SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Kehidupan di pesisir utara (Pantura) Kabupaten Tangerang kerap kali dihadapkan pada dua sisi mata uang: potensi laut yang melimpah dan ancaman abrasi yang terus mengintai. Namun, sebuah narasi baru kini sedang dirancang. Proyek Strategis Nasional (PSN) bertajuk Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa, bersiap mengubah wajah Pantura Kabupaten Tangerang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan.
Langkah ini bukan sekadar membangun benteng beton di atas air. Bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang, megaproyek ini adalah jangkar masa depan untuk menyelamatkan peradaban sekaligus memicu roda ekonomi masyarakat pesisir, jauh lebih dari sekadar penahan ombak.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, menyatakan optimisme tingginya terhadap proyek yang diproyeksikan membentang dari Tangerang, Jakarta, hingga Surabaya ini. Menurutnya, potensi ekonomi Pantura Jawa selama ini menyumbang angka yang sangat signifikan, dan Tangerang tidak boleh kehilangan momentum tersebut.
”Tentu sangat membantu. Karena walau bagaimanapun potensi ekonomi pesisir Jawa itu, sekian persennya disumbang dari daerah panturanya,” ujar Soma Atmaja dengan nada optimis, Sabtu (23/5/2026).
Ia menekankan bahwa Giant Sea Wall dirancang dengan pendekatan multisektoral. Selain melindungi pemukiman warga dari ancaman tenggelam dan abrasi, proyek ini juga memikirkan keberlanjutan ekosistem laut serta nasib para nelayan tradisional. Sektor perikanan dan kelautan yang menjadi urat nadi warga lokal diproyeksikan akan tumbuh lebih modern dan terbarukan.
Tiga Lapis Benteng Pertahanan di Kosambi
Menurut Soma, titik episentrum pembangunan di Tangerang akan berpusat di Kecamatan Kosambi, yang mencakup empat desa dan kelurahan, termasuk Kosambi Barat dan Kosambi Timur. Berdasarkan cetak biru pengembangannya, pesisir Kabupaten Tangerang sepanjang 17 hingga 19 kilometer akan dipagari oleh tiga lapis perlindungan yang memadukan teknologi modern dan kearifan alam.
Lapis pertama dilakukan dengan menggunakan sabuk hijau (greenbelt) mangrove. Tanaman bakau akan ditanam sebagai pagar laut alami guna menjaga ekosistem pesisir.
Lapis kedua adalah breakwater atau pemecah ombak. Ini merupakan tanggul khusus untuk meredam hantaman energi gelombang laut sebelum mencapai daratan. Sementara lapis ketiga adalah tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) itu sendiri, yang menjadi infrastruktur utama sebagai benteng sekaligus jalur konektivitas baru.
Terintegrasi Jalur Tol PIK-Balaraja
Soma Atmaja melanjutkan, satu hal yang membuat proyek ini menjadi motor penggerak ekonomi baru adalah konsep konektivitasnya. Tanggul laut ini tidak akan berdiri terisolasi di tengah laut, melainkan bakal diintegrasikan dengan jaringan transportasi darat yang sudah ada.
Rencananya, infrastruktur ini akan tersambung langsung dengan jaringan jalan Kabupaten Tangerang serta jalur jalan tol di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) hingga ke arah Balaraja. Integrasi ini diharapkan dapat memangkas waktu logistik dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk kelautan lokal.
”Rancangan besar ini tidak dibuat secara terburu-buru. Cetak biru proyek ini didasarkan pada riset mendalam yang melibatkan para ahli oseanografi dan pakar kelautan demi memastikan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan manusia di sekitarnya,” pungkas Soma. (alfian/aditya)