Minggu, 5 Juli 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News

Pilkada Langsung Konsekuensi Presidensial

Oleh Gatot Riswandi Prasetyo
Senin, 5 Jan 2026 09:18 WIB
Rubrik Nasional
Peneliti dan konsultan politik Saiful Mujani. (ISTIMEWA)

Peneliti dan konsultan politik Saiful Mujani. (ISTIMEWA)

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

SATELITNEWS. COM, JAKARTA — Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD kembali menuai penolakan dari kalangan pegiat demokrasi. Mereka menilai pilkada langsung bukan sekadar pilihan teknis, melainkan konsekuensi konstitusional dari sistem presidensial yang dianut Indonesia.

Peneliti dan konsultan politik Saiful Mujani menegaskan, negara dengan sistem presidensial wajib menerapkan mekanisme pemilihan langsung secara konsisten, baik di tingkat nasional maupun daerah. Menurut dia, tidak ada praktik di negara presidensial yang memilih kepala daerah melalui parlemen.

“Dalam konsep sistem presidensial, kalau kita menganut sistem ini maka pada tingkat daerah pun polanya harus sama seperti pemilihan kepala negara, yaitu dengan pemilihan langsung. Itu tidak bisa dihindarkan,” kata Saiful dalam diskusi Kita Tolak Pilkada Tak Langsung di Jakarta, Minggu (4/1)..

Saiful menjelaskan, Indonesia tidak menganut sistem parlementer dan tidak memiliki raja. Karena itu, kepala negara harus dipilih langsung oleh rakyat. Prinsip tersebut, kata dia, otomatis berlaku pula bagi pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota.

“Tidak ada di dunia ini negara yang menganut sistem presidensial tapi di daerahnya seperti gubernur, bupati, dan wali kota dipilih oleh DPRD. Itu tidak ada, dan itu aneh sekali,” ujarnya.

Ia menambahkan, Mahkamah Konstitusi (MK) selama ini telah memperkuat pilkada langsung sebagai bagian dari demokrasi konstitusional. Karena itu, seluruh lembaga negara, termasuk partai politik, seharusnya menjalankan dan menghormati putusan MK yang bersifat final dan mengikat.

Baca Juga: Kajian Sistem Pilkada Masuk Istana, DPR Belum Bergerak

“Kita harus menghormati keputusan MK, kecuali kalau ingin membubarkan MK dan melakukan revolusi amandemen UUD 1945,” tegas Saiful.
Saiful juga mengingatkan, kebijakan politik yang menabrak konstitusi dan mengabaikan aspirasi rakyat tidak akan bertahan lama.

“Kalau menabrak konstitusi dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat, itu tidak akan berkelanjutan dan pasti ambruk. Orde Baru saja akhirnya runtuh karena melawan aspirasi masyarakat,” katanya.

BeritaTerbaru

Program Magang Nasional 2026 Tawarkan Gaji Rp3,5–6 Juta, Diperluas Jadi 150 Ribu Peserta

Program Magang Nasional 2026 Tawarkan Gaji Rp3,5–6 Juta, Diperluas Jadi 150 Ribu Peserta

Selasa, 30 Jun 2026 14:57 WIB
El Nino Bawa Ancaman Berlapis, BMKG: Perkotaan Waspadai ISPA

El Nino Bawa Ancaman Berlapis, BMKG: Perkotaan Waspadai ISPA

Senin, 29 Jun 2026 16:22 WIB
Jaga Rupiah, BI Disuntik Bank Rp281 Triliun

Jaga Rupiah, BI Disuntik Bank Rp281 Triliun

Senin, 29 Jun 2026 16:20 WIB
Hasil Survei Puspoll Indonesia Menunjukkan Tingkat Kepuasan Masyarakat ke Prabowo 64,8 Persen

Hasil Survei Puspoll Indonesia Menunjukkan Tingkat Kepuasan Masyarakat ke Prabowo 64,8 Persen

Minggu, 28 Jun 2026 14:17 WIB

Senada, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengkritik keras narasi yang menyebut pilkada langsung sebagai sistem berbiaya tinggi. Menurut dia, anggapan tersebut keliru dan menyesatkan karena mencampuradukkan persoalan anggaran dengan prinsip demokrasi.

“Jangan salah kaprah. Ketika politisi mengatakan pilkada langsung itu high cost, high cost yang mana? Untuk sistem demokrasi elektoral tidak ada istilah high cost,” ujar Ari.

Ari menilai, pembiayaan pemilu bersifat variabel dan merupakan hasil kesepakatan politik antara lembaga negara. Karena itu, biaya tidak dapat dijadikan alasan untuk menghapus mekanisme pemilihan langsung.

Menurut dia, tingginya biaya politik justru lebih banyak bersumber dari praktik partai politik dan kandidat, termasuk money politics.

