SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie mengklaim angka kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya berhasil ditekan hingga nol sejak tahun 2024 hingga saat ini.
Menurut Benyamin, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang dan sistematis antara pemerintah daerah, petugas kesehatan, serta masyarakat yang secara konsisten menjalankan berbagai program pencegahan DBD.
“Mengendalikan penyakit DBD di Tangerang Selatan itu sudah dilakukan secara sistematis dan lama dimulai dari inisiatif masyarakat sendiri yang menggelontorkan kelompok masyarakat yang namanya juru pemantau jentik (Jumantik),” ujarnya, Kamis (26/6/2026).
Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut merupakan akumulasi kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, lurah, hingga pengurus RT dan RW.
“Hasilnya angka keterjangkitan DBD di Tangerang Selatan terus cenderung menurun yang itu memang tidak bisa kita nolkan, hanya bisa kita batasi. Tetapi yang bisa kita nolkan adalah tingkat kematian akibat DBD nya, sejak 2024 sampai hari ini,” jelasnya.
Benyamin menegaskan bahwa sejak 2024 hingga pertengahan 2026, tidak tercatat kasus kematian akibat DBD di Tangerang Selatan. Menurutnya, kondisi itu tercapai berkat berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie Ajak Hidupkan Nilai Pancasila
Ia berharap gerakan “Satu Rumah Satu Jumantik” terus menjadi kebiasaan dan kesadaran warga dalam memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
Untuk memperkuat gerakan tersebut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga menjalankan program sertifikasi RW Bebas Jentik. Penilaian dilakukan melalui survei mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Ini harus menjadi gerakan bersama. Makanya di Tangerang Selatan kita terbitkan RW bebas jentik diberikan sertifikat, ada silent survei tidak dikasih tau bahwa di RW itu akan dilakukan survei, kita intervensi Alhamdulillah sudah banyak RW kita kita berikan sertifikat,” ungkapnya.
Terkait insentif bagi para kader Jumantik, Benyamin menyebut para kader tidak menuntut penghargaan khusus karena gerakan tersebut lahir dari kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap sehat.
Ia menambahkan, wilayah yang belum mencapai status bebas jentik akan menjadi bahan evaluasi bagi camat, lurah, serta pengurus RW setempat agar upaya pencegahan semakin optimal.
Menjawab target bebas jentik pada 2030, Benyamin mengaku optimistis angka kematian akibat DBD dapat terus ditekan hingga tetap nol. Namun, ia menilai kondisi bebas jentik secara total masih sulit diwujudkan.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Ajak Hilangkan Diskriminasi terhadap ODHA
“Saya optimistis, kalau bebas jentik nyamuk tidak akan, tapi nol kematian angkanya terus kita tekan itu sangat mungkin di Tangerang Selatan,” pungkasnya. (eko)
