SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG — Ketua Lembaga Independen Pemantau Pembangunan (LIPP) Banten, Suherman Pratama, mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pandeglang, mengambil langkah cepat dan tepat, serta tidak abai terhadap kejadian itu.
Kata Herman, kejadian itu sudah berlangsung sejak 6 bulan lalu dan sudah seharusnya mendapat perhatian, serta penanganan dari pihak terkait. Jangan sampai menunggu ada korban, lalu bertindak.
Menurutnya, mereka yang tinggal di Hunian Tetap (Huntap) adalah penyintas tsunami Selat Sunda tahun 2018 silam. Jangan sampai, nanti mereka menjadi korban longsor.
“Harus segera ada penanganan, jangan menunggu, apalagi sampai ada korban nantinya,” tegas Herman, Kamis (25/6/2026).
Mereka yang menetap di Huntap, ujarnya, harus mendapat jaminan keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Karena, rasa trauma atas musibah tsunami beberapa tahun silam-pun, masih belum hilang 100 persen dari ingatan masyarakat.
“Lakukan penanganan optimal, jangan abai apalagi dibiarkan berlarut-larut,” tukasnya.
Baca Juga: Festival Bubur Suro Desa Bandung Pandeglang, Melalui Tradisi Bukti Cinta Terhadap Negeri
Diberitakan sebelumnya, Pembina Boedak Saung Rescue (BSR) Ade Mulyana, mendesak pihak terkait dalam hal ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, bergerak dan respon cepat atas peristiwa longsoran tanah tebing di area Hunian Tetap (Huntap) Kampung Palimping RT 02 RW 03, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.
Karena katanya, kondisi tersebut sudah sangat mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan masyarakat khususnya para penghuni Huntap yang merupakan penyintas bencana tsunami Selat Sunda tahun 2018 silam.
Katanya, perangkat desa, kecamatan dan kabupaten, diharapkan berkoordinasi dengan cepat, serta mengambil langkah tepat dan bijak menindaklanjuti kejadian itu.
“Itu sudah terjadi sejak bulan Januari 2026 lalu, sampai sekarang belum ada langkah antisipatif atau tindakan mitigasi. Sedangkan curah hujan masih terjadi,” kata Ade, Rabu (24/6/2026).
Pengakuan masyarakat sekitar, kejadian itu sudah tersampaikan ke Ketua RT/RW, aparatur desa maupun kecamatan. Namun, entah kendala apa, hingga kini belum ada tindaklanjut.
Pihaknya sangat tidak menginginkan, harus menunggu ada korban terlebih dahulu lalu para pihak terkait bergerak. Seyogyanya, sebelum ada korban, sudah dilakukan tindakan antisipatif.
Baca Juga: Pembina BSR Desak Pemkab Pandeglang Segera Tangani Longsor Tebing Di Huntap Tunggal Jaya
“Laporan dari anggota kami di wilayah Kecamatan Sumur, kikisan longsoran tanah tebing itu semakin mendekat ke pemukiman warga,” tukasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pandeglang, Roni menyatakan, pihaknya sudah menerima laporan kejadian itu.
“Saya sudah tugaskan Bidang SDA dan UPT irigasi, untuk cek ke lokasi,” tandasnya.
Diketahui, sedikitnya 10 Kepala Keluarga (KK) atau kurang lebih 40 jiwa, warga penghuni tetap (Huntap) Kampung Palimping RT 02 RW 03, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, was was dan resah dengan adanya longsoran tanah yang terjadi sejak Januari 2026 lalu.
Informasi yang dihimpun, longsoran tebing dengan ketinggian sekitar 15 meter dan lebar sekitar 50 meter itu, terjadi akibat hujan deras yang kerap mengguyur wilayah sekitar sejak beberapa bulan lalu.
Sayangnya, hingga kini kondisi tersebut belum ada penanganan atau belum ditindaklanjuti oleh pihak terkait, baik Pemerintahan Kecamatan Sumur, maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang.
Seorang warga setempat, Alus (35) menyatakan, hampir setiap malam warga resah dan gelisah, bahkan nyaris tidak tenang saat hendak tidur.
“Mau tidur tenang bagaimana pak, takut ad apa-apa kalau malam. Makanya, sejak longsor di belakang pemukiman kami ini, warga di sini kebingungan dan ingin segera ada tindaklanjut dari pihak terkait,” kata Alus, Selasa (23/6/2026).
Katanya, longsoran itu semakin melebar dan sudah mendekat ke pemukiman warga Huntap, jaraknya sekitar 10 meteran, malah ada yang sudah sekitar 5 meteran.
Warga lainnya, Adnan mengaku, resah dan tidak tenang semenjak terjadi longsoran tanah itu. Bahkan, mau meninggalkan rumah untuk bekerja saja, kebingungan.
“Pagi-pagi biasanya kami (bapak – bapak,red), keluar rumah kerja. Tapi, semenjak terjadi longsoran ini, mau kerja saja khawatir meninggalkan keluarga di rumah,” tukasnya.
Ia juga berharap, ada tindak lanjut segera dari pihak terkait, atas peristiwa tersebut. Sehingga, warga lebih tenang dan nyaman menempati Huntap tersebut. (mardiana)
