SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Sebuah pertunjukan drama musikal yang memukau berjudul “Di Ujung Pena, Di Ujung Darah: Dari Tinta Perjanjian Menuju Bara Perlawanan” karya/sutradara Parwa Rahayu, akan dipentaskan pada 20 Juni nanti.
Pertunjukan istimewa ini, akan diselenggarakan secara langsung di GOR Cikupa – Pandeglang, dan dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat secara gratis.
Karya panggung ini, tidak berfokus pada interpretasi sejarah baku, melainkan murni merupakan wujud kreativitas alih wahana dari teks manuskrip Babad Banten.
Naskah ini, disajikan ke dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer yang menggabungkan sentuhan opera, simbolisme, dan dramatika panggung yang sangat kuat.
Alur ceritanya, berpusat pada dinamika di Kesultanan Surosowan yang makmur dan kaya akan hasil bumi, di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Fatah, seorang sosok yang dikenal sangat adil dan bijaksana terhadap rakyatnya.
Namun, kemakmuran pesat dari perdagangan rempah-rempah di pelabuhan Banten tersebut, memicu sengketa serta konflik kekuasaan internal yang tragis antara Sultan Abdul Fatah dan putra mahkotanya, Sultan Haji.
Retaknya hubungan keluarga ini, kemudian dimanfaatkan oleh kelicikan VOC yang datang dengan kedok kerja sama dagang untuk mengadu domba dan berujung pada perampasan hak-hak rakyat.
Salah satu daya tarik paling unik dari tata penceritaan drama musikal ini, adalah penggunaan alur cerita berbingkai. Keseluruhan epik tersebut, dituturkan dari sudut pandang Ka Jali, seorang tokoh pelestari dalang Wayang Garing yang di sela-sela rutinitasnya berjualan kopi dan wedang rempah keliling.
Dialog interaktif-nya dengan seorang pengusaha peduli budaya, menjadi jembatan penuturan yang apik untuk merefleksikan nilai-nilai luhur dari manuskrip Babad Banten ke dalam konteks realitas zaman sekarang.
Panggung drama ini juga, akan dihidupkan oleh koreografi tarian warga pelabuhan, interaksi jenaka para mandor dan pekerja pengangkut barang, serta iringan nyanyian paduan suara (koor) yang secara emosional menyuarakan jeritan hati dan bara perlawanan rakyat.
”Masyarakat luas diundang, untuk hadir meramaikan GOR Cikupa – Pandeglang pada tanggal 20 Juni, untuk mengapresiasi dan menikmati langsung alih wahana sastra ini tanpa dipungut biaya apa pun,” ujar Kang Tirta, Kamis (4/6/2026). (mardiana)
