SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan membawa isu demokrasi, penegakan hukum, ketahanan pangan, pertahanan, hingga energi ke Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VIII. Forum lima tahunan yang diikuti 87 organisasi kemasyarakatan Islam itu akan digelar di Jakarta pada 24–26 Juli 2026.
“Kongres Umat Islam Indonesia akan dimulai pada Jumat sore dan insya Allah dibuka Presiden Republik Indonesia,” ujar Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Ketua Steering Committee KUII ke-VIII, KH Marsudi Syuhud, mengatakan kongres menjadi ruang bagi organisasi-organisasi Islam untuk menyampaikan gagasan dan masukan mengenai berbagai persoalan bangsa.
“Kritik itu biasa. Kalau nanti di dalam kongres ada masukan-masukan terhadap pemerintah, semuanya bertujuan untuk kemaslahatan bangsa dan rakyat,” kata Marsudi.
KUII VIII akan terdiri atas 21 sidang pleno dan sejumlah sidang komisi. Salah satu agenda utama adalah membahas penguatan demokrasi dan implementasi kedaulatan rakyat dengan menghadirkan Ketua DPR Puan Maharani sebagai narasumber.
Kongres juga akan membahas kebijakan Presiden dan agenda pembangunan nasional di tengah aspirasi masyarakat serta tantangan global. Kepala Kantor Staf Kepresidenan Dudung Abdurrahman dijadwalkan hadir dalam agenda tersebut.
Baca Juga: Mahasiswa Kota Tangerang Tolak Pilkada Lewat DPRD, Nilai Ancam Kedaulatan Rakyat
Adapun isu kekuasaan kehakiman dan penegakan hukum akan dibahas bersama Ketua Mahkamah Agung Sunarto. Marsudi mengatakan forum akan mengkaji sejauh mana hukum diterapkan secara adil.
“Negara itu artinya keteraturan (an-nidhom), bukan kekacauan. Masyarakat madani adalah masyarakat yang taat hukum dan kongres ini akan menelaah sejauh mana hukum telah dilaksanakan secara adil,” ujarnya.
Persoalan politik dan keamanan juga masuk dalam agenda dengan menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago. Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto juga dijadwalkan hadir.
Pada sektor pangan, Marsudi mengatakan kongres akan menguji kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kedaulatan pangan.
“Negara agraris tetapi berasnya masih impor. Itu nanti akan dilihat dan dikritisi oleh para kiai, tokoh-tokoh, dan akademisi,” ujarnya.
Pembahasan ketahanan pangan akan menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Sementara itu, peta jalan pertahanan nasional di tengah dinamika global akan dibahas bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Baca Juga: Pilkada Langsung Konsekuensi Presidensial
Marsudi mengatakan ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan keamanan, tetapi juga mencakup aspek sosial dan budaya.
KUII juga akan membahas tata kelola energi dan sumber daya mineral dengan menghadirkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.
Sebanyak 87 organisasi Islam akan berpartisipasi dalam kongres yang diikuti sekitar 551 peserta. Mereka terdiri atas pimpinan MUI pusat dan daerah, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam tingkat pusat, lembaga filantropi, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan instansi pemerintah.
Marsudi menjelaskan, penyelenggaraan kongres oleh MUI tidak terlepas dari posisinya sebagai rumah besar organisasi-organisasi Islam di Tanah Air.
“Kenapa dilakukan oleh MUI? Karena 87 organisasi Islam minimal itu berada di satu umbrella, satu rumah besar bersatu di dalamnya adalah di rumah besar Majelis Ulama Indonesia,” terang Marsudi.
Rangkaian KUII akan ditutup pada 26 Juli 2026 bersamaan dengan puncak Milad MUI ke-49 di lokasi yang sama. Penutupan dijadwalkan dihadiri Ketua MPR Ahmad Muzani. (rmg/xan)

















