SATELITNEWS.COM, LEBAK–Sejumlah anak sekolah di Kampung Somang, Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, terpaksa menumpang perahu bambu untuk menyeberangi sungai saat berangkat maupun pulang sekolah. Kondisi itu terjadi setelah jembatan yang sebelumnya menjadi akses utama warga terendam dan dibongkar.
Perahu bambu sederhana tanpa dilengkapi pengaman tersebut kini menjadi salah satu pilihan warga untuk mempercepat perjalanan. Sebab, jika menggunakan jalur darat, masyarakat harus menempuh jarak lebih jauh dengan kondisi jalan yang rusak parah.
Warga Kampung Somang, Nina, mengatakan setiap kali menyeberang menggunakan perahu sambil membawa sepeda motor, warga biasanya memberikan uang sebesar Rp5 ribu. Sementara bagi anak sekolah, uang yang diberikan ada yang Rp2 ribu. “Setiap nyebrang bayar Rp5 ribu berikut motornya. Kalau anak sekolah ada yang Rp 2 ribu,” kata Nina, kepada SatelitNews.Com, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, warga terpaksa memilih menggunakan perahu karena akses jalan alternatif yang tersedia cukup jauh. Selain harus memutar, kondisi jalan tersebut juga rusak sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat.
Warga berharap jalan yang selama ini dianggap sebagai akses utama dapat segera diperbaiki. Terlebih, menurut warga, sebagian ruas jalan tersebut tidak masuk kawasan rendaman sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai akses darat. “Dulu pernah ada janji ketika kampanye jalan mau diperbaiki tapi sampai sekarang tidak ada,” katanya.
Pelaku usaha penyeberangan perahu sekaligus Ketua RT setempat, Unar, mengatakan uang yang diberikan penumpang bukan merupakan tarif yang dipatok. Warga memberikan uang sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing. “Ini mah keikhlasannya saja. Kalau ada Rp5 ribu, ya Rp5 ribu. Kalau anak sekolah ada yang Rp2 ribu. Tapi kalau tidak punya, ya tidak ngasih,” ujarnya.
Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Tangsel Dikebut, Ditargetkan Rampung 100 Persen Desember
Dalam sehari, Unar mengaku dapat melayani sekitar 100 penumpang. Ketika aktivitas warga sedang ramai, jumlah penumpang yang menggunakan jasa penyeberangan tersebut bisa mencapai 150 orang. “Sehari dapat 100, kalau lagi ramai 150. Penumpangnya warga Kampung Somang, anak sekolah juga,” katanya.
Ia menjelaskan, sebelum menggunakan perahu bambu, warga masih mengandalkan jembatan sebagai akses penghubung. Namun, jembatan tersebut kemudian terendam hingga akhirnya dibongkar. “Tadinya di sini ada jembatan, terus jembatannya terendam lalu dibongkar. Ada jalan ke Sindangsari, tapi harus muter dan kondisi jalannya rusak. Jaraknya juga cukup jauh,” tuturnya.
Unar tidak menampik warga yang bermukim di dua kampung tersebut berada di kawasan yang masuk lahan rendaman. Kondisi tersebut menjadi risiko yang harus ditanggung masyarakat. Meski demikian, saat ini terdapat permukiman warga yang berada di zona aman.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi terhadap persoalan akses tersebut. Perbaikan jalan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat, termasuk anak sekolah, tidak terus bergantung pada perahu bambu untuk menyeberangi sungai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.(mulyana)




















