SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, memaknai Iduladha merupakan salah satu hari besar umat Islam, yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah.
Hari raya ini katanya, sering disebut sebagai Hari Raya Kurban karena identik dengan penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, atau unta, bagi umat Muslim yang mampu.
Perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial terhadap sesama manusia.
“Momentum Iduladha juga, bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, menjadikannya salah satu peristiwa penting dalam kehidupan umat Islam di seluruh dunia,” kata Dewi, Senin (25/5/2026).
Bupati Dewi menyampaikan, makna Iduladha tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Dalam ajaran Islam, Nabi Ibrahim menerima wahyu melalui mimpi agar menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Meski perintah tersebut sangat berat, Nabi Ibrahim tetap menjalankannya dengan penuh keimanan. Sementara Nabi Ismail, menunjukkan ketundukan dan keikhlasan luar biasa terhadap perintah Allah.
Ketika proses penyembelihan hendak dilakukan, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba.
“Peristiwa inilah, yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha,” tandasnya.
Kisah tersebut ujar Dewi, mengandung pesan bahwa cinta kepada Allah SWT harus berada di atas segala-galanya, termasuk rasa cinta terhadap harta, keluarga, maupun kepentingan pribadi.
Menurutnya, Iduladha juga mengajarkan setiap manusia perlu belajar berkorban, demi kebaikan yang lebih besar. Pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, pikiran, bahkan ego pribadi.
Dalam kehidupan modern, makna pengorbanan dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti membantu orang tua, berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan, bekerja dengan jujur, serta mendahulukan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi.
Semangat kurban juga, tambahnya, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari memiliki, tetapi juga dari memberi.
Salah satu inti dari Iduladha, ucapnya, adalah keikhlasan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, menunjukkan teladan luar biasa tentang bagaimana menjalankan perintah Allah SWT tanpa keraguan.
Keikhlasan dalam beribadah, menjadi hal penting karena setiap amal tidak hanya dilihat dari bentuknya, tetapi juga niat yang melandasinya.
Dalam Islam, hewan kurban bukan semata-mata soal daging atau jumlah hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dari orang yang melaksanakannya.
Idul Adha menjadi momen refleksi diri agar umat Muslim memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperkuat hubungan antarsesama manusia.
Selain itu, salah satu keistimewaan Iduladha adalah pembagian daging kurban kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkan. Tradisi ini, mencerminkan nilai solidaritas sosial yang sangat kuat dalam Islam.
Di berbagai daerah, pembagian daging kurban sering menjadi momen kebersamaan masyarakat tanpa memandang status sosial.
Semua orang dapat merasakan kebahagiaan dan keberkahan hari raya.
Nilai kepedulian sosial tersebut, menjadi sangat relevan di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil. Iduladha juga, mengingatkan bahwa rezeki yang dimiliki seseorang juga mengandung hak bagi orang lain yang membutuhkan bantuan. (mardiana)