SATELITNEWS.COM, LEBAK—Surutnya permukaan air Bendungan Karian pada puncak musim kemarau menghadirkan pemandangan yang tak biasa. Kawasan yang selama bertahun-tahun berada di dasar waduk kini kembali memperlihatkan jejak kehidupan lama. Bangunan masjid, ruas jalan kampung, pondasi rumah, hingga hamparan sawah dan ladang bekas permukiman Kampung Somang kembali muncul ke permukaan.
Fenomena yang terjadi di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, itu sontak menjadi perhatian masyarakat. Ratusan warga dari berbagai daerah berdatangan setiap hari untuk menyaksikan langsung kampung yang sempat hilang sejak pembangunan Bendungan Karian. Tidak hanya warga Lebak, pengunjung juga datang dari berbagai daerah di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Turunnya permukaan air waduk diperkirakan mencapai sekitar empat hingga lima meter. Kondisi tersebut membuat bentang alam yang selama ini tertutup air kembali terlihat jelas. Bagi warga yang pernah tinggal di Kampung Somang, pemandangan itu bukan sekadar objek wisata, melainkan perjalanan kembali ke masa lalu yang menyimpan banyak kenangan.
Salah seorang pengunjung asal Jawa Barat, Agan Permana (46), mengaku rela datang bersama istrinya setelah mengetahui kemunculan kembali Kampung Somang dari tayangan televisi dan media sosial. “Awalnya lihat berita di televisi dan media sosial. Karena penasaran akhirnya datang langsung. Ternyata memang unik, kampung yang dulu tenggelam sekarang bisa terlihat lagi,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Menurut Agan, suasana di kawasan Bendungan Karian memiliki daya tarik tersendiri. Selain menawarkan panorama alam, lokasi tersebut juga menyimpan cerita sejarah yang membuat banyak orang penasaran. “Pemandangannya bagus. Bagi masyarakat yang dulu tinggal di sini tentu menjadi momen untuk mengenang kampung halamannya. Kalau dikelola dengan baik, tempat ini juga bisa menjadi wisata lokal yang memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar,” katanya.
Hal senada disampaikan Ilham (34), wisatawan asal Jakarta yang datang bersama istri dan anaknya. Ia menilai fenomena munculnya kembali bekas permukiman di dasar waduk merupakan peristiwa yang jarang terjadi. “Kami memang sengaja datang karena ingin melihat langsung. Fenomena seperti ini tidak setiap tahun bisa disaksikan, jadi cukup menarik,” ujarnya.
Baca Juga: Waduk Karian Lebak Semakin Mengering, Jejak Permukiman Lama Jadi Magnet Wisata
Ilham berharap pemerintah dapat melihat potensi wisata musiman yang muncul akibat surutnya air Bendungan Karian. Menurutnya, keberadaan masyarakat sekitar dapat dilibatkan agar manfaat ekonomi juga dirasakan warga. “Kalau fasilitasnya diperbaiki dan dikelola dengan baik, masyarakat bisa ikut memperoleh penghasilan. Misalnya perahu milik warga dimanfaatkan untuk wisata atau ada pelaku UMKM yang diberdayakan,” katanya.
Kemunculan kembali Kampung Somang menjadi pengingat perjalanan panjang pembangunan Bendungan Karian. Sebelum waduk dibangun, kawasan tersebut merupakan permukiman yang dihuni ratusan keluarga. Seluruh warga kemudian direlokasi untuk mendukung pembangunan bendungan yang kini menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Bendungan Karian sendiri mulai dibangun pada 2015 dan diresmikan pada awal 2024. Infrastruktur tersebut kini memiliki peran penting sebagai penyedia air baku bagi wilayah Banten dan DKI Jakarta, sumber irigasi lahan pertanian, sekaligus pengendali banjir di wilayah hilir.
Di tengah kemarau yang menyebabkan debit air menyusut, dasar waduk yang kembali terbuka menghadirkan kisah berbeda. Kampung Somang memang tidak lagi dihuni, namun jejak-jejaknya seolah menghidupkan kembali kenangan para warganya. Di sisi lain, fenomena langka itu juga membuka peluang tumbuhnya wisata musiman yang dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat di sekitar Bendungan Karian. (mulyana)



