Baca Juga: PDI-P Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD

“Biaya besar yang dikeluarkan partai politik, caleg, atau kepala daerah itu urusan mereka. Itu bukan kesalahan sistem pilkada langsung,” ucapnya.

Ari juga menolak perbandingan dengan negara-negara seperti Inggris, Australia, dan India yang kepala daerahnya dipilih parlemen. Ia menegaskan, perbandingan tersebut keliru karena negara-negara itu menganut sistem parlementer.

“Kita ini republik dengan sistem presidensial. Presiden dipilih langsung, dan kepala daerahnya juga harus dipilih langsung oleh rakyat,” katanya.

Lebih lanjut, Ari berpandangan pilkada tidak langsung akan mempersempit hak pilih rakyat. Dalam sistem politik saat ini saja, ruang pilihan publik sudah dibatasi oleh dominasi partai politik dalam menentukan kandidat.

“Separuh hak pilih rakyat itu sebenarnya sudah di partai politik. Kalau pilkada tidak langsung, kedaulatan rakyat makin direduksi,” ujarnya.

Ia menilai berbagai persoalan yang kerap dilekatkan pada pilkada langsung—seperti popularitas kandidat atau konflik sosial—bukanlah persoalan sistem, melainkan akibat perilaku elite politik. Karena itu, perubahan mekanisme pilkada tidak akan menyentuh akar persoalan demokrasi elektoral.

“Akar masalahnya itu partai politik. Perbaikan demokrasi seharusnya difokuskan pada pembenahan aktor politik, bukan dengan mengubah sistem pemilihan langsung,” kata Ari.(rmg/xan)

Tags: demokrasipilkadapresidensial
ShareTweetKirimShareShareKirim

BeritaTerkait

Kejagung Putuskan Tolak Justice Collaborator Sony Sonjaya, Berikut Ini Alasannya
Nasional

Kejagung Putuskan Tolak Justice Collaborator Sony Sonjaya, Berikut Ini Alasannya

Selasa, 23 Jun 2026 17:36 WIB
Jokowi Hormati Keputusan Kejaksaan, Roy Suryo & Tifa Siap Tarung
Nasional

Jokowi Hormati Keputusan Kejaksaan, Roy Suryo & Tifa Siap Tarung

Selasa, 23 Jun 2026 17:31 WIB
Prabowo: NU Tak Pernah Kalah
Nasional

Prabowo: NU Tak Pernah Kalah

Selasa, 23 Jun 2026 17:28 WIB
Purbaya: Harga Pertamax Berpeluang Turun
Nasional

Purbaya: Harga Pertamax Berpeluang Turun

Senin, 22 Jun 2026 16:28 WIB
Listrik Jawa Mulai Stabil, Pemadaman Bergilir Ditekan
Nasional

Listrik Jawa Mulai Stabil, Pemadaman Bergilir Ditekan

Senin, 22 Jun 2026 16:24 WIB
Pembahasan RUU Perampasan Aset Dikebut
Nasional

Pembahasan RUU Perampasan Aset Dikebut

Minggu, 21 Jun 2026 13:12 WIB
UMN HUT Satelit News 2026
SARI ASIH Tangerang HUT Satelit News 2026
PARTAI DEMOKRAT DPRD Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
FRAKSI PDI P DPRD Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISPORABUDPAR Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISPERINDAG Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
DISHUB TANGSEL HUT Satelit News 2026
DINSOS Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
Dinas PERKIM Kabupaten Tangerang HUT Satelit News 2026
BPBD Kota Tangerang HUT Satelit News 2026
PORDA XII PEPARPEDA IX Kota Cilegon
PT LKM WTP KAB TANGERANG
WTP Kab Tangerang

Berita Pilihan

Diduga Tabrak Mobil Bak Terbuka, Pemotor Tewas di Ciputat

Diduga Tabrak Mobil Bak Terbuka, Pemotor Tewas di Ciputat

Senin, 29 Jun 2026 16:27 WIB
Kualitas Udara di Jatiwaringin Memburuk, Warga Diminta Tak Mendekat

Kualitas Udara di Jatiwaringin Memburuk, Warga Diminta Tak Mendekat

Jumat, 3 Jul 2026 07:30 WIB

Wahana Artha Group Beri Pemeriksaan dan Kacamata Gratis untuk 100 Siswa SLBN 3 Jakarta

Jumat, 3 Jul 2026 14:58 WIB
FOTO BERSAMA - Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, Wabup Pandeglang Iing Andri Supriadi, bersama jajaran pejabat Forkopimda,foto bersama usai mengikuti upacara Hari Bhayangkara Ke-80, Rabu (1/7/2026). (ISTIMEWA)

Hari Bhayangkara Ke-80, Ratusan Anggota Polres Pandeglang Penuhi Alun-alun

Rabu, 1 Jul 2026 15:12 WIB

5.000 UMKM Binaan Gajah Tunggal Terima Sertifikat Halal

Senin, 29 Jun 2026 13:37 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.