SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Kemarau panjang yang diduga diperparah fenomena El Nino masih membayangi sektor pertanian di Kabupaten Tangerang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat sekitar 43 hektare lahan pertanian berpotensi mengalami puso atau gagal panen. Lahan yang terancam tersebut tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan kondisi kemarau hingga kini masih berlangsung. Meski hujan sempat turun di beberapa wilayah, intensitasnya belum merata sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
“Berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Pertanian, potensi puso atau gagal panen itu sekitar 43 hektare, tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa yang berada di Kabupaten Tangerang,” kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, kepada Satelit News, Rabu (5/8).
Menurut Taufik, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi ancaman gagal panen. Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), pemerintah menyiapkan 8,9 ton benih pengganti bagi petani yang mengalami puso. Selain itu, distribusi mesin pompa air dan perbaikan drainase juga dilakukan untuk membantu menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
“Langkah-langkah yang dilakukan Pemda sendiri yaitu menyiapkan 8,9 ton benih pengganti,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Sahri, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya lahan pertanian yang benar-benar mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Sampai saat ini belum ada laporan terkait luas lahan yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Ancaman kegagalan panen tidak hanya dari kemarau, tetapi bisa juga dari hama dan penyakit,” kata Sahri.
Meski demikian, DPKP terus melakukan berbagai upaya pencegahan untuk menghadapi ancaman kekeringan selama musim kemarau. Salah satunya dengan memetakan sumber-sumber air potensial, termasuk bekas galian pasir di wilayah selatan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air, serta memfasilitasinya dengan pompa air.
Selain itu, DPKP juga telah memetakan wilayah rawan kekeringan, memanfaatkan data BMKG sebagai acuan jadwal tanam, melakukan sosialisasi kepada petani, menyiagakan brigade alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa pompa air, membersihkan saluran irigasi, serta menyiapkan bantuan benih apabila terjadi puso.
“Kami telah memetakan wilayah rawan kekeringan, memanfaatkan data BMKG untuk jadwal tanam, melakukan sosialisasi, menyiagakan brigade alsintan (pompa air), membersihkan saluran irigasi, serta menyiapkan bantuan benih jika terjadi gagal panen (puso),” jelas Sahri. (alfian/aditya)




















