SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tangerang. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 5.101 warga teridentifikasi positif TBC, penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Dinkes Kabupaten Tangerang pun mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan agar penyebaran penyakit tersebut dapat ditekan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan pihaknya terus meningkatkan upaya screening atau pemeriksaan untuk menemukan kasus TBC sejak dini sepanjang 2026.
Dari upaya tersebut, selama periode Januari hingga Juni 2026 ditemukan sebanyak 5.101 warga yang teridentifikasi positif TBC.
“Sepanjang Januari hingga Juni terdapat 5.101 kasus yang positif TBC,” kata Hendra Tarmizi kepada Satelit News, Kamis (23/7).
Menurut Hendra, peningkatan screening dilakukan untuk menemukan sebanyak mungkin kasus TBC agar pasien dapat segera mendapatkan pengobatan secara cepat dan tepat. Dengan penanganan lebih awal, risiko penularan kepada masyarakat dapat diminimalkan.
Baca Juga: Tersangka Pembunuhan Prajurit TNI di Tangerang Bertambah Jadi 7 Orang
“Target capaian penemuan kasus lebih ditingkatkan agar bisa segera diobati,” katanya.
Meski demikian, angka penemuan kasus TBC pada 2026 ini masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menemukan sebanyak 11.881 kasus positif TBC.
Pada tahun tersebut, wilayah dengan jumlah penemuan kasus TBC terbanyak berada di Kecamatan Mauk, Jayanti, dan Kresek.
“Kecamatan penemuan terbanyak di tahun 2025 lalu adalah Mauk, Jayanti, dan Kresek. Dengan total kasus di tahun 2025 lalu adalah 11.881 kasus,” jelasnya.
Hendra menjelaskan, penyebaran TBC yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis umumnya terjadi melalui udara maupun kontak langsung dengan penderita. Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi faktor risiko penularan.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyebaran TBC, di antaranya rumah dengan ventilasi buruk, kepadatan hunian, daya tahan tubuh rendah, serta kondisi malnutrisi.
Baca Juga: Gerakan Langit Biru, Demokrat Kabupaten Tangerang Bersihkan Kali dan Tanam Pohon
“Penyebabnya macam-macam, bisa tertular melalui udara, serumah dengan penderita TBC, ventilasi rumah buruk, kepadatan hunian, atau daya tahan tubuh rendah dan malnutrisi juga menjadi penyebab tertularnya TBC,” jelasnya.
Hendra mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan penularan TBC. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang juga terus berupaya menekan angka kasus melalui pengobatan maksimal, screening aktif, edukasi, serta sosialisasi kepada masyarakat.
“Saat ini pencarian kasus masih terus dilakukan secara aktif agar dapat ditemukan kasus TBC sedini mungkin dan dilanjutkan dengan pengobatan dan deteksi bagi kontak eratnya,” katanya.
Ia juga mengingatkan warga yang terjangkit TBC agar tidak membuang dahak atau ludah secara sembarangan. Setiap penderita harus menggunakan wadah khusus yang telah diberi desinfektan agar bakteri tidak menyebar dan menular kepada orang lain.
“Setiap batuk ditutup, rumah harus masuk sinar matahari dan punya ventilasi. Jika positif TBC harus meludah ke baskom atau wadah yang diisi air desinfektan,” katanya. (alfian/aditya)

















