu,” tuturnya lagi.
Namun untuk mencegah kasus kekerasan seksual terhadap anak, Haerofiatna mengaku telah melakukan berbagai upaya, diantaranya melakukan sosialisasi kepada para pelajar, kemudian mengimbau kecamatan agar kembali menghidupkan kembali operasi yustisi terhadap para pendatang.
“Contoh yang di Waringinkurung itu kan dilakukan oleh orang pendatang, kemudian di Tanara dan dan Tirtayasa juga oleh orang pendatang,” pungkasnya. (sidik)

